Ibu


Cerpen: Agust GT

Kutatap wajah ibu yang terbaring di ranjang. Perempuan itu  sudah sangat tua. Seluruh helai rambutnya  sudah memutih. Wajah yang keriput memang tak bisa menyembunyikan fakta bahwa ibu sudah dimakan usia. Ibu kini memasuki usia sembilanpuluh tahun. Ia  sudah tak bisa  berjalan. Ia hanya terbaring atau duduk di ranjang.
Tetapi yang membuat aku kagum adalah ibu masih bisa mengenali  siapa saja. Ia masih bisa melihat dengan sempurna. Meskipun terbaring  tangannya selalu menggenggam rosario. Kalau ia tidak tidur aku bisa melihat bahwa bibir ibu komat kamit. Dan jari-jarinya  berpindah dari biji rosario yang satu ke biji rosario yang lain. Aku tahu ibu  berdoa rosario. Sejak  muda ibu memang aktif di Legio Maria. Ibu sangat aktif dalam kegiatan rohani.

Dari perkawinan dengan ayah ibu melahirkan  empat anak. Yang sulung laki-laki meninggal  di usia 20 tahun saat aku belum lahir. Anak kedua  kak Suster Maria memilih jalan hidup membiara  sebagai suster. Ia  ditugaskan  biaranya  berkarya di Papua New Guinea. Anak ketiga kak Lusia menikah dengan seorang laki-laki  penganggur. Ia bekerja sebagai guru  di Kota Denpasar. Mengajar  matematika  di sebuah  sekolah menengah pertama negeri. Sedang aku sendiri  bungsu. Dengan perginya kakak sulung dalam usia muda maka dalam keluarga akulah satu-satunya  laki-laki. Ayah meninggal di usia enampuluh tahun. Ia  seorang pensiunan tentara  dengan pangkat terakhir Letnan Dua. Ayah meninggal di saat aku masih  duduk di kelas dua SMP.

Yang kuingat dari ayah adalah ia orang yang sangat disiplin. Ia juga sangat religius. Ia mengajar kami  untuk rajin berdoa dan menghargai  orang lain. Ayah mengatakan bahwa  kami akan mampu menghargai orang lain kalau mulai dengan menghargai keluarga sendiri. Meskipun ia  seorang tentara tetapi ayah mendidik kami dengan penuh kelembutan. Aku ingat saat ia sakit dan terbaring di RSUP Sanglah. Ia meninggalkan pesan yang sangat membekas sampai kini.
“ Rony, kau anak laki-laki.Kalau ayah pergi kau harus  mampu menjadi  ayah untuk ibu dan kakak-kakakmu. Ingat itu, jangan lupa.”
“ Iyah  ayah.” Aku menjawab sambil menganggukkan kepala. Kulihat ayah tersenyum. Dan tengah malam  ayah pergi untuk selamanya.

Dengan gaji pensiun ayah  serta pendapatan dari usaha  toko  ibu bisa membiaya pendidikan kami. Kakak  suster  bisa menyelesaikan sarjana sebelum ia memutuskan masuk suster. Kakak Lusia  bisa menyelesaikan  sarjana di Fakultas Keguruan sebuah perguruan tinggi di Kota Singaraja. Dan aku  dapat menyelesaikan  studi kedokteran di Fakultas Kedokteran Unud. Ketika kakak Lusia bertemu suaminya  sekarang  sesungguhnya  ibu tak merestui.
“ Kalau bisa  cari jodoh yang sepadan. Sama-sama sarjana dan  ada pekerjaan.” Nasihat ibu pada kakak Lusia.
“ Nanti juga dia bekerja bu. Meskipun ijasahnya cuma SMA tapi  ia sangat mencintaiku. Apa lagi kami seiman.”
“ Bukan soal seiman tapi pekerjaan. Si Lukas itu belum bekerja toh?”  Kata-kata ibu menggugah.
“ Kalau sudah ada anak pasti dia termotivasi untuk bekerja.” Kulihat  ibu terdiam sejenak lalu menatap kak Lusia.
“ Akhirnya  engkaulah yang menentukan. Karena soal cinta  tak seorangpun boleh mengatur. Dirimu yang menentukan. Ketika engkau salah memilih, semuanya akan salah. Ketika engkau memilih dengan tepat, hidupmu akan penuh dengan madu manis.”

Setelah  aku menyelesaikan program spesialis  aku mendapat tawaran untuk bekerja  di sebuah  rumah sakit  di Kota Jakarta. Suatu malam  aku mengutarakan niat pada ibu bahwa aku ingin bekerja di Jakarta.
“ Bu, aku mendapat tawaran bekerja di sebuah rumah sakit  di Jakarta. Boleh aku menerima tawaran itu? Tapi kalau ibu keberatan aku akan membatalkannya.”
“ Mengapa ibu harus melarangmu nak? Kamu itu sudah menjadi diri sendiri. Kamu punya pilihan hidup sendiri. Kalau  itu keinginanmu, jalankan. Sebab  masa depanmu ada di tanganmu.” Aku memeluk ibu, menciumnya.

Aku meninggalkan  ibu di Denpasar. Aku tak perlu khawatir  karena  ibu akan baik-baik saja  bersama  kakak Lusia dan suaminya. Aku yakin  kakak Lusia dan suaminya akan memperlakukan ibu seperti seorang anak terhadap ibunya. Maka dengan tanpa kekhawatiran aku pergi ke Jakarta. Meski begitu  aku selalu menelpon ibu menanyakan keadaannya. Ibu selalu menjawab  dengan semangat  dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Lima tahun kemudian aku pulang ke Denpasar bersama  calon istriku. Aku memperkenalkan  Maya  kepada ibu. Tampak  ibu sangat senang.
“ Segeralah menikah. Umur kamu sudah duapuluh delapan tahun. Kalau menunda berarti menunda usia.” Kata-kata ibu mendorongku segera menikah.
“ Ibu, kami pasti segera menikah.” Jawab Maya sambil menggenggam tangan ibu dan menciumnya. Satu minggu kami berlibur di rumah. Satu minggu pula aku tak bertemu dengan sosok Mas Lukas. Kak Lusia  mengatakan ia sibuk. Sampai kami pulang ke Jakarta kami tak bertemu dengan Mas Lukas.

Setahun kemudian  aku dan Maya kembali ke Denpasar. Kali ini sengaja menemui ibu untuk minta restu pernikahan. Ibu tak berkeberatan. Karena ibu  sudah sangat sepuh ia tak bisa ke Jakarta. Kak Lusia dan suaminya pun tidak menghadiri perkawinan kami. Kak Suster  Maria  yang menjadi wali  keluarga. Setelah seluruh urusan pernikahan termasuk resepsi selesai kakak suster Maria kembali ke Papua New Guinea. Aku kembali dengan rutinitasku sebagai dokter. Sedangkan Maya yang hamil setelah tiga bulan menikah memutuskan untuk tak bekerja.

Sembilan bulan kemudian Maya melahirkan seorang putri cantik. Kami memberinya nama  Maria Putri Permata. Kakak Suster Maria sengaja datang dari PNG  untuk menengok keponakannya. Ia minta cuti dua minggu. Satu minggu  di Jakarta  dan satu minggu lagi di Denpasar. Suatu malam  kakak Suster Maria berbicara dengan kami enam mata.
“ Dik kalian berdua tak berniat pulang ke Denpasar?”  Tanya kak Suster Maria.
“ Di Jakarta  ini kerjanya di rumah sakit elit. Gajinya  besar kak.”
“ Oh… kasihan ibu.”
“ Memangnya  kenapa ibu?” Tanyaku.
“ Yah dik, nanti kamu tahu sendiri. Kalau kamu  tak kembali ke Denpasar, aku yang akan mundur dari biara. Kasihan ibu.” Air mata kakak suster  jatuh berderai. Aku menangkap  ada yang tidak beres dengan ibu di Bali.
“ Ada apa kak, apakah ibu sakit?”
“ Ibu sudah semakin tua. Ia hanya menjadi beban orang lain.”
“ Kakak Lusia itu anaknya.”
“ Tapi suaminya orang lain.” Kata  kakak Suster.

Dua bulan berlalu. Kakak Suster Maria menelponku. Ia menceriterakan bahwa  ibu mendapat perlakuan  kasar dari Mas Lukas. Ibu dipandang mereka hanya menjadi beban. Mas Lukas  maupun kakak Lusia merasa sangat terbeban  dengan keadaan ibu. Itulah sebabnya  ibu dititipkan di sebuah Panti Wreda.
“ Benar kakak suster?”
“ Yah, tapi jangan menyalahkan siapa-siapa. Sekarang saatnya  mencari solusi. Ibu harus keluar dari Panti Wreda. Ia masih punya anak-anak. Mungkin aku yang  akan meninggalkan biara demi merawat dan menemani ibu.”
“ Tidak bisa begitu kak. Kakak Lusia harus disadarkan bahwa  apa yang mereka lakukan itu sangat memalukan.”

Maya istriku merampas handphone dariku. Ia lalu  berbicara dengan kak Suster.
“ Kak Suster, ini Maya. Kakak  tidak boleh meninggalkan biara kecuali kalau kakak merasa tak ada panggilan lagi. Kalau hanya alasan untuk ibu, kakak jangan lakukan hal itu.” Suara Maya tegas.
“ Tapi dik, kasihan ibu.”
“ Ada aku dan Mas Roni.”
“ Tapi kalian di Jakarta. Ibu di Denpasar. Betapa jauhnya.”
“ Kak, semuanya akan beres. Minggu ini kami ke Denpasar Bali. Selamat malam kak suster. Kakak yang tenang ya.”

Aku menatap  wajah Maya. Ia memandangku. Ia tersenyum. Ia mendekatku. Ia memelukku. Lalu dari bibirnya  mengalir kata-kata yang membuatku tertegun. Mendaraskan kisah hidupnya yang kehilangan orang-orang tercinta  saat masih sangat kecil. Ketika ia berusia sepuluh tahun  ayah dan ibunya mengalami kecelakaan pesawat. Sampai sekarang  jasad keduanya tak ditemukan. Maya lalu masuk di sebuah panti asuhan katolik. Ia bisa menyelesaikan pendidikan dengan uang asuransi kecelakaan dari kedua orangtuanya. Bahkan  uang asuransi yang sisa ia hibahkan pada panti asuhan.Bertahun-tahun ia kesepian tanpa seorang ibu.
“ Kita pulang ke Denpasar Mas, demi ibu.” Kata Maya sambil memandangku.
“ Tapi pekerjaanku di Jakarta. Bagaimana kalau engkau yang ke Denpasar. Aku tetap bekerja di Jakarta.”
“ Mas, dimana suami berada di situ istri berada. Perkawinan  akan langgeng kalau kita menikmati  suka dan duka  di saat dan waktu yang selalu bersamaan.” 

Sebuah keputusan besar kami lakukan. Kami menjual rumah yang baru saja  kami beli. Kami memutuskan meninggalkan Jakarta  dan kembali ke kota Denpasar. Bukan karena semata-mata demi ibu, tetapi  demi menemukan  cinta  seorang perempuan. Di Denpasar  kami membeli sebuah  rumah sederhana. Dan suatu pagi  kami  ke Panti Wreda. Ibu sangat senang melihat kedatangan kami.
“ Mana cucuku?” Suara ibu sambil berlinang air mata. Maya menyodorkan Maria Putri Permata. Ibu menyambutnya dengan penuh haru. Ia mencium berkali-kali  cucunya itu. Lalu Maya mulai mengutarakan niat kami.
“ Bu, kami mau jemput ibu pulang.”
“ Pulang? Pulang ke Jakarta?  Tidak usah nak. Ibu di sini saja. Panti ini sangat nyaman. Ibu ingin tetap di Denpasar. Dan bila waktunya pergi, aku ingin dekat dengan  ayahmu di Taman Mumbul.”
“ Bukan ke Jakarta Bu, tetapi di sini Denpasar.” Kulihat ibu sejenak terdiam.
“ Sudahlah, nanti ibu merepotkan kalian.”
“ Tidak bu, kami tak merasa ibu merepotkan. Kami senang kalau ibu selalu bersama kami.” Ujar Maya.

Lalu  kulihat ibu meluruhkan air mata.Tetapi ibu sama  sekali tak menceriterakan apa yang ia alami meskipun kami berusaha mengoreknya. Ibu selalu mengatakan  tak ada apa-apa  yang pernah terjadi dan menyakiti dirinya. Ibu mengatakan  dirinya masuk Panti Wreda atas kemauan  sendiri. Pada hal semua perlakuan kasar Mas Lukas  pada ibu adalah kenyataan. Mas Lukas yang  mencaci maki  mengutuk ibu sebagai  manusia yang tak berguna lagi. Bahkan menyumpahi ibu agar segera mati saja. Tapi kisah pedih itu justru kami dengar dari tetangga. Bukan dari mulut ibu. Mungkin karena itu ibu tak mau diajak pulang dan mau tetap tinggal di panti.
“ Percaya bu, kami akan memberikan kasih sayang. Kami ini anak-anak ibu. Kami juga tidak tinggal di rumah  bersama kak Lusia dan  suaminya. Kami  telah membeli sebuah rumah di Dalung Permai. Di situlah bu, kita menjadi keluarga yang utuh, saling mencintai.”  Maya membelai rambut putih ibu. Dan ibu pun menganggukkan kepala.

Tak terasa  waktu berlalu begitu cepat. Peristiwa  ibu kembali dari panti Wreda di usianya tujuh puluh lima tahun. Kini ibu berusia sembilanpuluh tahun. Limabelas tahun sudah ibu bersama kami. Sepanjang itu kami memberi perhatian, cinta dan kasih sayang. Ibu merasakan semuanya itu.Dan hari ini  ulang tahun ibu ke sembilanpuluh tahun.Kami berdoa bersama ibu. Kak suster Maria pun sengaja datang untuk merayakan ulang tahun ibu.Sengaja kami tak memberitahu  kak Lusia dan suaminya.
“ Terimakasih nak Maya. Engkau  anakku yang tak kulahirkan dari rahimku. Tetapi kau telah memberi perhatian sepenuhnya pada ibu.”
“ Ibu yang sehat ya. Kami semua mencintai ibu.” Maya mencium ibu. Aku dan kakak Suster pun melakukan hal yang sama.

Tiba-tiba dari pintu yang terbuka kak Lusia berlari ke arah ibu sambil menangis. Ia sujud di depan ibu. Ia meraih kaki ibu dan mencium telapak kakinya.
“ Maafkan aku ibu. Aku anak durhaka, maafkan aku ibu.” Suara kakak Lusia terbata-bata.
“ Ibu sudah memaafkan. Sudah, lupakan saja.”
“ Terimakasih ibu.” Ia memeluk ibu.
“ Mana suamimu?” Tanya ibu.
“ Dia dipenjarakan karena terlibat perdagangan narkoba.” Suara kakak Lusia melemah.
“ Ibu sudah menduga.” Suara ibu merendah lalu meraih kepala kak Lusia dan menciumnya.

Aku berdiri tertegun. Hatiku berbunga-bunga. Kata-kata doa mengalir dari sanubariku. Tuhan terimakasih  Engkau memberiku seorang Maya  yang limabelas tahun merawat ibu dengan setia dan penuh cinta. Terimakasih  untuk kebekuan keluarga  yang kini kembali mencair. Terimakasih untuk kerja besar RohMu. Karena cinta itu dasyat  dan mampu mengalahkan segala kekuatan jahat. Selamat ulang tahun ibu. Kami larut dalam bahagia.***

Denpasar, 19 April 2016

*)Nama-nama fiktif, kesamaan hanya kebetulan belaka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Penyimpanan dan Penghormatan Ekaristi

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua