Cinta Hitam Putih
Cerpen:
Agust GT
Pertemuan
kami di Pantai Tebhobero, sebuah pantai di desa Sebowuli, desa yang dulunya
menyatu dengan desa Inerie sungguh mengesankan. Ketika itu aku adalah guru
muda sebuah SMP di kota Kecamatan
Aimere. Dan Romana adalah siswi sebuah
sekolah pendidikan guru di kota Ende. Ia
cantik bahkan tercantik di desa itu.
Kecantikan
Romana menjadi buah bibir. Para muda sebayaku pasti menjadikan Romana sebagai
bahan gossip dimana dua atau tiga orang berkumpul. Bahan gossip atas
kecantikannya. Romana lahir dari rahim perempuan desa yang menikah dengan
laki-laki keturunan Watu dan Bali.Paduan darah lintas suku yang membentuk Romana menjadi gadis jelita. Aku mengenal Romana ketika ia masih
sekolah dasar. Ketika itu ia biasa-biasa saja. Setelah enam tahun aku meninggalkan
kampung karena harus sekolah di
kota aku bertemu kembali dengan Romana.
Ia telah tumbuh menjadi gadis yang
menawan.
Ketika
itu aku berjalan menyusuri pantai dari
Aimere ke Malapedho. Biasanya pada akhir pekan aku selalu pulang ke kampung
Maghilewa menikmati sunyi lereng gunung.
Menikmati segarnya butir-butir air di
Waetena. Dan di Tebhobero, pantai berbatu cadas penuh lukisan alamiah kulihat
Romana duduk pada rindang sebatang pohon pandan laut.
Kedua bola matanya menatap debur ombak
yang liar menjilati batu-batu hitam. Dan ia terkejut ketika tiba-tiba aku sudah
berdiri di hadapannya.
“ Hai,
Romana, apa kabar?” Aku menyapanya. Dan ia menatapku sambil melontarkan senyum
manis.
“ Ai,
kak Tinus, apa kabar kak?”
“
Seperti yang engkau lihat”
“ Hmm,
tambah ganteng saja kakakku ini”
“
Engkau juga semakin cantik”
“ Tidak
ada uang receh kak untuk membayar pujian”
Kami
tertawa lepas. Begitu bebas lepas
sampai burung pipit di atas rindang pandan terbang simpang siur.
Kami
duduk sangat berdekatan pada sebuah batu pantai. Menghadap laut seolah mau menghitung
berapa jumlah batu-batu hitam pekat berukuran kecil maupun besar menjulang angkuh di pantai itu. Dan ada satu bongkahan batu paling besar berbentuk sosok perempuan yang sedang
menghadap ke daratan.
“
Itu batu legenda namanya Watu Bhoko.”
Kataku pada Romana.
“ Oh
ya, aku pernah mendengar nama batu ini. Tapi mengapa diberi nama Watu Bhoko?”
“ Batu
itu berkaitan dengan kisah tragis seorang perempuan cantik bernama Bhoko. Ia
korban dari ketamakan mahluk laut atau yang disebut Nitu Mau.”
Lalu
kami tenggelam dalam nukilan kisah tentang Watu Bhoko. Aku yang mengisahkan dan
Romana menjadi pendengar. Konon ada
seorang perempuan bernama Bhoko. Ia perempuan yang sangat cantik. Ia
sudah bersuami bernama Maja.
Suatu pagi saat air laut surut yang disebut Wula Be, perempuan dan
laki-laki kampung turun ke pantai mencari siput atau mengail ikan. Bhoko dan
suaminya Maja pun termasuk yang turun ke
pantai. Bhoko sibuk mencari siput pada celah-celah bebatuan. Tak sadar tusuk kondenya jatuh ke celah batu. Ia berusaha
mengambilnya. Ketika jari-jarinya sudah menggenggam tusuk konde Bhoko tak
bisa mengeluarkan tangannya. Tetapi ketika ia melepas tusuk konde Bhoko bisa mengeluarkan tangannya.
Sampai
air laut pasang Bhoko masih terus berusaha mengeluarkan tusuk konde emas dari
celah batu. Orang-orang pun sudah menepi ke pinggir pantai. Bhoko pun berjanji
kepada mahluk laut, jika ia melepaskan tusuk konde dibawa pulang ke kampung maka tiga hari lagi ia akan datang mempersembahkan dirinya kepada
mahluk laut. Dan Bhoko pun berhasil
membawa pulang tusuk kondenya. Tetapi tiga hari kemudian Bhoko ingkar
janji. Terjadilah gelombang dasyat dan air laut naik sampai ke kampung. Semua tanaman rusak oleh
ganasnya gelombang yang dasyat seperti tsunami. Orang-orang kampung pun
mendesak Bhoko agar ia segera
menyerahkan diri ke mahluk laut yang jahat itu.
