CUKUPLAH KASIH KARUNIAKU BAGIMU (6)


Mengejar Mimpi di Mertoyudan



Seminari Menengah Petrus Canisius adalah seminari pertama  yang didirikan di Indonesia pada 30 Mei 1912. Pada 30 Mei 2012 lalu Seminari Petrus Canisius Mertoyudan telah merayakan 100 tahun usianya. Seminari Mertoyudan berdiri diawali dengan keinginan dua pemuda lulusan Kweekschool Muntilan untuk menjadi imam. Pada November 1911 dua pemuda lulusan Kweekschool Muntilan yakni Petrus Darmaseputra dan F.X. Satiman menyatakan niat menjadi imam kepada Pater Van Lith SJ dan Romo Mertens SJ. Niat kedua pemuda ini mendapat sambutan positif. Tanggal 30 Mei 1912 ijin resmi dari Roma yang menyetujui untuk memulai lembaga pendidikan calon imam di Indonesia.



Setelah menyelesaikan pendidikan di SMP Seminari Roh Kudus Tuka tahun 1955, Servas dan beberapa teman seangkatannya dikirim ke Seminari Petrus Canisius Mertoyudan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Terhadap niatnya itu ibunya Ni Made Rente  sama sekali tak berkeberatan. Theresia, adik kandung Pater Servas  menuturkan, saat kakaknya itu menyampaikan niat untuk ke Seminari Mertoyudan  ibu sama sekali tak menunjukkan keengganan atau menolak. Ibu Ni Made Rente  tampak memberikan dukungan. Memberikan restu terhadap putranya itu.

Dalam catatan selama ini diketahui Pater Servas melanjutkan pendidikan di Seminari Mertoyudan dari tahun 1955 sampai 1961. Namun berdasarkan Buku Induk Murid BCP-SMA Seminari Mertoyudan tahun 1955-1959 No: 01 - 427 Pater Servas terdaftar sebagai peserta pendidikan SMA Seminari Mertoyudan sejak 1 Agustus 1958 dengan No. Daftar Induk SMA 49 dengan nama Servatius I Nyoman Ronsong.



Menurut Alexius  I Wayan Sentur Widjana, dirinya bersama Johanes Wayan Tantra, Servatius I Nyoman Ronsong  dan Fidelis I Made Pondal dikirim oleh Pater Nobert Shadeg,SVD ke Seminari Mertoyudan pada tahun 1956. Di Seminari Mertoyudan  para seminaris  dari Bali itu tidak  bisa langsung mengikuti  pendidikan di SMA. Mereka harus mengikuti program pendidikan persiapan selama dua tahun sebelum masuk SMA. Jadi sejak 1 Agustus 1956  sampai 1 Agustus 1958 mereka mengikuti kelas persiapan  untuk memperdalam  Bahasa Latin, Inggeris, Jerman, Bahasa kawi dan pelajaran lainnya  yang ternyata sangat bermanfaat bagi mereka. Baru pada 1 Agustus 1958 mereka terdaftar di SMA Seminari Petrus Canisius Mertoyudan. Alexius  I Wayan Sentur Widjana mengungkapkan  bahwa pimpinan Seminari Mertoyudan menganggap  calon dari Bali  tidak pernah  mengikuti pendidikan di Seminari.



Berdasarkan buku induk Seminari Mertoyudan, pater Servas terdaftar sebagai peserta ke-461 mengikuti pendidikan di Seminari Mertoyudan. Pater Servas melanjutkan ke SMA Seminari Mertoyudan bersama dengan Johanes Wayan Tantra, Alexius Wayan Sentur, dan Fidelis I Made Pondal.Pater Servas terdaftar sebagai siswa Kelas I SMA pada 1 Agustus 1958. Setiap tahun pelajaran ada ujian empat kali yakni Ujian I,II, III dan IV dan masing-masing lengkap dengan nilainya. Setelah ujian ke- 4 baru dinyatakan naik kelas. Kelas II dimulai pada 28 Juni 1959 juga dengan empat kali ujian. Sedangkan kelas III dimulai pada 29 Juni 1960, juga dengan empat kali ujian.



Pater Servas lulus ujian penghabisan SMA Bagian A sesuai Keputusan Kepala Perwakilan Depertemen Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan di Semarang dengan surat putusannya tanggal 29 April 1961 No. 400/A IV. Surat keputusan tersebut menetapkan Servatius I Nyoman Ronsong Lulus dalam ujian penghabisan Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas bagian Sastera ( SMA Bagian A). Ujian diselenggarakan dari tanggal 18 Mei sampai dengan tanggal 4 Djuli 1961 di Magelang. Ujian ini menurut putusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan tanggal 5 Desember 1960 No. 801/N/VI.



Ijasah Sekolah Menengah Umum tingkat Atas bagian Sastera (SMA bagian A) ditandatangani Panitia Ujian Penghabisan pada 22 Juli 1961 oleh Ketua Panitia Ujian H. Baridin W dan penulis Kardjono. Adapun mata pelajaran yang diujikan terdiri dari mata pelajaran pokok, yakni: Kemahiran dan tata bahasa Indonesia, Kesusasteraan Indonesia, Bahasa Inggeris, Bahasa Perantjis atau Bahada Djerman, Sejarah, Sejarah kebudayaan dan Kesenian, Ilmu Bumi dan Antropologi. Mata pelajaran penting terdiri dari Bahasa Kawi, Tata Hukum, Tata Negara dan Kewarganegaraan serta Ekonomi.



 Mata pelajaran pelengkap yakni Bahasa Daerah, Aljabar, Ilmu kesehatan dan menggambar.

Pater Servas selama belajar di SMA Seminari Mertoyudan sekelas atau seangkatan dengan Fransiskus Xaverius Sudarta, Fransiskus Venansius Sukarsana, Fransiskus Xaverius Sutama, Stefanus Suwito, Leonardus Budiharteja Dibjiawijata, Josephus Darminta, Sumaragdus Dirgaramatu, Ignatius Herjadi. Selanjutnya dengan Josephus Kupertino Mardijanta, Antonius Netseus Adhisusanta, Fidelis I Made Pondal, Hubertus Pudjianto, Evaristus Rusguarta. Selanjutnya seangkatan dengan Alfonsus Saptara, Cornd Sardjana, Alexius Wayan Suntur, Martinus Sudarsana, Joh. Berch. Sugiarta, Stanislaus Suhartana, Agustinus Sunarta, Raimundus Supardi, Laurentius Surjatma. Juga seangkatan dengan Johanes Wayan Tantra, Aloysius Teguh Mardisantoso, Frans Assisius Tjan Joe Nie, Ignatius Trihardjanta Hardjaseputra, Gerardus Najwidada, Aloysius Widjajanta, Geraldus Winartana dan J. Yap Tiong Hauw.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua

Menjadi Gembala “Berbau” Domba