Perpisahan Cinta

Cerpen: Agust GT


Sumur tua di Wae Sugi kini tinggal kenangan. Sumur  sedalam duapuluh meter itu pernah memberikan air kehidupan kepada  orang-orang yang bermukim di Malapedho. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih tetapi juga untuk mandi  dan memberi minum ternak kuda. Sumur itu telah ditimbun oleh tuan tanah puluhan tahun lalu. Sejak kampung itu mendapat berkat air leding dari Waebhobho kehadiran sumur itu tak dimanfaatkan lagi.


Dan suatu hari di November 2015 aku duduk pada bekas beton bibir sumur itu. Aku tak tahu apa sebab orang menamakan  sumur itu Wae Sugi. Mungkin karena seorang tua bernama Sugi yang menemukan sumber air  dan memrakarsai penggalian sumur itu secara manual. Lalu untuk mengenang jasanya  orang memberi nama sumur itu Wae Sugi. Entahlah, aku sendiri tak pernah mendengar tutur lisan tentang sejarah  sumur itu.
Yang paling penting  dari sumur Wae Sugi itu adalah  aku mendapat segenggam waktu mengkhayal sesuatu yang tidak terjadi dan seolah-olah itu terjadi dan menjadi sepenggal kenangan. Seolah menjadi sebuah episode dari perjalanan hidupku yang bagai melata di atas onak duri. Menjadi seolah-olah sejarah hidup yang kutulis pada kertas  hitam kusam. Sejarah hidup dan cinta yang berawal dari sumur ini. Itu tigapuluh tahun silam. Ketika  muda mudi pada senja hari sama-sama  mandi di sumur itu. Dan  pada suatu senja  gadis berambut panjang itu menimba air dan membasuh tubuhnya. Dia gadis yang menggetarkan.
“ Sepertinya nona bukan orang Malapedho?” Tanyaku.
“ Iyah kak. Aku dari pulau seberang. Tugas di sini sebagai bidan desa.”
“ Oh, sudah lama di Malapedho?”
“ Baru tiga bulan. Kakak orang mana?”
“ Aku orang Malapedho ini.”
“ Maaf, soalnya aku baru lihat sekarang.”
“ Oh, aku kuliah di Denpasar Bali.”
“ Ohhh pantasan. Sekarang libur kak?”
“ Sudah selesai.”



Lalu ia menimba lagi air dalam sumur. Dan membasuh tubuhnya. Mandi di tempat yang terbuka  tetap berlaku aturan sopan santun harus selalu berbalut sarung. Namun aku bisa menangkap  kemolekannya. Senyumnya  sungguh menawan. Selesai  mandi ia berkemas untuk meninggalkan  sumur itu. Ketika  ia hendak melangkah pergi aku menyapanya.
“ Maaf ibu bidan  kita belum berkenalan.”
“ Oh ya, sampai lupa. Namaku  Nona.”
“ Gusti” Dan kami bersalaman. Bergenggaman tangan. Terasa hangat. Penuh akrab dalam hiasan senyum yang bermekaran.


Inilah pertemuan pertamaku dengan Nona, gadisyang mengaku dari pulau seberang yang mengabdi di kampungku sebagai ibu bidan. Pertemuan yang berlanjut  dengan pertemuan-pertemuan berikutnya. Pertemuan yang melahirkan benih-benih cinta. Pertemuan yang mengantar kami berdua untuk tak segan-segan mengungkap kata cinta. Pertemuan yang mengantar kami pada pertunanganan  yang dihadiri oleh para petinggi daerah. Dan pertemuan yang mengantar kami ke depan altar gereja untuk saling  mengikrarkan cinta dalam perkawinan sakramental.
“ Apa yang dipersatukan oleh Allah tak boleh diceraikan oleh manusia kecuali oleh kematian.” Pesan Pastor yang menikahkan kami.
“ Kami pasti akan mengingatnya terus Pastor. Kami mau coba setia dalam janji suci ini.” Kataku.
“ Ingat perkawinan adalah pertemuan dua manusia yang datang dari dunianya masing-masing. Kalian harus mampu menjadikan dunia yang berbeda itu menjadi satu dunia  yang sama-sama  memberikan kenyamanan pada kalian.” Pesan Pastor.