Penghuni
kampung pun sibuk menyiapkan makanan persembahan. Lalu pada hari ketika warga kampung
mengantar Bhoko ke pantai
Tebhobero. Maja suaminya pun ikut mengantar dengan hati sedih. Maja tak
henti-hentinya menangisi perpisahan dengan istrinya Bhoko. Dan di pantai
Tebhobero itu semuanya berakhir. Bhoko
mempersembahkan dirinya, melangkah ke
tengah laut hingga ujung rambutnya hilang ditelah laut. Terjadi sebuah gelombang
dasyat yang mengubah Bhoko menjadi batu.
Lalu satu hempasan ombak memuntahkan kepingan-kepingan emas di pantai serta sebuah hiasan emas bernama Meko. Keluarga
Bhoko pun memungut pemberian itu sebagai mahar pengganti Bhoko. Maja semakin sedih, menangis pedih dan akhirnya
berubah menjadi batu. Kini orang menamai
kedua batu itu dengan nama Watu Bhoko
dan Watu Maja.
“ Pasti
bukan kisah nyata ya kak Tinus.” Suara
Romana terdengar bening antara
desiran ombak pantai.
“ Ini
cuma legenda. Tetapi maknanya, setiap perkawinan pasti selalu ada halangan, ada cobaan, ada godaan.
Yang kuat akan berhasil membawa perkawinan
langgeng meskipun mungkin penuh pengkhianatan.”
“
Semoga bukan aku yang mengalaminya.”
Romana tersenyum menatapku. Air laut pun pasang hingga menjilati telapak kaki
Romana yang mulus.
Ini
sepenggal kisah yang masih kuingat dan telah terjadi sepuluh tahun silam. Kisah
selanjutnya adalah aku dan Romana lalu mengikat sumpah dan janji sebagai suami
istri di Gereja Santo Fransiskus Asisi dan Santa Clara Aimere. Dua tahun kemudian putra sulungku
lahir. Tahun ketiga keluargaku seolah mendapat berkat. Aku menjadi salah satu
dari 100 guru NTT yang mendapat bea siswa melanjutkan studi di luar
Flores. Boleh pilih di Jawa atau Bali. Terserah mau memilih perguruan tinggi
mana dan di kota mana.
“ Kak
harus memanfaatkan kesempatan ini. Jangan sia-siakan. Jalan hidup seseorang tak
ada yang tahu. Tetapi aku yakin semakin
tinggi pendidikan, semakin terbuka peluang untuk jauh lebih maju dan lebih
mudah menggapai impian.” Ini kata-kata Romana mengomentari kesempatan yang aku
dapatkan.
“ Tapi
waktu empat atau lima tahun kuliah di Jawa
bukan waktu yang singkat.”
“ Kalau
mau maju harus ada pengorbanan.” Romana
menatapku. Dua bola matanya pasrah. Ia memberiku kekuatan untuk berani
mengambil keputusan. Dan akupun berangkat ke tanah Bali, ke kota tujuan Denpasar.
Jauh
dari istri, hidup di sebuah kota yang jauh lebih modern membuatku terlena.
Setahun di Denpasar aku masih mengirim surat kepada Romana hampir setiap
bulan. Tetapi tahun-tahun berikutnya aku
jarang menulis surat bahkan berakhir
dengan tidak sama sekali. Aku benar-benar lupa bahwa
di Aimere ada Romana yang sendiri membesarkan anakku Titiancinta. Romana masih terus rajin menulis surat untukku di Denpasar. Ketika itu tak ada
handphone, email atau facebook seperti masa sekarang.
Usai
meraih gelar sarjana aku memutuskan tak
pulang lagi ke Aimere. Aku pun bekerja
sebagai jurnalis pada sebuah
media lokal yang terbit Denpasar. Dan
aku jatuh di pelukan seorang janda kaya raya. Hidup satu rumah tanpa
ikatan perkawinan. Semua kebutuhan hidup terpenuhi. Apapun yang aku inginkan
dapat terpenuhi. Bahkan untuk mencari kepuasan di luar rumah aku tak mengalami kesulitan apapun. Hidupku
sudah sangat berubah. Aku tak pernah sadar lagi
bahwa aku memiliki istri dari
pernikahan sakramental dan seorang anak
titipan Tuhan.
