Anak Titipan Tuhan
Cerpen:
Agust GT
Aku
menatap foto yang tergantung di dinding kamar. Foto
lengkap dengan pakaian kebesaran sebagai seorang imam. Foto yang tersimpan apik pada pigura berwarna kuning
berukuran 60 centimeter kali 40
centimeter. Foto itu seolah tersenyum
padaku setiap saat. Biasanya aku memandangnya sejenak lalu berdoa, Tuhan beri ia kekuatan
dan kesetiaan untuk bekerja di ladang anggur sampai tiba saatnya Engkau panggil ia kembali
kepadaMu.
Entah
mengapa malamini aku secara khusus memandang potret anakku semata wayang. Tak
terasa malam ini ia sudah sepuluh tahun
menyerahkan hidupnya sebagai
pelayan Tuhan. Sepuluh tahun juga ia berkarya di sebuah negara di Afrika jauh dariku. Tapi aku bahagia karena
baru saja tadi sore ia menelpon.
Ia mengabarkan dirinya baik-baik saja.
“ Mama,
aku baik-baik saja. Orang-orang di Afrika
sedang merayakan sepuluh tahun imamatku. Mama berdoa untukku dan untuk
umatku di sini”
“ Iya nak, pasti. Mama akan selalu mendoakanmu dan
mendoakan umatmu.”
Dengan
mendengar suaranya di HP saja aku sudah
bahagia. Katanya, ia baru akan cuti lima tahun lagi. Rasanya menunggu lima tahun
sangat lama. Itu berarti sejak ia ditahbiskan
ia baru cuti setelah limabelas tahun di negeri orang. Rasanya semua
penderitaan, tantangan, kesulitan-kesulitan di masa lalu terkubur
sudah. Meskipun selalu ada bekas,
selalu terkenang. Seluruh penderitaanku
telah dibayar dengan harga mahal oleh
Sang Pencipta, sumber segala kemurahan, sumber segala kebahagiaan.
Malamini
aku seolah menyusuri kembali kisah-kisah
yang menggetarkan. Menyusuri kembali kisah-kisah yang nyaris
membuat imanku hancur remuk redam. Aku tidak tahu mengapa waktu itu aku berani melawan keinginan
bapak. Aku heran mengapa ketika itu aku
bisa menantang bapak yang adalah tokoh
terhormat di desaku. Kisah itu terjadi tigapuluh lima tahun silam. Ketika
aku duduk di SMA kelas Tiga. Aku
berteman dekat dengan Restu. Aku dan Restu tidak seiman. Suatu malam ia
mengajakku pesta ulang tahun seorang teman. Kami meneguk minuman keras. Dan aku
melayang-layang. Aku mabuk. Pagi harinya aku sadar sudah berada di kamar kos
Restu. Aku sadar, sesuatu telah terjadi padaku. Sesuatu yang tak kuinginkan.
Kulihat Restu yang masih terbaring di sampingku.
“
Restu, apa yang kau lakukan terhadapku?, aku menangis.
“
Sudahlah Nina, kau tenang saja. Nanti kalau ada apa-apa, aku bertanggung
jawab”, itu janji Restu. Janji yang tak
ditepati. Karena setelah dua bulan kami
ujian negara. Restu menghilang dari kehidupanku.
Aku
merasakan ada perubahan dalam diriku. Diam-diam aku memeriksakan diriku ke
dokter. Aku pergi sendiri ke dokter karena aku tak mau ada yang mengetahui hal terburuk yang aku
alami. Dan hal terburuk itu pun terjadi. Aku positif hamil. Aku
benar-benar bagai ditampar oleh tangan
raksasa. Kepalaku seperti ditimpa dengan
martil berkilo-kilo beratnya.
Pulang ke rumah aku mengurung diri dalam
kamar. Ibu yang menangkap perubahan pada diriku
masuk ke dalam kamar. Ia duduk di ranjang memandang aku yang terbaring
dengan tatapan mata kosong ke arah langit-langit kamar.
“ Nin
sayang, ada apa? Kamu sakit?” Tanya mama. Oh, suara mama yang lembut membuatku
makin terperosok dalam kesedihan. Apa yang harus aku katakan pada mama? Akankah aku mampu melukai hati
perempuan yang telah melahirkanku?
“ Ayo
nak, katakan, apa yang membuatmu murung?
