Minggu Paskah
Cerpen:
Agust GThuru
Sejak menikah aku dan istri memiliki kesukaan yang sama. Hampir semua yang ada
dalam diri kami selalu sama. Tapi yang paling menyolok adalah soal ke gereja.
Kami selalu memilih misa pertama dan di gereja yang sama. Juga tempat duduk selalu di bangku yang sama.
Alasannya sederhana. Di gereja ini kami berpagutan pandang saat aktif
sebagai orang muda katolik. Di gereja
ini pula kami menyudahi masa lajang dengan saling menerimakan sakramen
perkawinan. Di gereja itu pula dua anak kami
dibaptis. Mungkin karena sederet
nostalgia indah itu yang membuat kami sangat terikat dengan gereja itu.
Kebersamaan
itu tercipta dalam kurun waktu limabelas tahun. Waktu yang tidak pendek. Waktu
yang berjalan dengan selingan
warna-warni pengalaman kehidupan. Lembaran indah perkawinan pun ditutup dengan
kematian. Ketika belahan jiwaku harus mendahuluiku karena Tuhan menjemputnya sekaligus untuk menyudahi penderitaannya.
Kematian, rahmat terbesar yang boleh dialami oleh manusia dan kali ini oleh Rosa istriku.
Kenangan
terakhir di gereja itu adalah ketika Rosa dalam fisiknya yang lemah usai
dikemoterapi di RSUP Sanglah minta ke gereja. Kami duduk di bangku yang biasanya kami duduk setiap minggu pagi. Rosa berlutut
mengatupkan tangan dan memejamkan mata. Kami larut dalam doa. Kami minta Tuhan
memperlihatkan mujizat penyembuhan
karena kami percaya mujizat masih ada. Kulihat wajah Rosa cerah secerah
rembulan. Ia memalingkan wajahnya padaku dan menusukku dengan seulas senyum
yang sulit kutangkap maknanya.
“ Aku
pasti pergi kak, pasti…” sekali lagi ia
tersenyum.
“ Aku
iklas dik, iklas.”
“ Tapi
kak jangan sedih. Kelak di bangku ini aku datang dalam wujud orang lain. Itu
belahan jiwa penggantiku.”
Aku tak
terlalu menanggapi kata-kata Rosa. Aku paham mungkin ia sengaja menghiburku.
Atau mungkn karena ia sangat terpengaruh dengan obat-obatan kimiawi yang
menggerogoti tubuhnya sehingga sulit mengendalikan emosi. Tapi keesokan
paginya Rosa benar-benar pergi. Dua hari kemudian umat mendoakannya dalam misa requiem. Setelah
itu tubuhnya dibaringkan di pemakaman Mumbul.
Usai
sudah penderitaan Rosa. Kanker payudara
yang menggerogotinya selama lima
tahun telah mencapai puncak kematian.
Dan aku harus pasrah karena aku
yakin kematian tak akan mampu menghapus semua kenangan apalagi kenangan
manis.Kepergian Rosa selamanya tak menghentikan kebiasaanku ke gereja pada minggu pagi, di gereja yang
sama dan duduk pada bangku yang sama. Dua
anakku punya dunia sendiri. Yang
sulung sedang menyelesaikan pendidikan di Seminari Tinggi sebagai Frater Praja.
Dan putriku yang kedua lebih suka aktif di Putri Altar. Nyaris kami tak pernah duduk bersama saat di gereja.
Aku bersyukur anak-anak memlih jalan yang tepat dan memilih kegiatan yang tak
keliru. Kuharap Tuhan memilih mereka untuk menjadi berarti bagi gerejaNya.
Tak
terasa pula kepergian Rosa sudah lima tahun.Seringkali setiap malam Rosa datang dalam mimpi,
tersenyum lalu seolah seorang psikolog memberikan wejangan. Kata dia, tidak
baik seorang laki-laki hidup sendirian.
Jodohmu sudah ada. Yang diperlukan
adalah mampu melihat dengan mata hati.
“ Kak
lupa ya pada pesanku terakhir?”
“ Pesan
apa, dik?”