Tahun
ke sepuluh aku menerima surat dari
Romana. Surat bernada kecewa, marah, benci dan dendam. Surat terakhir yang membangun jurang menganga antara aku dan
Romana. Isi surat yang menyayat hati tetapi tak mampu meluluhkan hatiku yang
sudah berubah seperti sebongkah batu. Kak, kutulis surat ini untuk yang
terakhir kalinya karena setelah itu, aku punya pilihan hidup sama seperti yang
kau lakukan. Surat ini sekedar mengingatkan pertemuan kita di Pantai Tebhobero,
tentang kisah perempuan bernama Bhoko dan suaminya Maja yang setia dalam
peristiwa penuh kehilangan. Sekedar
mengingatkan bahwa janji perkawinan kita di gereja akhirnya kau khianati dan
kini setelah sepuluh tahun akulah yang mengkhianati. Sekedar mengingatkan bahwa
Titiancinta sudah berusia tujuh tahun dan ia sudah tahu bahwa ayahnya berselingkuh dan
kini ia tahu pula bahwa ibunya pun berselingkuh.
Sekedar
mengingatkan bahwa orang-orang di kampung ini memandang kita sebagai mahluk yang paling hina. Kau
beruntung kak, karena kau jauh tetapi aku di sini, aku seperti berjalan
telanjang dan seribu mata melototi tubuh dan jiwaku yang kusam. Sekedar kau tahu
bahwa Titiancinta harus menerima seorang adik dari rahim ibunya yang tidak
ditanam oleh ayahnya yang pernah
mengumbar janji manis di depan altar. Ah kak, janjimu indah semanis
hati, kini berbalik menodai kata hati. Aku telah kehilangan kata-kata untuk meneruskan
surat ini. Hatiku luka, jiwaku merana. Penyesalan sudah tak ada gunanya.
Berkeluh kesah pun sudah tak ada manfaat. Sebab ketika aku mengecam kau sebagai laki-laki jahat tak berhati dan
pengkhianat cinta sejati ternyata akupun tak bisa mengendalikan naluri
kewanitaanku. Aku membutuhkannya meski
aku tahu, akhirnya aku sama saja denganmu, sama-sama mengkhianati perkawinan suci.Selamat berpisah
kak. Berdoalah selalu, suatu saat kita kembali ke jalanNya agar boleh bertemu di surga.
Surat
terakhir Romana sungguh menggugat, sungguh menyadarkanku. Betapa kejamnya aku.
Betapa mudahnya aku jatuh dalam godaan
setan. Aku membatin, Romana kau tidak
salah. Kau bukan pengkhianat. Aku tahu kau perempuan baik. Jika kau melakukan perzinahan itu
karena kodratmu sebagai manusia yang membutuhkan sentuhan kebutuhan dimana tak seorangpun
mampu memahaminya. Tetapi apa yang
kulakukan adalah kekejaman, pengkhianatan yang mungkin tak termaafkan.
Tiba-tiba aku rindu Romana, rindu
Titiancinta. Air mataku berderai. Ingin kupeluk mereka berdua, berlutut di hadapannya
dan mencium telapak kaki keduanya seraya memohon maaf atas dosa yang
kuperbuat.
Sejak surat terakhir itu Romana tak lagi menulis surat untukku.
Sampai dunia berubah begitu cepat. Sampai dunia dikuasai dalam genggaman kemajuan teknologi informasi. Dan dari
seorang sahabat di Aimere aku
mendapat nomor kontak Romana. Malam ini
limabelas tahun perkawinan kami yang disia-siakan.
“ Halo,
apa kabar?” Suaraku serak. Dan dari seberang terdengar suara jawaban. Oh, suara yang sangat kukenal.
“
Dengan siapa ini?”
“
Aku…aku”
“ Aku
siapa?”
“
Aku…Tinus”
Sejenak
senyap. Malamku dalam rangkulan hening. Kudengar isakan tangis. Kudengar
sesenggukan. Kudengar ia mendesah, menarik nafas dan memuntahkan dendam.
“ Untuk
apa kak menelponku. Semuanya sudah berakhir. Semuanya sudah hancur. Kesetiaanku
pun hancur. Sudahlah kak, kita jalani hidup masing-masing.”
“ Tidak
ada jalan lain?”
