CUKUPLAH KASIH KARUNIA-KU BAGIMU (3)


Misteri di Batu Lumbung

Dusun Batulumbung pada tahun 1938 belum seperti sekarang ini. Belum banyak rumah seperti yang terlihat saat ini. Alamnya masih sangat asli.  Belum ada jalan raya berbalut aspal. Saat ini dari pertigaan  terdapat jalan  ke arah barat menuju Tuka, ke arah selatan menuju Pegendingan  dan ke arah utara menuju Dalung. Dulu di tahun 1938 masih benar-benar jalan setapak penuh dengan batu-batu. Menurut tokoh masyarakat Batulumbung Alexius I Wayan Sentur Widjana  tempat itu dinamakan Batulumbung karena banyak batunya. Penduduk Batulumbung  semuanya belum memiliki sepeda motor bahkan   sepeda dayung pun belum ada yang memiliki.

 


Salah satu keluarga yang tinggal di Batulumbung itu adalah bapak I Wayan Gulis dan ibu Ni Made  Rente. Rumah mereka terletak persis  di sudut pertigaan yang  ada jalan menuju ke Tuka dan Dalung. Ibu Made Rente  adalah anak kedua dari lima bersaudara  yang semuanya perempuan. Mereka adalah ibu Ni Wayan Renti, ibu Ni Made Rente, ibu Ni Nyoman Rentin, ibu Ni Ketut Rentu  dan ibu Ni Made Repiyem.


 


Menurut Theresia  Ni Made  salah seorang putri dari ibu Ni Made Repiyem, dari lima bersaudara itu  Ni Made Repiyem sudah memeluk agama protestan  sebelum tahun 1938. Ia  pun berpindah  ke katolik  pada Pentakosta  1936 saat dua katekis  protestan I Wayan Diblug dan I Made Bronong bergabung dengan Gereja Katolik. Ni Made Repiyem termasuk  salah satu dari delapan orang dewasa dan 32 anak yang dibaptis.


 


Menurut Agustinus I Wayan Suwarjaya putra sulung dari ibu Theresia  Ni Wayan Warsi yang adalah  adik kandung Pater Servatius Subhaga, dulu  rumah itu beratap alang-alang dan berdinding batu paras yang diplester dengan tanah liat serta berlantai tanah. Jadi mudah  sekali keropos  kalau diterpa air hujan. Rumah  yang saat ini ditempati Agustinus  sudah mengalami renovasi.


 


Di rumah itulah ibu Ni  Made Rente melahirkan anak-anak. Mereka adalah keluarga Hindu yang taat. Anak pertama lahir laki-laki dan meninggal dunia. Anak kedua  lahir laki-laki  dan meninggal dunia. Bapak I Wayan  Gulis dan ibu Ni Made Rente  bingung. Saat  mengandung anak ketiga bapak I Wayan Gulis dan ibu Ni Made Rente bertanya kepada orang pintar  bagaimana nanti nasib  anak ketiga  yang akan dilahirkan. Orang pintar itu memberi jawaban bahwa anak ketiga itu juga akan mati setelah lahir  kalau tidak diruat dengan upacara besar yang harus dipuput atau diupacarai oleh seorang Pedanda. Upacara ini memerlukan biaya yang sangat besar dan keluarga bapak I Wayan Gulis  tidak mampu.


 


Jalan yang ditempuh oleh bapak I Wayan Gulis adalah menyampaikan rasa kekhawatiran atas keselamatan  anak ketiganya itu kepada tetangga yang pada waktu itu sudah menjadi guru agama yakni  bapak Made Tangkeng  atau dikenal dengan sapaan Pan Paulus. Lalu Pan Paulus memberi saran, buanglah anakmu secara adat di perempatan jalan biar Tuhan memungutnya sebagai anak-Nya karena hidup anak itu milik Tuhan. Sebab  Tuhan itu sumber hidup dan asal kehidupan.


 


Kedua orang tua itu melaksanakan  apa yang disarankan oleh Pan Paulus. Ketika anak ketiga mereka lahir pada 23 Maret 1938 maka  mereka membuangnya secara adat di  di pertigaan dusun Batulumbung lalu dipungut oleh  Pan Paulus yang segera memanggil Pastor Simon Bois, SVD untuk membaptisnya  menjadi  anak Tuhan dengan nama pelindung Servatius. Anak itu dikembalikan kepada orang tuanya  dan diberi nama Servatius I Nyoman Rongsong.


 


Anak keempat lahir  namun tidak dipermandikan lalu meninggal waktu masih bayi. Ketika anak kelima lahir tahun 1945  kira-kira  baru berusia tiga bulan bapak I Wayan Gulis  meninggal dunia. Jadi ibu Ni Made Rente merawat Servas dan  anak kelima yang diberi nama Ni Wayan Warti sendirian tanpa  suami. Servas dan Ni Wayan Warti  yatim  sejak mereka masih kecil. Setelah dibaptis nama Ni Wayan Warti  menjadi Theresia Ni Wayan Warti. Saat bapak I Wayan Gulis meninggal Servas berusia Sembilan tahun.


 


Menurut kesaksian Theresia Ni Wayan Warti Ibunya  Ni Made Rente adalah perempuan  Bali yang tangguh. Ia bekerja keras  menjadi buruh panen padi di sawah  milik orang lain agar bisa mendapatkan padi  dan ditumbuk menjadi beras. Ia memelihara babi dan ayam. Setiap hari ia sibuk mengurus anak-anak dan bekerja apa saja untuk melanjutkan kehidupan.


 


Sedangkan Servatius I Nyoman Rongsong  tumbuh sehat  menjadi anak  yang sungguh menyadari kondisi keluarganya. Pada usia 8 tahun tepatnya 1 Agustus 1946 Servas mulai bersekolah di SR  di Dalung kemudian sekolah itu pindah ke Untal-Untal Gagi. Ketika  SRK  Tuka dibuka pada tahun  1950 Servas pun pindah ke SRK Tuka dan menyelesaikan  sekolah pada tahun 1952.


 


Menurut kesaksian  Alexius I Wayan Sentur Widjana, adik kelas di SR Untal-Untal, saat ia kelas I Servas  kelas III. Bersama Servas dan teman-teman lain dari Batulumbung mereka berjalan kaki melintasi pematang sawah  menuju sekolah. Demikian juga saat pulang  sekolah juga menyusuri pematang sawah  untuk sampai di Batulumbung. Kemudian saat dirinya naik ke kelas II dan Servas naik ke kelas IV  mereka pindah ke SRK Tuka. Diakui Alex meskipun dirinya  adik dua tahun dari Servas  namun mereka adalah teman sepermainan. Apa lagi  dirinya dan Servas masih  ada hubungan keluarga.


 


Kegiatan yang sangat sering dilakukan oleh Servas dan teman-temannya  sepulang sekolah adalah ke sawah  atau sungai untuk memancing belut dan memancing ikan. Selain itu juga mencari kangkung untuk  makanan babi. Belut atau ikan yang didapat bukan untuk dijual tetapi untuk  dikonsumsi  keluarga. Menurut Theresia Ni Wayan Surti kakaknya itu memang  suka ke sawah  hampir setiap pulang sekolah untuk mancing belut dan cari ikan di sungai. Biasanya ia pulang ke rumah dengan membawa  makanan babi. Di rumah  ia rajin membantu ibu.


 


Saat  di sekolah rakyat pastor yang melayani Paroki Tuka adalah Pater J.Kersten,SVD lalu pater C.Van Iersel,SVD. Mereka penuh perhatian terhadap anak-anak. Servas di masa kecil itu  ikut kelompok putera altar. Kadang-kadang diajak  pastor ikut mengunjungi orang-orang kusta di Munggu, diajak ke Padang Galak, Antosari, Kalianget Singaraja. Kebiasaan itu dilakoninya sampai  selesai sekolah di SRK Tuka pada tahun 1952.


 


Menjelang tamat SR Servas kecil waktu itu memberanikan diri bertanya  kepada pastor  C. Van Iersel,SVD apakah dirinya boleh menjadi pastor. Ternyata Pastor Iersel mengiyakan. Servas pun minta ijin kepada ibunya dan setelah satu hari ibunya memanggil Servas dan bertanya, apa kamu sudah pikir, tidak ada orang Bali jadi pastor. Ibunya mengatakan kalau mau maka harus berani tanggung segala akibatnya. Ibu  tidak berkeberatan.


 


Dengan restu ibunya Ni Made Rente Servas  mengutarakan niatnya kepada Pater Iersel,SVD  yang segera mencarikan  donatur dari Propaganda Fide. Lalu Mgr. Hubertus Hermens,SVD, Prefektur Apostolik Denpasar mengirimnya ke Seminari Mataloko. Ia ke Mataloko ditemani Pater Nobert Shadeg,SVD. ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Penyimpanan dan Penghormatan Ekaristi

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua