Ayahku


Cerpen: Agust GT

Seandainya ayah memiliki selembar hati putih mungkin perasaan dengkiku padanya tidak seperti yang kualami sekarang.Seandainya mata hati ayah tidak buta pasti ia akan melihat penderitaan mama yang harus membesarkan  delapan anak sendirian. Seandainya ayah tidak tergila-gila dengan perempuan lain, di saat sakit-sakitan begini ia tidak perlu terbuang.Tapi semua terjadi. Entah siapa yang angkuh, ayah  atau mama? Tapi bagiku ibu adalah malekat. Ia penyelemat. Sedang ayah?

Kini ayah terkapar di sebuah rumah sakit. Mengapa  di saat ia jatuh dan ditinggalkan perempuan yang pernah merebutnya dari mama, ia kembali ke pelukan mama. Dan mengapa mama menerimanya?  Aku tak habis pikir  bagaimana jalan pikiran mama. Aku heran pada mama yang dengan tangan terentang  menerima kehadiran ayah. Aku geram melihat tingkah mama  yang membawa ayah ke sebuah rumah sakit elit di kota Denpasar. Aku heran  mama  tak memasalahkan bahwa ia akan mengeluarkan biaya untuk merawat laki-laki yang pernah mengkhianatinya.

Semakin aku memikirkan  sikap mama dan kehadiran kembali  ayah, hidupku seperti terlempar ke masa  sepuluh tahun lalu. Ketika aku  berusia limabelas tahun dan duduk di SMA kelas dua. Adikku nomor delapan baru berusia  dua bulan. Ayah yang ketika itu sukses  berbisnis di pariwisata meninggalkan rumah  setelah bertengkar hebat  dengan mama. Aku berpikir itu pertengakaran biasa  sebagai bumbu dalam hidup rumah tangga. Tapi ternyata setelah pertengkaran itu ayah tak pernah pulang lagi.

Saat  ayah dan mama bertengkar  aku dan adik-adik masuk ke dalam kamar. Kami tinggal di sebuah rumah kontrakan yang hanya dua kamar saja, satu untuk ayah dan mama serta adikku  usia dua bulan dan satunya lagi untuk aku dan enam adikku. Tapi aku bisa mendengar  apa yang  ayah dan mama pertengkarkan.
“ Sadar pak, sadar pada janji perkawinan kita. Perkawinan  katolik itu tak terceraikan.”
“ Kalau kita  sudah tak saling cocok apa harus bertahan terus dalam badai ini?”
“ Demi  delapan anak kita. Yah, kita harus bertahan.” Kata-kata mama.
“ Sudahlah, kau urus anak-anakmu. Aku bosan bersamamu.” Kata-kata  ayah yang kudengar terakhir kali.

Setelah itu  rumah kami tak ada lagi pertengkaran. Kulihat  mama pasrah. Mama seperti merelahkan kepergian ayah. Mama tampak sedih tetapi ia seperti Bunda Maria yang menyimpan segala perkara dalam hati. Mama seperti  tak kuatir  akan hari esok tanpa ayah pada hal aku tahu mama hanya bekerja di sebuah  sekolah swasta  sebagai  tenaga honorer  di bagian tata usaha. Tapi  yang selalu kubangga dari mama adalah ia ulet. Ia tak pernah mengeluh di hadapan kami anak-anaknya.
“ Ria, sekarang  ayahmu pergi. Kita berjuang untuk hidup dan masa depan kita. Kita harus tetap hidup nak, yah harus tetap hidup.” Kulihat  bola mata mama berkaca-kaca.
“ Mengapa ayah pergi mama?  Mengapa  ayah tega meninggalkan  kita? Sudah tak punya hatikah  ayah?”
“ Sudah nak, jangan mengeluh. Sekarang  kita harus mengumpulkan kekuatan. Lalu  menebalkan iman. Kita harus yakin bahwa dengan iman sebesar biji sesawi  kita bisa memindahkan sebuah gunung ke tengah samudera.”