“ Jalan
lain apa lagi? Bejana cinta yang kita bentuk bersama telah pecah berantakan. Untuk
apa lagi?”
“ Kalau
kita membentuknya kembali?”
“ Kak
pikir gampang mengubah pengkhianatan menjadi ketulusan. Kak kira gampang
menghapus noda-noda hitam menjadi putih seputih salju?”
“ Bisa,
kalau kita saling memaafkan.”
“ Ah,
terserah kau saja kak. Aku sudah mati rasa cinta. Sudah tak tersisa lagi.”
“ Yah,
kita memulai lagi. Menabur benih dan sama-sama menjaganya.”
“
Terserah kamu saja”. Suara Romana agak meninggi. Lalu ia mematikan handphone.
Terasa malam ini semakin kelabu. Sejuta tombak menikamku dari berbagai arah.
Suatu
malam aku mengutarakan niatku kepada Tante Lilin teman selingkuhanku di Denpasar.Bahwa sudah saatnya
aku memperbaiki cara hidup. Meluruskan jalan yang bengkok dan kembali ke
jalanNya, jalan hidup sebagai seorang
murid yang pernah diurapi dengan air dan Roh Kudus. Tante Lilin pun tak
keberatan. Toh hubungan kami sudah tak harmonis sejak tiga tahun terakhir.
Aku
memutuskan untuk pulang ke Aimere. Memulai lembaran baru. Kembali ke kehidupan
yang sebenarnya. Meskipun mungkin Romana
sulit menerimaku. Aku tak perduli. Niatku bulat, aku harus pulang dan
memulai jalan hidup yang wajar sebagai murid Tuhan. Maka aku memutuskan
menelpon Romana.
“ Hai
Romana”
“ Apa
lagi yang kak harapkan dariku?”
“
Pemberian maafmu?”
“ Aku
sudah memaafkanmu kak”
“ Aku
tahu, tetapi ada satu hal yang perlu kau
tahu. Besok aku pulang.”
“ Ke
mana?”
“
Aimere”
“ Untuk
apa?”
“ Untuk
membangun kembali istana cinta yang runtuh. Kita berempat akan sama-sama
membangun kembali menjadi istana cinta yang megah.”
“ Berempat?”
“ Yah,
berempat. Aku, engkau dan dua anak kita”
“ Kak
memaafkan aku?”
“ Tak
usah dipersoalkan. Semuanya telah mencapai klimaks.”
Dan
malam ini aku benar-benar berdiri di
depan Romana. Ia masih cantik seperti dulu. Di samping kanannya Titiancinta.
Dan di samping kirinya Mayangrahmawati. Anak-anak titipan Tuhan.
“
Akhirnya kau pulang juga kak. Sayang, kak
pulang setelah kesetiaanku dinodai
bercak-bercak hitam.”
“
Romana, aku lebih hitam darimu. Kini aku sadar bahwa cinta pertama itu sulit untuk dikhianati. Aku
tahu kita berdua pernah ditoreh bercak
noda hitam. Tapi aku percaya dengan saling memaafkan, yang hitam akan menjadi
jauh lebih putih, seputih salju.”
Seolah
kehabisan kata-kata. Kami tenggelam dalam haru. Kami berpelukan. Kami berciuman.
Kutahu kini seluruh noda hitam telah
terhapuskan. Mulai detik ini kami lebih
senang menoreh titik-titik putih dalam
lembaran hidup. Agar di akhir
perjalanan ada kisah indah yang pantas
diwariskan kepada dua anak kami. Dan ketika sampai waktu gong kematian ditabuh,
langkah kami bisa berjalan mulus menuju ke keabadian. Sebab kami telah kembali
menempatkan keluhuran sakramen perkawinan sebagai pilar utama cinta yang masih
terus disempurnakan. Tak ada yang mustahil warna hitam bisa menjadi putih kalau
ada sikap saling memaafkan. Dan itu yang telah kami lakukan. Sungguh, Tuhan itu
baik, kasih setiaNya kekal selama-lamanya.***
Denpasar,
30 November 2015
Setelah
pulang misa pembukaan Yubileum Tahun Kerakiman Ilahi.
*)
Catatan: Cerpen ini murni fiksi. Jika ada kesamaan tempat, nama dan jalan ceritera itu hanya
kebetulan. Tujuan cerpen ini adalah: Sebagai renungan bahwa dalam perkawinan
katolik selalu ada sikap saling memaafkan.
Komentar
Posting Komentar