CUKUPLAH KASIH KARUNIA-KU BAGIMU (2)


Amanat Yesus dan Semangat SVD

 

Saya mulai karya pastoral di Paroki Hati Kudus Yesus Palasari Melaya Jembrana tahun 1970 – 1973 kemudian on going formation dalam bidang ilmu katekese di Yogyakarta tahun 1973 – 1976 sambil membantu (indekost) di Paroki Kidul Loji (Panembahan Senopati) belajar cara romo-romo SJ melayani pastoral paroki. Kemudian ke Denpasar 1976  sampai dengan sekarang.

 

Untuk mewujudkan amanat Yesus, pastoral yang saya tempuh mewujudkan tujuan pastoral Koinonia: membentuk satu kawanan domba, satu gembala, keluarga Allah, Gereja Kristus yang satu, kudus, katolik, apostolik. Tujuan  dilaksanakan atau diwujudkan dengan pastoral Diakonia (Pelayanan): Dalam Kerygma, Katekese, Liturgi, Paemenik (Peneguhan iman umat) Ipoleksosbudhankam. Lebih-lebih umat diajak mengalami kasih karunia Tuhan yang amat berlimpah-limpah, dalam penghayatan Sakramen Ekaristi Kudus, yang jadi pusat hidup, kekuatan hidup dalam pelayanan dan juga tujuan hidup yaitu Perjamuan Surgawi.

 

Tidak terasa pelaksanaan jadi saksi Injil Tuhan  telah mencapai jumlah waktu 50 Tahun. Hari-hari 50 tahun yang saya alami dalam pelayanan pastoral di Keuskupan Denpasar sebagai seorang misionaris SVD di Regio Bali-Lombok, sekarang telah meluas menjadi Provinsi SVD Jawa, selalu saya alami: “Cukuplah kasih karunia-Ku  bagimu” sehingga  semua pengalaman pastoral di Provinsi SVD Jawa, di Bali khususnya, tak lain: “Di Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke Ujung Bumi”. Semua indah pada waktunya (bdk. Pengkotbah 3:1-15).

 

Di usia imamatku yang kini sampai 50 tahun saya hanya dapat berkata: Laudate Dominum Omnes Gentes, Pujilah Tuhan Hai Segala Bangsa. Sungguh kasih kesetiaan-Mu ya Tuhan terhadap diriku sampai sekarang tidak pernah berkurang, selalu cukup. Buat aku selalu, jangan sampai pernah menyia-nyiakan kasih kesetiaan-Mu ya Tuhan.***(Dikutip dari buku: Misa Syukur 40 Tahun Imamat Rm.Drs. S. Subhaga,SVD, Minggu 12 Juli 2009).

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua

Menjadi Gembala “Berbau” Domba