“ Kelak
di bangku gereja itu aku akan datang dalam wujud perempuan lain”
“ Ah,
sudahlah dik, aku tak berniat lagi membangun mahligai rumah tangga. Anak-anak
sudah mulai dewasa”
“
Engkau membutuhkan istri, sahabat dan teman di tempat tidur. Itu kodrat
kemanusiaan”.Lalu bayangan Rosa hilang.
Aku terbangun di tengah malam. Merasakan tusukan angin malam kota Denpasar.Hingga pagi datang.
Minggu
pagi, Minggu Paskah. Maria putriku sudah
bangun. Membuatkan segelas kopi. Lalu ia mandi
dan siap-siap ke gereja. Pagi ini
ia mendapat kepercayaan sebagai
penyanyi mazmur. Maria memang
memiliki suara emas warisan suara
ibunya yang juga seorang pelantun
mazmur.
“ Aku
duluan ya ayah. Kopinya sudah
kusediakan. Ingat ayah, jangan terlambat. Nanti bangku depannya duluan terisi
orang. Kasihan itu si mata sendu…”
“
Maksudmu nak?”
“ Ah,
nanti ayah lihat sendiri. Ayah sih, terlalu masa bodoh. Ah sudah ayah, daaaa”.
Maria mendayung sepedanya sekencang angin pagi pulau Bali menyusuri Jalan Hayam
Wuruk hingga sampai ke Kepundung tempat gereja penuh kisah sejarah berada.
Pagi
ini Minggu Paskah. Bangku paling depan nyaris terisi. Untung masih ada satu
tempat dan itu tempatku selama ini.
Perempuan di sampingku menggeser tubuhnya memberiku tempat. Lalu ia
memandangku dan tersenyum. Oh, mata itu, mata bening, mata sendu.Entah mengapa
aku merasa damai berada dekat perempuan itu. Harum tubuhnya persis milik
Rosa. Aku seolah-olah sedang duduk berdua dengan Rosa dan melantunkan doa-doa.
Dan ketika putriku Maria melantunkan mazmur
aku merasa seolah-olah Rosa
sedang ada di sampingku
memperhatikan putrinya yang
mempersembahkan suara emas untuk seribu umat.
Dan misa
paskah pun usai. Satu persatu umat
meninggalkan ruang gereja.Aku
masih terpekur dalam doa. Memohon
perlindungan Tuhan untuk hidup satu
tahun ke depan hingga Paskah tahun berikutnya. Memohon agar Tuhan menurunkan berkah melimpah di
Tahun Kerahiman Ilahi ini.Lalu kubuka mataku. Oh, perempan di sampingku, dia
masih ada. Ia terpekur, tenggelam dalam doa. Dan di sampingku putriku
Maria berdiri menatapku.
Ketika
perempuan itu membuka mata Maria
mengucapkan salam.
“
Selamat pagi ibu guru, selamat pagi mama”
“ Ah,
kamu Maria, ada-ada saja” suara perempuan itu lembut, selembut salju.
“ Ayah,
inilah si mata sendu. Ibu guruku, ibu Relly. Lima tahun lalu kehilangan suami dalam sebuah kecelakaan. Sama seperti
ayah kehilangan mama lima tahun lalu. Tapi haruskah hidup terus berkubang
dalam cinta yang tak mungkin datang lagi? Hidup harus berubah. Ini tahun kerahiman
ilahi. Tahun dimana Tuhan menurunkan mujizatNya.”
“
Maria, maksudmu?” Kataku pada putriku.
Tapi
Maria tak berkata-kata lagi. Ia menggapai telapak tanganku dan telapak tangan Relly.
Mengaturnya agar kami bergenggaman.
“ Aku
ingin ayah dan ibu. Kelak bila kakak
ditahbiskan sebagai imam, ada ayah dan ibu yang mendampingi. Kelak, ketika
aku menikah atau mungkin mengikrarkan kaul sebagai biarawati, ada ayah dan ibu
yang mendoakan”.
Dan
Maria mengecupku lalu mengecup Relly, kemudian melangkah pergi. Aku dan
Relly masih bergenggaman tangan. Kedua
pasang mata kami saling berpagutan.
Kutahu ini mujizat terbesar di Tahun Kerahiman Ilahi ini. Mujizat di minggu
paskah. Terimakasih Tuhan.***
Denpasar,
Minggu Paskah 27 Maret 2016
Komentar
Posting Komentar