Mama benar-benar orang yang sangat optimis. Ia menatap masa depan dan ia tahu bagaimana  bisa menggapainya. Ia tak punya apa-apa  tetapi memiliki satu berkas iman. Kata mama, dengan iman itulah  semua perkara  sesulit apapun  pasti bisa diatasi. Terbukti hari ke hari  hidup keluarga kami berubah. Mama  merintis sebuah usaha  warung. Untung mama aktif di lingkungan dan giat di arisan  ibu-ibu. Mama juga aktif di WKRI. Lalu dengan  dorongan  ibu-ibu lingkungan  mama memberanikan diri membuka  rumah makan.
“ Bu Vene, coba mulai buka warung makan kecil-kecilan. Bu Vene ahli memasak, itu potensi. Manfaatkan potensi  tersebut.”  Kata  Bu Leny suatu waktu.
“ Tapi  aku tak punya modal.”  Jawab mamaku waktu itu.
“ Kalau modal ibu-ibu lingkungan sudah sepakat  nanti bu Vene yang dapat pertama kali.”
“ Aduh ibu-ibu, terimakasih.”

Dan  mama mulai merintis  warung makan. Agar  fokus  pada usaha  baru itu mama mengundurkan diri dari  pekerjaan sebagai tata usaha di sekolah. Mama memang jago memasak. Setiap ada keluarga katolik yang punya hajat  pasti mama yang diminta untuk bertanggungjawab di seksi memasak. Hanya dalam waktu enam bulan usaha mama  sudah maju. Lalu dengan bantuan  seorang ibu lingkungan yang mempunyai  ruko tak terpakai  mama  memperluas rumah makan. Mama memberi nama  rumah makan “Dedelan”.  Itu kependekan dari Demi delapan Anak. Dengan  usaha itulah kami bisa sekolah dengan tenang.


Tak terasa  aku dapat menyelesaikan  sekolah  di SMA  dan lulus  dengan nilai tertinggi  sehingga boleh memilih perguruan tinggi negeri  di mana saja di seluruh Indonesia. Juga boleh memilih fakultas  yang diinginkan. Aku sampaikan pada mama bahwa aku  tertarik menjadi guru. Mama pun sangat mendukung.
“ Aku  pingin jadi guru, mengajar anak-anak masa depan  bangsa  agar mereka  berkarakter. Supaya mereka tidak seperti ayah.”
“ Ah, jangan begitu Ria. Jadilah guru yang tulus  dan bukan karena mau membalas dendam atas perbuatan ayahmu.”
“ Aku bercanda mama.” Kataku.
“ Yah sudah. Kalau soal biaya, jagan takut. Usaha warung kita makin maju. Kita pantas bersyukur. Tuhan itu baik. Ia tak pernah meninggalkan umatNya.”
“ Aku percaya mama. Tapi, aku harus berpisah dengan mama dan adik-adik. Aku harus  ke Undiksha Singaraja.”
“ Tak apa sayang. Toh setiap  Sabtu  bisa ke Denpasar. Ingat, jauh dari mama, jaga iman, rajin berdoa dan merayakan ekaristi  tiap minggu.” Pesan mama.
“ Itu pasti mama, pasti.”

Ketika aku  di semester enam  usaha ibu  makin maju. Ibu membuka cabang di kota Singaraja. Ibu mengontrak  sebuah ruko berlantai dua. Lantai satu untuk warung dan lantai dua untuk tempat tinggal  dua karyawati. Aku pun pindah tinggal bersama dua karyawati mama. Selain kuliah  aku membantu juga di  rumah makan. Aku sangat menghormati  karyawati mama. Mereka orang-orang yang diutus Tuhan untuk mengubah  keluarga kami. Mereka para malekat yang datang memberikan penghiburan dan pengharapan. Kadang-kadang sebulan sekali ibu ke Singaraja dan menginap. Adik-adikku  bisa ditinggal karena adikku yang nomor dua sampai nomor empat  sudah SMA dan SMP. Yang bungsu biasanya  selalu bersama mama karena ia belum sekolah. Mama juga berhasil membeli sebuah rumah sederhana  di Batu Bulan. Semua itu adalah kasih karunia Tuhan.

