Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi Doa

DOA SEBATANG LILIN (1)

SEJUTA PEDANG

Oleh: Agust G Thuru Lelaki tua  menunggu di kenisah Bola mata terarah pada  gunung rindu Kapan anak  penuntun bintang berekor Lelap dalam pelukan ibunda Bertandang ke bait Allah? Ia rindu menimang Dengan iringan lagu syukur Menikmati puncak kepuasan Berseru: Biarkan aku menutup mata Sebab aku telah melihat keselamatan Anak kecil yang Kudus Pancarkan mata roh  kuasaNya Pancarkan berkat yang melimpah Lelaki tua  berdebar  dan bernazar Sebilah pedang akan menikam dirimu Jaman terus berlalu sampai kini Sebilah pedang telah berganda Berjuta pedang mencabik  iman Tertancap pada pilar penuh kebencian Mengkhianati kehormatan martabat manusia Tuhan  lihat kami hambamu Menghadapi berjuta pedang penuh kemurkaan Tiada hati yang berbelas kasih Tapi kami tidak takut Sebab Allah kami Allah yang hidup Denpasar, Hari Raya Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

YESUS ENGKAU RAJAKU

Yesus, Engkau Rajaku Akan kuteriakkan   nama-Mu Kudengungkan   kuasa-Mu Engkau Raja semesta alam Menguasai   sejagat dunia Menentukan hidup dan mati Melestarikan bumi dan segala isinya Aku tahu ya Yesus Engkau   memegang segala kuasa Untuk melestarikan atau menyelenyapkan Tetapi kuasa dan kasih-Mu tiada berbatas Engkau akan menyempurnakan ciptaan Membiarkan kami   memiliki segalanya Karena kasih-Mu mengalir tiada henti Kami pun tahu ya Yesus Di sekitar kami berkeliaran musuh-Mu Yang tiada henti berteriak-teriak Seperti kerasukan   membenci-Mu Lalu dengan segala daya   upaya Ingin menyelenyapkan-Mu   Karena menyangsikan   kuasa-Mu Namun iman kami akan tetap teguh Karena kami beriman pada Allah Pada Allah kami yang hidup Allah yang mati dan bangkit Dan dalam kemuliaan   bertahta Sepanjang rentang perjalanan sejarah Engkau kami sembah Sujud pada-Mu dalam kedosaan kami Sebab...

PENANTIAN 1

Tuhan, aku menanti kedatangan-Mu Di tengah perjalanan   yang melelahkan Jalan hidup yang berkelok-kelok Melangkah aku di tanah tak datar Jalan-jalan yang penuh lubang menganga Dan aku berulangkali terperosok jatuh Dalam lembah dosa dan kemunafikan Aku mendengar suara berteriak-teriak Suara itu mengiang di padang gurun Dari lelaki berpakaian kumal Tetapi bibirnya keping-keping emas Berseru: “Luruskan jalan yang bengkok” Aku rebah dalam kesadaran Setelah itu jatuh lagi Lelaki dari rahim Elisabeth Yang melonjak girang di rahim ibunya Ketika ibu-Mu bertandang ke desanya Ia yang berseru-seru di padang gurun Ratakan   jalan yang berlubang Aku runduk pada permenungan Setelah itu jiwaku kembali merana Jalanku berkelok-kelok Kadang aku dekat pada-Mu Dan di waktu lain   aku terbuai Oleh tawaran   kenikmatan duniawi Yang menggoyahkan keteguhan hatiku Untuk percaya seutuhnya pada-Mu Aku senantiasa larut dalam dosa...

KAMI CINTA PERDAMAIAN

Tulang-tulang kalian   para pahlawan Berserakan di seluruh persada Darah telah mengalir lata di tanah leluhur Kalian telah merelahkan jiwa dan raga Untuk mencari titik temu perjuangan Sebuah bangsa yang merdeka Sebab kemerdekaan hak segala bangsa Bangsa ciptaan Tuhan yang sama Perjuangan di medan perang Telah mengharuskan   saling membunuh Nyawa dan martabat menjadi taruhan Perang adalah pertaruhan harga diri Keluhuran   manusia sebagai ciptaan Harus   berakhir   di mulut senjata Pada dentuman mesiu Mati berkanjang tanah Perang adalah jalan terakhir Untuk mencari titik penyelesaian Meski harus mengorbankan nyawa Bersimbah darah dan air mata Membawa api kemalangan Merendahkan martabat kemanusiaan Menciptakan kemiskinan Dan mendatangkan kemelaratan Pertikaian   antar bangsa Adalah jalan buntu yang harus dilalui Bukan semata karena ideologi negara Tetapi karena keangkuhan manusia Yang mening...