Ternyata  kami tidak dapat menyatukan dunia kami  masing-masing yang berbeda itu  menjadi satu dunia yang memberi kenyamanan. Sebab setelah lima tahun pernikahan kami nyaris tak pernah bebas dari pertengkaran. Kata-kata kasar mengalir dari bibir Nona maupun bibirku. Tak ada lagi pendarasan puisi cinta. Rumah kami  seperti  liang batu yang gulita.
“ Aku menyesal pernah  bertemu denganmu dan menikahimu. Seandainya aku tahu kau seperti ini…”
“ Akupun demikian, menyesal pernah bertemu denganmu. Kau laki-laki yang tak punya harga apa-apa lagi di mataku.” Suara Nona benar-benar menusuk jiwa.


Kami  akhirnya menjadi sangat terbiasa  dengan kata cacian, hinaan dan cercaan. Kami pun menjadi tak malu lagi bertengkar di depan orang lain. Bertengkar di rumah, di jalan  atau di depan gereja. Dimana api kemarahan memuncak, di situ kata-kata  melesat dari mulut  seperti nyala api yang menghanguskan. Dan demi membela Nona saudara laki-lakinya nyaris membunuhku. Sampai akhirnya harus berurusan dengan polisi. Ini tentu bukan  suasana hidup yang aku dambakan. Maka suatu malam aku menyampaikan keluh kesahku pada pastor.
“ Pastor, rasanya  perkawinanku  bukan firdaus tetapi ladang penuh onak dan duri, penuh ulat bulu yang membuat  tubuh kami tak nyaman.”
“ Kalian harus bertahan dalam  suka dan duka, untung dan malang.”
“ Sebagai  manusia  aku tak mampu.”
“ Berusahalah untuk berdamai.” Ujar Pastor.

Suasana rumah yang bagai neraka membuatku jarang pulang. Aku pun seperti kehilangan pijakan. Bahkan aku merasa kehilangan diri sendiri. Akhirnya aku mengambil keputusan. Meninggalkan Malapedho. Meninggalkan Nona. Meninggalkan   Putri anakku yang sulung  dan  Putra anakku yang kedua. Berat rasanya meninggalkan  dua anak yang tak berdosa itu. Tetapi  aku tahu kehadiranku di rumah  sudah tak dibutuhkan.
“ Nona, aku   pergi.”
“ Bagus, pergilah segera. Muak aku melihatmu di rumah ini.”
“ Begitu dalamnya rasa bencimu padaku?”
“ Ternyata kau tahu juga. Sudah, tunggu apa lagi, segera angkat kaki dari sini.”

Beberapa saat aku menatap wajah kedua anakku. Memeluk mereka dan mengecup mereka. Lalu melangkah pergi. Aku terpaksa harus membuat sebuah keputusan. Mungkin dengan  itu  bara api rumah tangga  tak lagi melahap dan membakar  tubuh dan jiwa kami masing-masing.Aku memutuskan ke Denpasar. Perjalanan melalui jalan darat ke Labuan Bajo. Lalu menyeberang ke Bima dengan kapal Ferry. Aku benar-benar galau. Rinduku pada Putri dan Putra adalah rindu seorang ayah kepada anak-anaknya. Aku menjadi  tubuh yang pergi membawa beban berat dan jiwa yang melayang penuh luka.

Di atas Ferry  aku menangkap wajah  seorang perempuan. Kedua bola matanya sembab penuh air mata.
“ Maaf  ibu sepertinya  ada masalah.” Ia menatapku. Lalu bulir-bulir air mata berguguran.
“ Ada masalah apa ibu?”
“ Aku diusir suami. Kini aku tidak tahu mau kemana. Aku telah kehilangan harapan.”  Aku tersentak. Ia senasib denganku.
“ Kita senasib. Kita  menjadi orang-orang yang kehilangan harapan.”

Dan sepanjang pelayaran  kami menjadi teman ngobrol. Kami menjadi teman curhat. Kami menjadi teman perjalanan  menyusuri tanah Sumbawa  lalu menyeberang dengan Ferry  ke tanah  Lombok. Kami  menjadi teman  duduk dalam perjalanan menyusuri tanah Lombok  dan saat menyeberang dengan kapal Ferry  menuju Padangbay. Dan kami pun menjadi teman satu kamar  ketika hidup harus dimulai  di kota  Denpasar. Tanpa rasa bahwa aku telah meninggalkan istri dan dua anak  dan Noni meninggalkan suami dan dua anak. Kami hidup layaknya  suami dan istri tanpa ikatan perkawinan. Hidup tanpa ikatan perkawinan selama bertahun-tahun. Sepuluh tahun berkubang dalam hidup  yang penuh beban. Bukan beban memikul salib tanggung jawab  tetapi salib dosa.

Sampai di ujung malam menjelang tahun baru. Sejuta air mataku dan air mata Noni telah menyuburkan lagi iman kami yang layu. Setelah kami sama-sama sadar  betapa jalan yang kami tempuh bukan jalan yang membahagiakan dan memberi jaminan kebahagiaan. Setelah kami  berdua sama-sama meresapkan makna pesan Paus Fransiskus  tentang keluarga.Tidak ada keluarga yang sempurna.Kita tidak punya orang tua yang sempurna,kita tidak sempurna,tidak menikah dengan orang yg sempurna,kita juga tidak memiliki anak yang sempurna.

Kita memiliki keluhan tentang satu sama lain.Kita kecewa dengan satu sama lain.Oleh karena itu,tidak ada pernikahan yang sehatatau keluarga yang sehat tanpa olah pengampunan. Pengampunan adalahpenting untuk kesehatan emosional kitadan kelangsungan hidup spiritual.Tanpa pengampunankeluarga menjadisebuah teater konflik dan benteng keluhan.Tanpa pengampunankeluarga menjadi sakit.

Pengampunan adalahsterilisasi jiwa,penjernihan pikiran dan pembebasan hati.Siapa punyang tidak memaafkantidak memiliki ketenangan jiwa dan persekutuan dengan Allah.Rasa sakit adalahracun yang meracuni dan membunuh.Mempertahankan luka hati adalahtindakan merusak diri sendiri. Ini adalah Autofagi.Dia yang tidak memaafkanmemuakkan fisik, emosional dan spiritual. 

Itulah sebabnyakeluarga harus menjaditempat kehidupan dan bukan tempat kematian, sebuah tempat penyembuhan, bukan tempat penuh dengan penyakit, sebuah panggung pengampunan danbukan panggung rasa bersalah.Pengampunanmembawa sukacitasedangkan kesedihanmembuat hati luka.Dan pengampunanmembawa penyembuhan,sedangkan rasa sakitmenyebabkan penyakit.
“ Noni, kita harus menyudahi jalan sesat ini.”
“ Iyah kak. Kita harus memutuskan  jalan berdebu penuh onak duri ini. Mari kita kembali
melangkah di jalan yang sesungguhnya telah dibangun  untuk kita masing-masing.”

Esok hari  tepat 1 Januari 2016  tahun baru kami ke Bandara Ngurah Rai. Dari sini kami memulai jalan hidup kami masing-masing. Noni telah memutuskan kembali ke suami meskipun mungkin ia akan ditolak. Bagi Noni, cukup mendapat maaf dan pengampunan dari  suami dan anak-anak,itu  sudah membebaskannya dari belenggu. Dan aku kembali ke Malapedho berharap Nona dapat melupakan masa lalu  dan memulai merajut lagi  hidup dalam cinta yang lebih dewasa. Kuharap Nona mau memaafkan dan menerimaku lagi sebagai suami meskipun tetap tidak sempurna  dan menjadi ayah Putri dan Putra  dalam  balutan cinta penuh maaf. Sebab  apa yang dipersatukan Allah tak boleh diceraikan oleh manusia kecuali kematian.***


Denpasar, 31 Desember  2015

*) Cerpen ini fiksi, kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Penyimpanan dan Penghormatan Ekaristi

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua