Ibu
Kutatap
wajah ibu yang terbaring di ranjang. Perempuan itu sudah sangat tua. Seluruh helai
rambutnya sudah memutih. Wajah yang
keriput memang tak bisa menyembunyikan fakta bahwa ibu sudah dimakan usia. Ibu
kini memasuki usia sembilanpuluh tahun. Ia
sudah tak bisa berjalan. Ia hanya
terbaring atau duduk di ranjang.
Tetapi
yang membuat aku kagum adalah ibu masih bisa mengenali siapa saja. Ia masih bisa melihat dengan
sempurna. Meskipun terbaring tangannya
selalu menggenggam rosario. Kalau ia tidak tidur aku bisa melihat bahwa bibir
ibu komat kamit. Dan jari-jarinya
berpindah dari biji rosario yang satu ke biji rosario yang lain. Aku
tahu ibu berdoa rosario. Sejak muda ibu memang aktif di Legio Maria. Ibu
sangat aktif dalam kegiatan rohani.
Dari
perkawinan dengan ayah ibu melahirkan
empat anak. Yang sulung laki-laki meninggal di usia 20 tahun saat aku belum lahir. Anak
kedua kak Suster Maria memilih jalan
hidup membiara sebagai suster. Ia ditugaskan
biaranya berkarya di Papua New
Guinea. Anak ketiga kak Lusia menikah dengan seorang laki-laki penganggur. Ia bekerja sebagai guru di Kota Denpasar. Mengajar matematika
di sebuah sekolah menengah
pertama negeri. Sedang aku sendiri
bungsu. Dengan perginya kakak sulung dalam usia muda maka dalam keluarga
akulah satu-satunya laki-laki. Ayah
meninggal di usia enampuluh tahun. Ia
seorang pensiunan tentara dengan
pangkat terakhir Letnan Dua. Ayah meninggal di saat aku masih duduk di kelas dua SMP.
Yang
kuingat dari ayah adalah ia orang yang sangat disiplin. Ia juga sangat
religius. Ia mengajar kami untuk rajin
berdoa dan menghargai orang lain. Ayah
mengatakan bahwa kami akan mampu
menghargai orang lain kalau mulai dengan menghargai keluarga sendiri. Meskipun
ia seorang tentara tetapi ayah mendidik
kami dengan penuh kelembutan. Aku ingat saat ia sakit dan terbaring di RSUP
Sanglah. Ia meninggalkan pesan yang sangat membekas sampai kini.
“ Rony,
kau anak laki-laki.Kalau ayah pergi kau harus
mampu menjadi ayah untuk ibu dan
kakak-kakakmu. Ingat itu, jangan lupa.”
“
Iyah ayah.” Aku menjawab sambil
menganggukkan kepala. Kulihat ayah tersenyum. Dan tengah malam ayah pergi untuk selamanya.
Dengan
gaji pensiun ayah serta pendapatan dari
usaha toko ibu bisa membiaya pendidikan kami. Kakak suster
bisa menyelesaikan sarjana sebelum ia memutuskan masuk suster. Kakak
Lusia bisa menyelesaikan sarjana di Fakultas Keguruan sebuah perguruan
tinggi di Kota Singaraja. Dan aku dapat
menyelesaikan studi kedokteran di
Fakultas Kedokteran Unud. Ketika kakak Lusia bertemu suaminya sekarang
sesungguhnya ibu tak merestui.
“ Kalau
bisa cari jodoh yang sepadan. Sama-sama
sarjana dan ada pekerjaan.” Nasihat ibu
pada kakak Lusia.
“ Nanti
juga dia bekerja bu. Meskipun ijasahnya cuma SMA tapi ia sangat mencintaiku. Apa lagi kami seiman.”
“ Bukan
soal seiman tapi pekerjaan. Si Lukas itu belum bekerja toh?” Kata-kata ibu menggugah.
“ Kalau
sudah ada anak pasti dia termotivasi untuk bekerja.” Kulihat ibu terdiam sejenak lalu menatap kak Lusia.
“
Akhirnya engkaulah yang menentukan.
Karena soal cinta tak seorangpun boleh
mengatur. Dirimu yang menentukan. Ketika engkau salah memilih, semuanya akan
salah. Ketika engkau memilih dengan tepat, hidupmu akan penuh dengan madu
manis.”
Setelah aku menyelesaikan program spesialis aku mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah
rumah sakit di Kota Jakarta.
Suatu malam aku mengutarakan niat pada
ibu bahwa aku ingin bekerja di Jakarta.
“ Bu,
aku mendapat tawaran bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta. Boleh aku menerima tawaran itu?
Tapi kalau ibu keberatan aku akan membatalkannya.”
“
Mengapa ibu harus melarangmu nak? Kamu itu sudah menjadi diri sendiri. Kamu
punya pilihan hidup sendiri. Kalau itu
keinginanmu, jalankan. Sebab masa
depanmu ada di tanganmu.” Aku memeluk ibu, menciumnya.
Aku
meninggalkan ibu di Denpasar. Aku tak
perlu khawatir karena ibu akan baik-baik saja bersama
kakak Lusia dan suaminya. Aku yakin
kakak Lusia dan suaminya akan memperlakukan ibu seperti seorang anak
terhadap ibunya. Maka dengan tanpa kekhawatiran aku pergi ke Jakarta. Meski
begitu aku selalu menelpon ibu
menanyakan keadaannya. Ibu selalu menjawab
dengan semangat dan mengatakan
bahwa ia baik-baik saja. Lima tahun kemudian aku pulang ke Denpasar
bersama calon istriku. Aku
memperkenalkan Maya kepada ibu. Tampak ibu sangat senang.
“
Segeralah menikah. Umur kamu sudah duapuluh delapan tahun. Kalau menunda
berarti menunda usia.” Kata-kata ibu mendorongku segera menikah.
“ Ibu,
kami pasti segera menikah.” Jawab Maya sambil menggenggam tangan ibu dan menciumnya.
Satu minggu kami berlibur di rumah. Satu minggu pula aku tak bertemu dengan
sosok Mas Lukas. Kak Lusia mengatakan ia
sibuk. Sampai kami pulang ke Jakarta kami tak bertemu dengan Mas Lukas.
Setahun
kemudian aku dan Maya kembali ke
Denpasar. Kali ini sengaja menemui ibu untuk minta restu pernikahan. Ibu tak
berkeberatan. Karena ibu sudah sangat
sepuh ia tak bisa ke Jakarta. Kak Lusia dan suaminya pun tidak menghadiri
perkawinan kami. Kak Suster Maria yang menjadi wali keluarga. Setelah seluruh urusan pernikahan
termasuk resepsi selesai kakak suster Maria kembali ke Papua New Guinea. Aku
kembali dengan rutinitasku sebagai dokter. Sedangkan Maya yang hamil setelah
tiga bulan menikah memutuskan untuk tak bekerja.
Sembilan
bulan kemudian Maya melahirkan seorang putri cantik. Kami memberinya nama Maria Putri Permata. Kakak Suster Maria
sengaja datang dari PNG untuk menengok
keponakannya. Ia minta cuti dua minggu. Satu minggu di Jakarta
dan satu minggu lagi di Denpasar. Suatu malam kakak Suster Maria berbicara dengan kami enam
mata.
“ Dik
kalian berdua tak berniat pulang ke Denpasar?”
Tanya kak Suster Maria.
“ Di
Jakarta ini kerjanya di rumah sakit
elit. Gajinya besar kak.”
“ Oh…
kasihan ibu.”
“
Memangnya kenapa ibu?” Tanyaku.
“ Yah
dik, nanti kamu tahu sendiri. Kalau kamu
tak kembali ke Denpasar, aku yang akan mundur dari biara. Kasihan ibu.”
Air mata kakak suster jatuh berderai.
Aku menangkap ada yang tidak beres
dengan ibu di Bali.
“ Ada
apa kak, apakah ibu sakit?”
“ Ibu
sudah semakin tua. Ia hanya menjadi beban orang lain.”
“ Kakak
Lusia itu anaknya.”
“ Tapi
suaminya orang lain.” Kata kakak Suster.
Dua
bulan berlalu. Kakak Suster Maria menelponku. Ia menceriterakan bahwa ibu mendapat perlakuan kasar dari Mas Lukas. Ibu dipandang mereka
hanya menjadi beban. Mas Lukas maupun
kakak Lusia merasa sangat terbeban
dengan keadaan ibu. Itulah sebabnya
ibu dititipkan di sebuah Panti Wreda.
“ Benar
kakak suster?”
“ Yah,
tapi jangan menyalahkan siapa-siapa. Sekarang saatnya mencari solusi. Ibu harus keluar dari Panti
Wreda. Ia masih punya anak-anak. Mungkin aku yang akan meninggalkan biara demi merawat dan
menemani ibu.”
“ Tidak
bisa begitu kak. Kakak Lusia harus disadarkan bahwa apa yang mereka lakukan itu sangat
memalukan.”
Maya
istriku merampas handphone dariku. Ia lalu
berbicara dengan kak Suster.
“ Kak
Suster, ini Maya. Kakak tidak boleh
meninggalkan biara kecuali kalau kakak merasa tak ada panggilan lagi. Kalau
hanya alasan untuk ibu, kakak jangan lakukan hal itu.” Suara Maya tegas.
“ Tapi
dik, kasihan ibu.”
“ Ada
aku dan Mas Roni.”
“ Tapi
kalian di Jakarta. Ibu di Denpasar. Betapa jauhnya.”
“ Kak,
semuanya akan beres. Minggu ini kami ke Denpasar Bali. Selamat malam kak
suster. Kakak yang tenang ya.”
Aku
menatap wajah Maya. Ia memandangku. Ia
tersenyum. Ia mendekatku. Ia memelukku. Lalu dari bibirnya mengalir kata-kata yang membuatku tertegun.
Mendaraskan kisah hidupnya yang kehilangan orang-orang tercinta saat masih sangat kecil. Ketika ia berusia sepuluh
tahun ayah dan ibunya mengalami
kecelakaan pesawat. Sampai sekarang
jasad keduanya tak ditemukan. Maya lalu masuk di sebuah panti asuhan
katolik. Ia bisa menyelesaikan pendidikan dengan uang asuransi kecelakaan dari
kedua orangtuanya. Bahkan uang asuransi
yang sisa ia hibahkan pada panti asuhan.Bertahun-tahun ia kesepian tanpa
seorang ibu.
“ Kita
pulang ke Denpasar Mas, demi ibu.” Kata Maya sambil memandangku.
“ Tapi
pekerjaanku di Jakarta. Bagaimana kalau engkau yang ke Denpasar. Aku tetap bekerja
di Jakarta.”
“ Mas,
dimana suami berada di situ istri berada. Perkawinan akan langgeng kalau kita menikmati suka dan duka
di saat dan waktu yang selalu bersamaan.”
Sebuah
keputusan besar kami lakukan. Kami menjual rumah yang baru saja kami beli. Kami memutuskan meninggalkan
Jakarta dan kembali ke kota Denpasar.
Bukan karena semata-mata demi ibu, tetapi
demi menemukan cinta seorang perempuan. Di Denpasar kami membeli sebuah rumah sederhana. Dan suatu pagi kami
ke Panti Wreda. Ibu sangat senang melihat kedatangan kami.
“ Mana
cucuku?” Suara ibu sambil berlinang air mata. Maya menyodorkan Maria Putri
Permata. Ibu menyambutnya dengan penuh haru. Ia mencium berkali-kali cucunya itu. Lalu Maya mulai mengutarakan
niat kami.
“ Bu,
kami mau jemput ibu pulang.”
“
Pulang? Pulang ke Jakarta? Tidak usah
nak. Ibu di sini saja. Panti ini sangat nyaman. Ibu ingin tetap di Denpasar.
Dan bila waktunya pergi, aku ingin dekat dengan
ayahmu di Taman Mumbul.”
“ Bukan
ke Jakarta Bu, tetapi di sini Denpasar.” Kulihat ibu sejenak terdiam.
“
Sudahlah, nanti ibu merepotkan kalian.”
“ Tidak
bu, kami tak merasa ibu merepotkan. Kami senang kalau ibu selalu bersama kami.”
Ujar Maya.
Lalu kulihat ibu meluruhkan air mata.Tetapi ibu
sama sekali tak menceriterakan apa yang
ia alami meskipun kami berusaha mengoreknya. Ibu selalu mengatakan tak ada apa-apa yang pernah terjadi dan menyakiti dirinya.
Ibu mengatakan dirinya masuk Panti Wreda
atas kemauan sendiri. Pada hal semua
perlakuan kasar Mas Lukas pada ibu
adalah kenyataan. Mas Lukas yang mencaci
maki mengutuk ibu sebagai manusia yang tak berguna lagi. Bahkan
menyumpahi ibu agar segera mati saja. Tapi kisah pedih itu justru kami dengar
dari tetangga. Bukan dari mulut ibu. Mungkin karena itu ibu tak mau diajak pulang
dan mau tetap tinggal di panti.
“
Percaya bu, kami akan memberikan kasih sayang. Kami ini anak-anak ibu. Kami
juga tidak tinggal di rumah bersama kak
Lusia dan suaminya. Kami telah membeli sebuah rumah di Dalung Permai.
Di situlah bu, kita menjadi keluarga yang utuh, saling mencintai.” Maya membelai rambut putih ibu. Dan ibu pun
menganggukkan kepala.
Tak
terasa waktu berlalu begitu cepat.
Peristiwa ibu kembali dari panti Wreda
di usianya tujuh puluh lima tahun. Kini ibu berusia sembilanpuluh tahun.
Limabelas tahun sudah ibu bersama kami. Sepanjang itu kami memberi perhatian,
cinta dan kasih sayang. Ibu merasakan semuanya itu.Dan hari ini ulang tahun ibu ke sembilanpuluh tahun.Kami
berdoa bersama ibu. Kak suster Maria pun sengaja datang untuk merayakan ulang
tahun ibu.Sengaja kami tak memberitahu
kak Lusia dan suaminya.
“
Terimakasih nak Maya. Engkau anakku yang
tak kulahirkan dari rahimku. Tetapi kau telah memberi perhatian sepenuhnya pada
ibu.”
“ Ibu
yang sehat ya. Kami semua mencintai ibu.” Maya mencium ibu. Aku dan kakak
Suster pun melakukan hal yang sama.
Tiba-tiba
dari pintu yang terbuka kak Lusia berlari ke arah ibu sambil menangis. Ia sujud
di depan ibu. Ia meraih kaki ibu dan mencium telapak kakinya.
“
Maafkan aku ibu. Aku anak durhaka, maafkan aku ibu.” Suara kakak Lusia
terbata-bata.
“ Ibu
sudah memaafkan. Sudah, lupakan saja.”
“
Terimakasih ibu.” Ia memeluk ibu.
“ Mana
suamimu?” Tanya ibu.
“ Dia
dipenjarakan karena terlibat perdagangan narkoba.” Suara kakak Lusia melemah.
“ Ibu
sudah menduga.” Suara ibu merendah lalu meraih kepala kak Lusia dan menciumnya.
Aku
berdiri tertegun. Hatiku berbunga-bunga. Kata-kata doa mengalir dari
sanubariku. Tuhan terimakasih Engkau
memberiku seorang Maya yang limabelas
tahun merawat ibu dengan setia dan penuh cinta. Terimakasih untuk kebekuan keluarga yang kini kembali mencair. Terimakasih untuk
kerja besar RohMu. Karena cinta itu dasyat
dan mampu mengalahkan segala kekuatan jahat. Selamat ulang tahun ibu.
Kami larut dalam bahagia.***
Denpasar,
19 April 2016
*)Nama-nama
fiktif, kesamaan hanya kebetulan belaka.

Komentar
Posting Komentar