Pesan Paus Fransiskus Pada Hari Perdamaian Dunia ke-51 Migran dan Pengungsi: Mereka yang Berziarah Mencari Kedamaian
Paus Fransiskus telah menerbitkan Pesan Hari Perdamaian Dunia ke-51 pada 13 November 2017. Hari Perdamaian Dunia diperingati pada 1 Januari dan pada 1 Januari 2018 adalah peringatan Hari Perdamaian Dunia ke-51.
Pada pesan Hari Perdamaian Dunia ke-51 ini Paus Fransiskus secara khusus membuka mata dunia untuk turut serta prihatin pada masalah pengungsian. Paus Fransiskus paparkan data bahwa saat ini ada 250 juta migran di seluruh dunia dan 22,5 juta diantaranya adalah pengungsi lintas batas Negara. Paus Fransiskus mengajak masyarakat dunia untuk dalam semangat bela rasa, marilah merangkul mereka yang mengungsi, akibat perang dan kelaparan atau yang meninggalkan kampung halaman mereka akibat diskriminasi, persekusi, kemiskinan dan kemerosotan lingkungan hidup.
Paus Fransiskus menjelaskan mengapa banyak terjadi pengungsian lintas Negara. Ia mengatakan orang terpaksa berpindah sebagai salah satu konsekuensi dari perang, konflik, genosida, dan pembersihan etnis yang mengerikan dan tiada henti. Di abad ini konflik bersenjata dan bentuk-bentuk kekerasan terorganisasi lainnya terus memicu orang untuk mengungsi baik dalam batas Negara mereka sendiri maupun melintas batas Negara.
Paus Fransiskus menegaskan perdamaian adalah raja yang memerintahnya dan keadilan adalah prinsip yang mengatur hidup bersama di dalamnya. Paus mengajak umat seluruh dunia untuk mengarahkan pandangan kontemplatif kepada para migran dan pengungsi yang datang dengan membawa keberanian, ketrampilan, energy dan cita-cita serta kekayaan budaya mereka sendiri. Dengan demikian mereka memperkaya budaya bangsa yang menerima mereka.
Bapa suci Fransiskus menegaskan, untuk menawarkan kesempatan bagi pencari suaka, pengungsi, migran dan korban perdagangan manusia untuk menemukan damai yang mereka dambakan, dibutukan empat aksi yang berupa kata kerja yakni: menyambut, melindungi, memberdayakan (memromosikan) dan mengintegrasikan. Paus Fransiskus menyebutnya sebagai empat tonggal aksi.
Menyambut mengandung seruan untuk memperluas jalur-jalur legal untuk masuk ke suatu Negara dan tidak lagi menjerumuskan migran dan mereka yang terpaksa berpindah ke Negara-negara dimana mereka akan menghadapi persekusi dan kekerasan. Melindungi berkaitan dengan kewajiban kita untuk mengakui dan membela martabat yang tak dapat diganggu gugat dalam diri mereka yang menyelamatkan diri dari bahaya yang sungguh-sungguh nyata, untuk mencari suaka dan rasa aman dan untuk mencegah supaya mereka tidak dieksploitasi. Memberdayakan memerlukan dukungan pada pembangunan manusia seutuhnya para migran dan pengungsi. Dan, mengintegrasikan berarti memperbolehkan pengungsi dan migran untuk ikut serta secara penuh dalam dalam hidup masyarakat yang menyambut mereka sebagai bagian dari proses saling memperkaya dan kerja sama yang berbuah untuk mendukung pembangunan manusia seutuhnya.
Paus Fransiskus berharap agar empat tonggak aksi ini menuntun proses pada tahun 2018 yang mengarahkan PBB untuk menyusun dan menyahkan dua kesepakatan global, pertama, tentang migran yang aman, tertib serta teratur da kedua, tentang pengungsi. Mereka perlu diilhami dengan bela rasa, pandangan ke depan, dan keberanian sehingga dapat mengambil keuntungan dari setiap peluang untuk memajukan proses pembangunan perdamaian. Hanya dengan cara ini realisme yang dibutuhkan oleh politik internasional dihindarkan dari sikap menyerah pada sinisme dan globalisasi ketidakpedulian.
Paus Fransiskus mengajak kita semua, marilah memetik ilham dari kata-kata Santo Yoahnes Paulus II “Jika impian akan dunia yang damai dibagikan oleh semua, jika sumbangan pengungsi dan migran dinilai sebaik-baiknya, maka kemanusiaan dapat menjadi keluarga yang lebih universal dan bumi kita menjadi rumah bersama yang sejati”. Di sepanjang sejarah banyak yang menjadi percaya akan impian ini dan pencapaiannya menjadi tanda bagi fakta bahwa impian tersebut bukan utopia belaka.***
(Disarikan dari Message of His Holines Pope Francis for the Celebration of the 51st World Day of Peace, 1 January 2018, Migran and Refugees: Men and Women in Search of Peace)
Komentar
Posting Komentar