50 TAHUN IMAMAT P.SUBHAGA (8)
Tahbisan Imam Sulung di Kampung Babakan
Paroki Roh Kudus Babakan
berkedudukan di Desa Canggu Kecamatan Kuta Utara Kabupaten Badung
Provinsi Bali. Gerejanya dibangun oleh
Pater Nobert Shadeg,SVD yang peletakan
batu pertamanya dilaksanakan pada 22
Agustus 1965 lalu diresmikan pada 8
Desember 1967 oleh Mgr. Dr. Paulus Sani
Kleden,SVD, uskup pertama Keuskupan Denpasar. Paroki Roh Kudus Babakan resmi menjadi paroki sendiri terpisah dari
Paroki Tritunggal Tuka sejak 8 Desember
1967 itu. Di Paroki itulah pada 9 Juli 1969
Pater Servatius Subhaga,SVD ditahbiskan menjadi imam.
Pater Servas tercatat lebih cepat menerima urapan imamat
dibandingkan dengan teman-teman satu angkatannya. Memang ketika para frater
satu angkatan dengan Pater Servas
mejalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP)
antara tahun 1965 – 1967 Pater
Servas tidak menjalani Tahun Orientasi Pastoral. Menurut
Uskup Emeritus Kherubim Pareira, Pater Servas dipandang sudah cukup dewasa sehingga tidak perlu menjalankan
tahun orientasi pastoral.
Menurut rekan satu
angkatan di Ledalero asal Bali Alexius I Nyoman Sentur Widjana Pater Servas
memang tidak menjalankan Tahun Orientasi Pastoral. Diakui Alexius
dirinya menjalankan Tahun Orientasi Pastoral
di Biara Bruder Santo Konrandus Ende
selama dua tahun dari 1965 sampai
1967. Ketika ia kembali ke Ledalero Pater Servas waktu itu sedang belajar teologi tahun
terakhir dan sedang mempersiapkan diri untuk menerima tahbisan Diakonat.
Setelah tahbisan diakon di Ledalero Diakon Servatius I
Nyoman Ronsong,SVD kembali ke Bali.
Seperti biasa ia bertemu dengan ibunya Ni Made Rente. Theresia
adik kandung Pater Servas memberikan kesaksian bahwa ibunya sangat bersukacita saat Pater Servas sudah
menerima tahbisan diakon. Dan ketika Pater Servas menyampaikan bahwa dirinya akan ditahbiskan menjadi imam
pada 9 Juli 1969 ibu Ni Made Rente tak
bisa menyembunyikan rasa syukur, rasa
bangga dan rasa haru disertai
dengan sikap penuh penyerahan. Ia
menyerahkan Servas putranya itu untuk menjawab panggilan Tuhan. Ibu Ni Made
Rente dan Ni Nyoman Warti telah dibaptis
menjadi katolik.
Menurut Alexius I Nyoman Sentur Widjana, tahbisan imamat
Pater Servatius I Nyoman Ronsong,SVD pada 9 Juli 1969 di Gereja Roh Kudus
Babakan itu merupakan peristiwa
besar bukan saja di kalangan umat
katolik tetapi juga umat Hindu. Sebab
tahbisan imam di Bali atas calon imam
asli orang Bali adalah yang pertama
kali sepanjang sejarah katolik di Bali. Alex mengatakan tahbisan
Pater Servas Subhaga waktu itu sangat
istimewa. Dihadiri oleh umat katolik dari seluruh Bali dan Lombok serta tokoh-tokoh Hindu. Semua imam yang
berkarya di Bali dan Lombok juga menghadiri tahbisan tersebut.
Menurut Theresia Ni Wayan Warti saat Pater Servas
ditahbiskan ia berusia 24 tahun dan
sudah menikah dengan Bernardus I Wayan Sudri serta sudah memiliki anak pertama
yakni Agustinus. Ibunya Ni Made
Rente dan dirinya berjalan kaki dari Batulumbung ke Gereja Babakan untuk
menghadiri tahbisan tersebut. Ibunya
duduk paling depan. Dan saat
Pater Servas akan menerima
tahbisan dari bapa Uskup Paulus Sani Kleden,
Pater Servas maju ke depan ibunya dan
melakukan sungkem. Saat itu ibu
meneteskan air mata. Ibu kelihatan sangat bangga.
Kesan yang sama juga disampaikan oleh Theresia Ni Made,
putri dari Ni Made Repiyem yang adalah adik kandung dari ibu Ni Made Rente.
Waktu Pater Servas ditahbiskan ia berusia 20 tahun. Ia melihat wajah bahagia dari ibu Ni Made Rente. Yang
sangat ia ingat adalah ibunya Lusia Ni Made Repiyem sangat tekun berdoa Rosario dengan ujud khusus agar Tuhan memanggil Servas menjadi imam. Sayangnya, saat Pater Servas
ditahbiskan ibu Lusia Ni Made Repiyem lebih dulu dipanggi Tuhan.