Biasanya kamu tuh ceria banget. Mengapa
hari ini berubah?”, tanya mama lagi. Oh, mama, engkau wanita yang mulia. Aku akan melukai hatiku jika aku mengatakan yang sebenarnya.
“ Mama,
aku sudah jatuh…” Aku membenamkan kepala di dada mama.
“
Maksudmu sayang?”
“ Aku
hamil”
“
Nina?”, mama berteriak. Derai air mataku tak terbendung lagi. Kurasakan butir air mata mama membasahi pundakku.
“ Restu
ma, Restu ayah janin dalam perutku”
Ibu tak
berkata-kata lagi. Perempuan itu diam. Matanya menatapku. Air matanya
berderai.Lalu ia memelukku, menciumku. Aku tahu ibu terluka. Tetapi semuanya
sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur.
“ Sebaiknya kita sampaikan pada bapa”
“Aku
takut, ma”
“ Kau
harus berani nak, harus. Kuatkan hatimu”, bujuk mama.
Dan
malam itu menjadi malam yang sangat
mencekam. Malam yang menguju ketahanan iman. Malam yang menggiringku untuk
tetap menjadi ibu dari bayi yang kukandung
atau berubah menjadi
predator yang membunuhnya dengan cara
keji, digugurkan.Dengan gemetar aku bersimpuh di hadapan bapak. Aku berkata
sejujurnya.
“ Aku
hamil, pak”
“ Apa,
hamil? Siapa laki-laki yang melakukannya?”,
Hardik bapa.
“ Restu,
pak.”
“
Dimana dia, dimana rumahnya?”
“ Ia
pergi entah kemana”
Kulihat
bapak diam sejenak. Aku tahu bapak
sangat kecewa dengan perbuatanku yang telah mencoreng nama baik keluarga. Lalu
tiba-tiba bapa dengan tegas mengatakan sesuatu.
“ Besok
ke dukun, gugurkan. Aku tak mau punya cucu yang asal usul keturunannya tidak
jelas”
“ Bapa,
maafkan Nina, maafkan. Biarkan Nina menanggung semua ini. Nina sudah berdosa.
Nina tak mau menambah dosa dengan membunuh
janin yang tak berdosa”
“ Kau
tidak tahu bahwa perbuatanmu ini akan membuat bapa malu. Bapa ini tokoh panutan
warga, tokoh panutan umat, prodiakon. Apa kata orang nanti terhadap bapamu
ini?”
“
Biarkan Nina menanggung semuanya pa. Biarlah Nina pergi dari rumah ini, demi nama baik keluarga”
“
bagus, besok pergi dari rumah ini.”, suara bapa tegas.
Esok
hari aku bersama mama meninggalkan
rumah. Aku dan mama akhirnya tinggal
di kota ini. Mama harus menemani aku selama sembilan bulan sampai aku
melahirkan. Dan ketika Martin telah berusia enam bulan dan dibaptis, mama
pulang ke Jogyakarta. Lalu dari Jogya
mama menelpon bahwa esoknya nanti ada
dek Surti yang akan ke Denpasar untuk menemaniku. Aku berterimakasih dek
Surti benar-benar datang. Ia adalah keponakanku, anak dari bulekku.
“ Mbak
Nina, kamu cari kerja. Biar aku yang merawat Martin.”
“
Serius dek?”
“ Mbak,
aku ini adikmu, massa tak percaya?”
“ Aku
percaya dek.” Aku membatin, Tuhan terimakasih
untuk semua kebaikan, mengirim Surti untuk menjadi pahlawanku.
Kebetulan
di sebuah koperasi kredit membutuhkan
tenaga. Aku mencoba melamar dan aku
diterima sebagai tenaga kasir. Aku
bekerja dengan tekun dan jujur. Bagiku kejujuran adalah modal utama.
Selain dengan kerja aku menerima gaji, bapa dan mama masih tetap mengirim biaya bulanan. Aku anak bungsu dari tiga
bersaudara. Dua kakakku laki-laki sudah
bekerja. Mereka juga sering mengirimku uang.Suatu malam aku mendapat telpon
dari kakaku yang sulung di Australia. Ia kuliah di sana dan setelah selesai ia
bekerja di sebuah perusahaan besar.
“ Nin,
kamu tak berniat kuliah lagi?”
“
memang aku bisa kak?”
“
Mengapa tidak? Ayo kuliah, biayanya
kakak yang talangi. Kalau kamu punya
kemauan pasti ada jalan”
“ Tapi
aku sudah bekerja kak?”
“
Kerjanya dari pagi sampai malam sampai pagi?”
“ Ya
tidaklah.”
“ Jadi
masih ada waktu untuk kuliah kan? Ingat kamu itu adik kesayanganku. Kamu harus
kuliah, titik. Besok aku transfer uangnya.”
Mas
Anton dan Mas Sonny memang sangat menyayangiku. Mereka mendorongku untuk
kuliah. Ketika kukabarkan hal itu kepada bapa dan mama di Jogya mereka sangat
mendukung. Sebab Martin yang sudah mau masuk sekolah dasar ada yang mengurus. Dek Surti benar-benar
sangat telaten. Jadi aku bisa dengan lega memutuskan untuk kuliah lagi di
Warmadewa mengambil program studi akuntansi. Empat tahun aku menyelesaikan sarjana. Lalu dengan
dorongan Mas Anton dan Mas Sonny, kedua kakakku, aku mengambil program magister manajemen.
Tak
terasa Martin sudah ujian akhir di
sekolah dasar. Ia lulus dengan nilai sangat memuaskan. Ketika aku bertanya mau melanjutkan ke SMP mana, Martin sejenak
diam.Lalu ia berkata.
“ Ma,
kalau Martin masuk seminari, mama setuju?”
“ Masuk
seminari? Serius nak?”
“
Serius ma”. Kulihat aura kesungguhan di
wajah anakku. Kupikir, ibu yang bijak jangan membunuh keinginan dan menghalangi
pilihan. Maka aku mengatakan sangat
mendukung.
“ Mama
mendukung, nak.”
Sejak
Martin memilih masuk seminari, sejak
itu aku berpisah dengannya. Ia hidup di sebuah seminari dengan aturannya.
Kupikir setelah menyelesaikan seminari
SMP Martin akan berubah pikiran.
Ternyata dugaanku meleset. Setelah
lulus SMP Martin melanjutkan ke Seminari SMA. Ia harus
meninggalkan Bali dan pergi ke Jawa Tengah. Lagi-lagi aku
berpikir, mungkin Martin akan berubah pikiran setelah ia menyelesaikan SMA.
Ternyata aku meleset lagi. Martin
diterima di sebuah serikat yang mendidik
para imam untuk menjadi misionaris. Frater Martin
menjalani panggilannya seperti air yang mengalir ke muara, tanpa
halangan menapaki jalan.Ia menyelesaikan studi filsafat tepat waktu. Lalu ia
menjalani tahun orientasi pastoral dua tahun. Ia kembali ke seminari tinggi di
Malang belajar teologi. Setelah itu kaul kekal disusul tahbisan diakon dan
puncaknya tahbisan imam. Dengan menyandang
nama Pater Martinus, ia diutus ke Afrika, menjadi misionaris di negeri
itu.
Aku
tersentak ketika pintu kamarku diketuk. Aku membukanya dan tampak dek Surti
tersenyum.
“ Mbak
umat lingkungan sudah pada datang. Kan ini malam ada doa syukuran sepuluh tahun
tahbisan Pater Martin.”
“ Oh
ya, aku hampir lupa.” Sejenak aku
kembali memandang potret Pater Martin
dan membatin. Nak, malamini mama
bersama bulekmu Surti dan umat lingkungan
berkumpul di rumah berdoa untuk syukur atas tahbisan imamatmu. Engkau
baru sepuluh tahun menapaki jalan imamatmu. Jalanmu masih panjang nak. Belajarlah untuk setia di jalan Tuhan
yang telah Tuhan sendiri rancang untukmu
sejak engkau dalam rahim mama. Kutahu engkau
cuma dititipkan Tuhan dalam
rahimku dan ketika tiba saatnya Ia merebutmu
dari genggamanku karena Ia membutuhkanmu untuk pergi dan mewartakan wajah Kristus di negeri yang jauh. Engkau telah melangkah lebih jauh.
Selamat malam Pater Martin, aku mencium potretnya, penuh cinta.***
Denpasar,
4 Mei 2016
*)Cerpen
ini fiksi nama-nama hanya rekayasa, kesamaan adalah kebetulan belaka.

Komentar
Posting Komentar