Mama dan aku serta adik-adik sangat menyadari bahwa apa yang mama peroleh adalah kasih Tuhan. Maka  berbagi  kepada yang membutuhkan selalu kami lakukan. Berdoa penuh syukur setiap malam selalu  kami lakukan. Aku pun bersama dua karyawati mama  selalu berdoa  setiap malam. Kami yakin  doa adalah berbicara dengan Tuhan. Doa bukan saja meminta tetapi bersyukur  atas kasih Tuhan. Setiap malam  mama pasti menelpon.
“ Ria, sudah  berdoa?”
“ Sudah mama.”
“ Ingat nak, jangan lupa doa. Sebab doa itu  spirit, semangat kita. Doa itu makanan utama kita.”
“ Siap mama sayang.” Jawabku melalui telepon.

Sungguh  besar karya Tuhan. Sebab  aku lulus sarjana tepat pada waktunya. Adik-adikku pun lancar  dalam menempuh  pendidikan. Aku merasa Tuhan menurunkan hujan rahmat kepada keluargaku. Sebab setelah itu adikku Albert  bisa menyelesaikan kuliah. Kini  kami harus membawa  empat adik  untuk menggapai masa depan mereka. Dan sampai pada suatu  siang. Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Seorang pria  bertubuh kurus  turun dari mobil dan berjalan tertatih-tatih. Ia  berdiri  di depan pintu.
“ Vene  aku  minta maaf.” Suaranya gemetar dan lemah nyaris tak kedengaran.
“ Nando, kaukah Nando?”
“ Maafkan  aku Vene.” Ia rebah  di kaki mama dan mencium telapak kaki mama. Mama membantunya berdiri dan memapahnya ke dalam.

Entah mengapa  aku muak melihat ayah. Melihat ia datang  di saat kami  sedang menikmati kebahagiaan  tanpa kehadirannya.
“ Buat apa ayah kembali? Setelah ayah puas menelantarkan kami  lalu  ayah kembali? Setelah ayah sakit dan hampir mau mati?”, kata-kataku pedas. Mama memandangku.
“ Ria, jangan bicara seperti itu. Seperti apapun ia ayahmu.”
“ Tapi dia jahat.”
“ Sudahlah, nanti kita selesaikan kalau ada waktu. Sekarang kita bawa  ayah ke rumah sakit.” Ujar mama.

Di rumah sakit  inilah sekarang ayah terbaring. Aku tidak tahu apakah ayah sadar bahwa kelakuannya selama ini  telah melukai sembila orang dekatnya. Mama  mendekatku lalu memeluk. Lalu mama membisikkan kata-kata di telingaku.
“ Barangsiapa yang melakukan kebaikan kepada orang yang hina, itu kamu lakukan untukKu. Itu kata-kata Yesus. Kau ingat kan?”
“ Iyah mama, aku ingat.”
“ Nah, memaafkan itu indah. Memaafkan itu menyembuhkan luka batin. Memaafkan itu membawa damai. Memaafkan itu….”.

Belum selesai mama bicara aku  sudah berlari ke ranjang bapa. Aku menggenggam  telapak tangannya. Aku menciumnya. Aku mengelus rambutnya. Dan kulihat air mata  turun dari kelopak mata  ayah. Aku menghapusnya dengan tanganku. Lalu mencum pipinya.
“ Ayah, maafkan aku.”
“ Ayah yang harus minta maaf nak.”
“ Ayah  harus sembuh, harus sembuh. Kami akan berdoa  supaya ayah sembuh.”

Seketika  luka batinku sembuh. Seketika  cintaku pada  ayah tumbuh. Dan aku berdoa supaya ayah sembuh. Lalu kami boleh merajut lagi  cinta yang hilang  beberapa tahun ini. Memang sulit untuk memaafkan  orang yang telah melukai batin kita. Tetapi  jika kita bercermin pada pribadi Yesus yang memaafkan dengan  sabdaNya “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa  yang mereka perbuat”, tak ada alasan bagiku untuk memaafkan ayah. Ayah, seperti apapun engkau, aku mencintaimu.***

Denpasar Hari Minggu Panggilan,17 April 2016
*Nama-nama dalam cerpen ini fiktif. Kesamaan hanya kebetulan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Penyimpanan dan Penghormatan Ekaristi

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua