50 TAHUN IMAMAT P.SUBHAGA: SAMBUTAN KETUA UMUM PANITIA

Pada tempat pertama mari kita bersyukur, memuji, meluhurkan dan memuliakan Kerahiman Ilahi, karena atas penyelenggaraan-Nya telah membuat semuanya ini terjadi. Setelah hampir 34 tahun Missionaris pertama Pater Johannes Kersten, SVD menapakkan kaki dan menetap di Denpasar pada tanggal 11 September 1935, akhirnya pada tanggal 09 Juli 1969, seorang Putra Bali asli Servatius I Nyoman Rongsong ditahbiskan menjadi Imam pertama di Gereja Roh Kudus Babakan, Desa Canggu, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Sejak itu pula, atas prakarsa penasehat dan sponsor utama Panitia Tahbisan Almarhum Mayor Cokorda Oka Sudharsana, namanya diganti dan diberi nama baru, yang disandangnya sampai sekarang yaitu : “PATER SERVATIUS SUBHAGA SVD” 

Pada tanggal 09 Juli 2019 usia tahbisan beliau akan genap 50 tahun yang biasa disebut “Pesta Emas”. Sehubungan dengan hal tersebut, kiranya tidaklah berlebihan, kami (Panitia) telah mengirimkan Surat “Matur Piuning (Pemberitahuan)” tertanggal 07 November 2018 Nomor :04/Pan Jub/Dps/2018 kepada semua paroki di Keuskupan Denpasar, yang berisikan pemberitahuan tentang rencana “Perayaan Syukuran Yubileum Emas (50 tahun) Tahbisan Imamat Putra Bali Yang Pertama pada tanggal 09 Juli 2019 di Gereja Yesus Gembala Yang Baik di Ubung-Denpasar”. 

 

Bunda Gereja selalu mengajarkan agar kita umatnya selalu bersyukur, maka pada setiap Prefasi dalam ibadah Ekaristi Kudus selalu dimulai dengan ajakan: “Marilah bersyukur kepada Tuhan Allah Kita” .... “Sudah layak dan sepantasnya …..” Perayaan Syukuran Yubileum (50 tahun) Imamat ini bukanlah maksudnya untuk mengkultuskan seorang imam Pater Drs. Servatius Subhaga SVD, tetapi khusus hanyalah untuk menyukuri berkat dan rahmat Tuhan yang telah dilimpahkan pada Gereja ini di Keuskupan Denpasar melalui tangan tertahbis beliau. Bagaimana mungkin kita tidak menyukurinya. Seperti Kristus sendiri adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, tetapi telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan. Demikianlah Imam kita ini juga seperti gurunya, karena seorang murid tidak akan lebih dari gurunya. 

 

Waktu lahir dia harus dibuang di pertigaan jalan di Batulumbung, katanya untuk menghindari kutukan dewata yang menimpa keluarganya dan diambil oleh tetangganya, lalu dipermandikan, dan selamatlah dia. Selanjutnya setelah menyelesaikan studinya di Seminari Tinggi Ledalero, timbullah perpecahan pendapat di antara para dosen. Setengah memperbolehkan dia lanjut untuk ditahbiskan menjadi Imam dan yang setengah lagi tidak mengijinkannya melanjutkan untuk menjadi Imam. Tetapi Tuhan mengirim Pater Regional SVD untuk Bali, pada waktu itu Pater Norbert Shadeg SVD untuk menengahinya dan menjadi penjamin ….. dan beliau hampir saja dibuang lagi tetapi Tangan Tuhan telah memungutnya kembali…lolos untuk kedua kalinya. 

 

Mengenai pemikiran dan hasil karya beliau Panitia telah berusaha untuk membukukannya dalam tiga buah buku. 1.PAROKI SANTO YOSEPH DENPASAR. Jejak Perjalanan Gereja Kristen Katholik di Pulau Dewata. 2.Pesona Inkulturasi. 3.Kenangan 50 tahun Imamat Pater Drs. Servatius Subhaga SVD. Panitia berusaha untuk menerbitkan buku-buku ini secara profesional dengan melibatkan ahli-ahli, Professor, Doktor dari UNUD. Meskipun biaya mahal, tetapi panitia tidak mundur, karena merasa buku-buku ini akan sangat berguna dan membantu Gereja Keuskupan Denpasar di masa depan, terutama bagi para Imam muda yang akan berkarya di Pulau Bali. Apabila Yubilaris tidak ada lagi toh masih ada tuntunan beliau yang bisa dilihat/dibaca dalam buku-buku ini. Untuk penerbitan buku-buku inilah banyak biaya dan tenaga terkuras dan menimbulkan banyak pertanyaan : “Mengapa biaya pesta ini mahal sekali ?”. Buku-buku ini adalah hak/milik Paroki Santo Yoseph dan bisa dijual yang uangnya akan masuk kantong Paroki. 

 

Ada lagi satu pertanyaan dari para Imam dan juga dari umat yang sangat mengusik tentang Yubilaris, yaitu : “Bagaimana kok bisa Pater Servatius Subhaga SVD bertahan di Paroki Santo Yoseph Denpasar sampai empat puluhan tahun ?”. Saya merasa tidak berwenang menjawab pertanyaan tersebut, tetapi secara sederhana saja, pemikiran saya adalah sebagai berikut : “Saya dan pengganti saya sebagai Ketua DPP pada waktu itu, Bapak Marsel Jemalit, ST selalu diperlihatkan oleh beliau SK Perpanjangan Penugasan beliau dari Bapak Uskup yang isinya selalu : “Paroki Santo Yoseph Denpasar”. Jadi menurut saya itu rupanya “Providentia Dei” Penyelenggaraan Ilahi. Rupanya jawabannya ada pada Tuhan sendiri. Sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci : “Rancanganku bukanlah Rancanganmu ……” siapa tahu hal ini adalah Felix Culpa. 

 

Akhirnya pada kesempatan yang istimewa ini perkenankan kami menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1.Yang Mulia Bapak Uskup Denpasar Mgr. DR. Silvester San yang tidak bosan-bosannya telah memberikan pengarahan kepada panitia. 2.Pater Provinsial SVD Jawa, Pater Josef Jaga Dawan SVD. 3.Pastor Paroki Santo Yoseph Denpasar, Pater Yan Madya, SVD. 4.Para donatur/dermawan yang tidak bisa kami sebutkan namanya satu per satu yang telah memberikan/menyumbangkan apa yang mereka miliki untuk terlaksananya perayaan syukuran ini. 5.Paroki-Paroki Se-Keuskupan Denpasar atas sumbangan/attensi mereka. 6.Seluruh umat Paroki St. Yoseph yang bersama-sama dengan panitia telah bahu membahu menyukseskan perayaan syukuran ini. Semoga Tuhan yang maha Rahim senantiasa melimpahkan berkat rahmatNya kepada kita semua. 

Denpasar, 20 Mei 2019 

Pieter Made Puryatma, SH, M.Kn. 

Ketua Umum

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Penyimpanan dan Penghormatan Ekaristi

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua