Perpisahan Cinta
Cerpen: Agust GT Sumur tua di Wae Sugi kini tinggal kenangan. Sumur sedalam duapuluh meter itu pernah memberikan air kehidupan kepada orang-orang yang bermukim di Malapedho. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih tetapi juga untuk mandi dan memberi minum ternak kuda. Sumur itu telah ditimbun oleh tuan tanah puluhan tahun lalu. Sejak kampung itu mendapat berkat air leding dari Waebhobho kehadiran sumur itu tak dimanfaatkan lagi. Dan suatu hari di November 2015 aku duduk pada bekas beton bibir sumur itu. Aku tak tahu apa sebab orang menamakan sumur itu Wae Sugi. Mungkin karena seorang tua bernama Sugi yang menemukan sumber air dan memrakarsai penggalian sumur itu secara manual. Lalu untuk mengenang jasanya orang memberi nama sumur itu Wae Sugi. Entahlah, aku sendiri tak pernah mendengar tutur lisan tentang sejarah sumur itu. Yang paling penting dari sumur Wae Sugi itu adalah aku mendapat segenggam waktu mengkh...