Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen Rohani

Ibu

Gambar
Cerpen: Agust GT Kutatap wajah ibu yang terbaring di ranjang. Perempuan itu  sudah sangat tua. Seluruh helai rambutnya  sudah memutih. Wajah yang keriput memang tak bisa menyembunyikan fakta bahwa ibu sudah dimakan usia. Ibu kini memasuki usia sembilanpuluh tahun. Ia  sudah tak bisa  berjalan. Ia hanya terbaring atau duduk di ranjang. Tetapi yang membuat aku kagum adalah ibu masih bisa mengenali  siapa saja. Ia masih bisa melihat dengan sempurna. Meskipun terbaring  tangannya selalu menggenggam rosario. Kalau ia tidak tidur aku bisa melihat bahwa bibir ibu komat kamit. Dan jari-jarinya  berpindah dari biji rosario yang satu ke biji rosario yang lain. Aku tahu ibu  berdoa rosario. Sejak  muda ibu memang aktif di Legio Maria. Ibu sangat aktif dalam kegiatan rohani. Dari perkawinan dengan ayah ibu melahirkan  empat anak. Yang sulung laki-laki meninggal  di usia 20 tahun saat aku belum lahir. Anak kedua  kak Su...

Ayahku

Gambar
Cerpen: Agust GT Seandainya ayah memiliki selembar hati putih mungkin perasaan dengkiku padanya tidak seperti yang kualami sekarang.Seandainya mata hati ayah tidak buta pasti ia akan melihat penderitaan mama yang harus membesarkan  delapan anak sendirian. Seandainya ayah tidak tergila-gila dengan perempuan lain, di saat sakit-sakitan begini ia tidak perlu terbuang.Tapi semua terjadi. Entah siapa yang angkuh, ayah  atau mama? Tapi bagiku ibu adalah malekat. Ia penyelemat. Sedang ayah? Kini ayah terkapar di sebuah rumah sakit. Mengapa  di saat ia jatuh dan ditinggalkan perempuan yang pernah merebutnya dari mama, ia kembali ke pelukan mama. Dan mengapa mama menerimanya?  Aku tak habis pikir  bagaimana jalan pikiran mama. Aku heran pada mama yang dengan tangan terentang  menerima kehadiran ayah. Aku geram melihat tingkah mama  yang membawa ayah ke sebuah rumah sakit elit di kota Denpasar. Aku heran  mama  tak memasalahkan ...

Anak Titipan Tuhan

Gambar
Cerpen: Agust GT Aku menatap  foto  yang tergantung di dinding  kamar. Foto  lengkap dengan pakaian kebesaran sebagai seorang imam. Foto yang  tersimpan apik pada pigura berwarna kuning berukuran 60 centimeter  kali 40 centimeter. Foto itu  seolah tersenyum padaku  setiap saat. Biasanya  aku memandangnya  sejenak lalu berdoa, Tuhan beri ia kekuatan dan kesetiaan untuk bekerja di ladang anggur sampai  tiba saatnya Engkau panggil ia kembali kepadaMu. Entah mengapa  malamini aku secara khusus  memandang potret anakku semata wayang. Tak terasa malam ini ia sudah sepuluh tahun  menyerahkan hidupnya  sebagai pelayan Tuhan. Sepuluh tahun juga ia berkarya di sebuah negara  di Afrika jauh dariku. Tapi aku bahagia  karena  baru saja tadi sore  ia menelpon. Ia mengabarkan dirinya baik-baik saja. “ Mama, aku baik-baik saja. Orang-orang di Afrika  sedang merayakan sepuluh tahun imamatku. ...