CUKUPLAH KASIH KARUNIAKU BAGIMU (4)


Sepuluh Bulan di Lembah Sasa Mataloko

 
 Mataloko adalah sebuah kota kecil yang terletak di Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di kota kecil yang terletak di lembah Sasa ini pada 15 September 1929 diresmikan  berdirinya  Seminari Menengah St. Yohanes Berchman. Seminari ini didirikan pada 2 Pebruari 1926 di Sikka Maumere oleh Pater Fransiskus Cornelissen,SVD atas prakarsa Mgr. Vestraelen,SVD yang kemudian pindah ke Mataloko. Tanggal 15 September 2018  Seminari St. Yohanes Berchmans merayakan ulang tahun ke-89. Seminari ini telah menghasilkan  500 lebih imam termasuk Pater Servatius Subhaga,SVD dan 16 Uskup.


 


Dalam catatan singkat para imam yang berkarya di Keuskupan Denpasar Pater Servas Subhaga pernah mengenyam pendidikan di SMP Seminari Menengah St. Johanes Berchmans Todabelu Mataloko Ngada Flores NTT pada tahun 1952. Keputusan untuk ke Mataloko Ngada Flores itu sekaligus menjadi  awal “perpisahan” dengan ibunya Ni Made Rente dan adiknya Ni Wayan Warti yang saat itu berusia 7 tahun.


 


Kisah menapak jalan panggilan sungguh  menarik mengingat Pater Servas waktu itu baru menamatkan Sekolah Dasar dan harus meninggalkan keluarga dan pergi ke tempat yang jauh. Mataloko adalah kota kecil di lembah bukit Sasa yang udaranya sangat dingin. Menurut ingatan Theresia Ni Wayan Warsi ibunya Ni Made Rente  sama sekali tak terkejut. Theresia mengaku, waktu itu kakaknya menyampaikan kepada ibu bahwa ia ingin menjadi imam. Dan ibu menumpangkan tangan di kepala kakaknya  sebagai tanda restu. Ibu tak keberatan mengijinkan Servas berangkat ke Flores  dihantar Pater Nobert Shadeg.


 


Perjalanan ke Flores pun  saat itu terasa masih sangat sulit. Namun untuk bisa sampai ke Flores Servas yang ditemani Pater Nobert Shadeg,SVD  harus ke Surabaya. Lalu dari Surabaya  mereka  menumpang Kapal Motor  Ratu Rosari  turun  di Ende. Pelayaran  Surabaya  ke Ende memerlukan waktu  dua minggu. Dari  Ende mereka menempuh jalan darat ke Mataloko  dengan  naik truk milik Seminari Mataloko. Jalan  lintas Ende-Bajawa  belum beraspal, berlumpur  sehingga menyebabkan perjalanan  bisa memakan waktu satu sampai dua hari.


 


Di Mataloko Servas pun  berhadapan dengan iklim yang berbeda dengan Batu Lumbung. Mataloko  dingin  dan sering  berkabut. Tetapi kota kecil itu sangat tenang, menghijau sepanjang musim. Bukit-bukit yang mengelilingi  kota Mataloko  membuat  lembah Sasa itu semakin indah. Pohon Albesia yang berfungsi sebagai pelindung tanaman kopi milik Seminari Mataloko menambah  indahnya kota itu terutama  pada November dan Desember  karena  pohon Albesia itu berbunga berwarna  kuning dan merah. Penduduk setempat menamainya Bunga Natal.


 


Kepergian Servas ke Mataloko mengubah suasana rumah di Batu Lumbung. Dituturkan Theresia, dirinya merasa  ada yang hilang dalam keluarga  setelah kakaknya Servas meninggalkan rumah. Kadang-kadang ia menangis karena ingat kakaknya. Tetapi  ia melihat ibunya sangat tegar. Ibunya hampir tak menampakkan kesedihan. Ibunya tetap dengan kegiatan keseharian bekerja apa saja asal bisa mendapat makan. Di musim panen padi ia bekerja sebagai buruh panen padi di sawah, mencari makanan babi dan mengurus  rumah.


Di Mataloko Servas hanya bersekolah selama setahun. Menurut Buku Induk Seminari Johanes Berchmans Mataloko No 1 - 1700, Pater Servas pada tahun 1952 terdaftar sebagai siswa kelas I dengan Nomor Induk 745 dan tertulis nama Rongsong S berasal dari Bali. Ia berada di kelas A dengan Nomor Induk dari 729 sampai 752 atau sebanyak 39 orang. Di kelas A ini seminaris yang berasal dari Bali selain Rongsong S adalah Manus Edmundus dengan Nomor Induk 732 dan Risin Niko dengan Nomor Induk 744.


Pada tahun 1952 itu Pater Servas sekelas dengan Uskup Emeritus Bogor Mgr. Mikael Angkur yang dalam buku induk tertulis nama Angkur Mikael berasal dari Manggarai dengan Nomor Induk 715. Pater Servas juga sekelas dengan Pater Prof. DR. Berthold Anton Parera yang dalam buku induk tertulis nama Parera Anton berasal dari Maumere dengan Nomor Induk 740.


 


Selain itu Pater Servas juga sekelas dengan seminaris asal Sumba Dominikus Rua Dapa yang dalam buku induk tertulis nama Rua Dapa D berasal dari Sumba dengan Nomor Induk 746. Dominikus Rua Dapa ditahbiskan menjadi imam praja pertama Keuskupan Weetebula kemudian ditugaskan di Bima Sumbawa. Ia meninggal dunia di Bima dan dimakamkan di Tambolaka Sumba Barat Daya.


 


Di kelas A ini Pater Servas sekelas dengan nama-nama berikut ini: Adur Sakarias dari Maggarai, Angkur Mikael dari Manggarai, Ase Eman dari Maumere, Babu Gabriel dari Manggarai, Bodja Alex dari Negekeo, Bogar Steph dari Maumere, Bura Laurentius dari Maumere, Diwa Dan dari Nagekeo, Djeram L dari Manggarai, Embu M dari Ende, Fodjo Joseph dari Ngada, Hasan Joseph dari Manggarai dan Herman Joseph dari Maumere.


 


Selanjutnya sekelas dengan Kam Andreas dari Maumere, Lele Anselmus dari Nagekeo, Mugo Mart dari Maumere, Mali Math. dari Lio, Moa Felix dari Maumere, Manus Edmundus dari Bali, Nale Josef dari Ngada, Nande Alb. dari Lio, Nggewa Josef dari Lio, Nggole Josef dari Lio, Nong Niko dari Maumere, N.Wangge M dari Lio, Nuwa Luc. dari Nagekeo, Parera Anton dari Maumere, Plewang M Ign. dari Maumere, Renggi Jos Har dari Lio, Rewo Josef dari Ngada, Risin Nico dari Bali.


 


Juga satu kelas dengan Rua Dapa D dari Sumba, Seda Andr dari Nagekeo, Sekat Marc dari Manggarai, Trambine Janssen dari Sumba, Rulung Ger dari Manggarai, Wae Marc. dari Lio dan Woda Barn dari Maumere. Nama-nama mereka dalam buku induk ditulis singkat seperti yang dikutip ini.


 


Di kelas B terdapat 37 siswa seminari dengan nomor induk dari 753 sampai 789. Dari 37 seminaris kelas B ini ada seminaris dari Bali. Mereka adalah Mukayat J berasal dari Bali dengan nomor induk 769. Nama lainnya adalah Paulus (nama kecil tak tertulis) berasal dari Bali dengan nomor induk 774. Lalu ada nama Sadia Cajus berasal dari Bali dengan nomor induk 780. Nama-nama mereka juga ditulis singkat. Salah satu alumni yang kemudian menjadi awam katolik terkenal adalah Centis da Lopez dari Maumere dengan nomor induk 765.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua

Menjadi Gembala “Berbau” Domba