CUKUPLAH KASIH KARUNIA-KU BAGIMU (2 KOR 12:9)


MISTERI Kasih Karunia Tuhan Terhadap Pasutri Hindu Dharma Ni Made Rente dan I Wayan Gulis Tuhan mengaruniakan anak pertama tetapi segera dipanggil Tuhan. Menyusul buah kasihnya anak kedua juga segera dipanggil Tuhan. Keluarga bingung menghadapi “Misteri Kasih Karunia Tuhan”.

 

Dengan rasa cemas menyongsong  anak ketiga orang tua bertanya kepada orang pintar, bagaimana nanti nasib anak ketiga yang akan segera  dilahirkan. Orang tua mendapat jawaban “Kenabian” anakmu yang ketiga juga akan mati beberapa bulan setelah ia lahir kalau tidak diruat dengan upacara besar yang dipuput atau diupacarai oleh seorang Pedanda. Tentu  upacara ini akan memerlukan biaya yang tidak sedikit.

 

Orang tua sharing kepada tetangga yang pada waktu itu sudah menjadi guru agama yaitu bapak Made Tangkeng atau dikenal juga dengan sapaan Pan Paulus. Lalu Pan Paulus memberi saran sebagai orang  beriman: buang anakmu secara  adat di perempatan jalan, biar  Tuhan memungutnya sebagai anak-Nya karena hidup anak itu milik Tuhan, sumber hidup dan asal kehidupan.

 

Anak ketiga yang dinantikan itu lahir pada 23 Maret 1938, orang tua mengikuti saran Pan Paulus anak itu dibuang secara adat di pertigaan dusun Batulumbung lalu dipungut oleh Pan Paulus dan  segera memanggil pastor Simon Bois,SVD dan dibaptis dijadikan anak Tuhan dengan pelindung St. Servatius. Anak itu dikembalikan kepada keluarga dan anak itu hidup sampai sekarang dengan nama Pastor S.Subhaga,SVD, bisa merayakan 50 tahun imamatnya. Anak keempat lahir tidak dipermandikan  lalu meninggal waktu bayi. Anak kelima lahir  namun ketika baru berumur  sekitar tiga bulan ayahlah yang meninggal. (Penuturan I Made Tangkeng takkala beliau masih hidup menjelaskan riwayat hidupku).

Bayi Servatius diberi nama Servatius I Nyoman Rongsong diasuh oleh ibu Ni Made Rente dan juga mengasuh anak kelima. Kini bernama Ni Wayan Warsi alias Dadong Suarjaya. Servatius I Nyoman Rongsong  tumbuh sehat walafiat juga dijaga oleh bapak angkat I Made Tangkeng.

 

Waktu di sekolah dasar mula-mula sekolah di SR Untal-Untal Gaji lalu mulai  Kelas IV pindah ke SR Tuka. Pastor yang melayani Tuka mulai dari Pater Jan Kersten, SVD lalu Pater C.Van Iersel, SVD, selalu penuh perhatian pada anak-anak. Saya ikut kelompok putera-putera altar. Kadang-kadang diajak ikut mengunjungi orang-orang kusta di Munggu, ke Padang Galak, Antosari, Kalianget Singaraja. Saya amat terpesona dengan hidup para misionaris SVD.

 

Menjelang tamat dari  Sekolah Rakyat  saya lalu memberanikan diri bertanya, apa saya boleh jadi pastor? Pastor mengiyakan. Saya minta ijin kepada ibu dan ibu lama terdiam. Setelah satu hari baru ibu memanggil saya, apa kamu sudah pikir, tidak ada orang Bali jadi pastor, berani tanggung segala akibat. Kalau kamu berani, silahkan, ibu tidak keberatan.

 

Pater Van Iersel,SVD  mencarikan donatur dari Propaganda Fide lalu Mgr. Hubertus Hermens,SVD Prefektur Apostolik Denpasar  mengirim saya  studi ke Mataloko  Flores tahun 1952. Di sana saya hanya studi 10 bulan (voor class) lalu ditarik kembali ke Bali untuk studi di SMP Seminari Tangeb tahun 1953-1955.

 

Tahun 1955 – 1961  melanjutkan ke Seminari Menengah Mertoyudan Magelang Jawa Tengah. Tahun 1961-1963 Novisiat SVD di Ledalero Maumere Flores. Tanggal 15 Agustus 1963  mengucapkan kaul pertama. Tahun 1963-1968  studi filsafat dan teologi di Seminari Tinggi Ledalero Maumere Flores. Tanggal 15 Agustus 1968 mengucapkan kaul kekal dilanjutkan tahbisan diakon di Ledalero Maumere Flores.

Tanggal 09 Juli 1969  ditahbiskan menjadi imam di Gereja Paroki Roh Kudus Babakan Bali oleh Mgr.Dr. Paulus Sani Kleden,SVD dengan motto: “Seorang imam dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah supaya mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa” (Ibr 5:1). Waktu sesudah tahbisan oleh saran sesepuh kita Bapak Johanes Maria  Cokorda Oka Sudharsana, saya harus ganti nama dengan nama yang beliau sarankan: Servatius I Nyoman Subhaga,SVD lalu supaya  menjadi lebih pendek menjadi Rm. S. Subhaga,SVD.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua

Menjadi Gembala “Berbau” Domba