Menurut Alexius I Wayan Sentur Widjana yang dipercayakan
sebagai Ketua Panitia tahbisan pater Servas
adalah bapak Cok Gde Johanes Maria Oka Sudharsana yang baru beberapa tahun menjadi katolik.
Ia masih
aktif sebagai anggota TNI Angkatan Darat dan bertugas di Kodam IX
Udayana. Jadi persiapan untuk tahbisan itu
dibantu oleh anggota TNI dari Kodam IX Udayana. Bapak Cok Sudarsana
mengerahkan TNI untuk melakukan pengerasan jalan dengan tanah kapur dari Buduk sampai Gereja Babakan.
Uskup
pentahbis adalah Mgr. Dr. Paulus Sani
Kleden,SVD didampingi Mgr. Antonius Hubertus Tjijssen,SVD Uskup Larantuka. Setelah ditahbiskan menjadi
imam Pater Servas dibenum menjadi Pastor Pembantu di Paroki Hati Kudus Yesus Palasari
sejak Juli 1969 sampai dengan
tahun 1973. Ia lalu ditugaskan untuk
studi kateketik di STKat Pradnya Widya Jogyakarta sampai selesai pada tahun 1976. Dan sejak 1976 itu sampai sekarang berkarya di Paroki Santo Yoseph Denpasar.
Menurut Agustinus
I Wayan Sumarjaya putra sulung
dari ibu Theresia Ni Wayan Warti, sejak
tahun 1976 ia tinggal dengan nenek (dadong) Ni Made Rente di Batulumbung sedangkan orang tuanya Bernardus
I Wayan Sudri dan Theresia Ni Wayan Warti tinggal di Tuka yang rumahnya sekarang di depan Kopdit Tri Tunggal
Tuka. Pamannya Pater Servas sering
datang ke Batulumbung menengok ibunya.
Kadang-kadang menginap semalam. Cinta Pater Servas kepada ibunya
sungguh besar.
Pada 9 Juli 1994 Pater Servas merayakan 25 Tahun
Imamat dalam sebuah misa syukur di rumah
orang tuanya di Batulumbung.
Menurut Agustinus, pamannya itu ingin
bersyukur bersama umat di Batulumbung
dan para sahabat masa kecilnya. Saat merayakan 25 Tahun Imamat ibunya Ni
Made Rente telah tiada. Ibu Ni Made Rente meninggal dunia pada 1 September 1990. Perayaan Perak Imamat
yang sederhana tetapi sangat berkesan.
Pada 9 Juli 2009
Pater Servas mencapai 40 tahun usia
imamatnya. Pada Minggu 12 Juli 2009 Pater Servas merayakan syukur 40 Tahun
Imamat di Gereja Yesus Gembala Yang Baik
Ubung. Ia mengambil tema “Cukuplah Kasih Karunia-Mu Bagiku” (2Kor 12:9). Pada
perayaan 40 Tahun imamat ini Pater Servas
mendapat sapaan dari Superior Generalis P.Antonio M.Pernia,SVD. Dalam
suratnya kepada Pater Servas Superior
Jenderal menulis “Saya menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan atas nama
seluruh Serikat dan atas nama banyak orang yang telah memperoleh pelayananmu
yang istimewa, kimpah terima kasih dari hati yang iklas atas hidupmu yang
dipersembahkan bagi Allah dan atas pelayananmu bagi umat-Nya. Kami di rumah
Jenderalat sungguh berharap dan berdoa untukmu agar allah mencurahkan banyak
berkat bagi hidup dan karyamu yang memang penting untuk provinsi dan untuk serikat
kita. Sayua percaya bahwa sama saudara juga akan berdoa selalu bagi kami.
Hendaknya Allah melimpahkan berkat-Nya untuk Pater Servas dan kiranya kasih-Nya
menjadi imbalan yang paling berharga atas pekerjaan dan pengorbananmu”.
Bapa Uskup Denpasar Mgr. Dr. Silvester San, Pr juga pada
kesempatan itu menyapa Pater Servas.
“Sebagai pemimpin gereja local Keuskupan Denpasar saya merasa bangga dengan prestasi pelayanan
yang Romo tunjukkan. Romo adalah salah
satu pilar Gereja yang tangguh bagi Keuskupan Denpasar. Selama empatpuluh tahun
Romo berkarya di tengah umat dengan aneka tantangannya namun Romo tidak pernah
surut langkah. Apa yang room tanam dan siram, berbuah melimpah karena Allah
memberikan pertumbuhan. Dengan ketekunan dan kesetiaan Romo berjalan dan
terus berjalan mengikuti jejak Sang
Gembala Sejati. Peziarahan imamat Romo yang mencapai usia pancawindu kiranya memberi inspirasi bagi
setiap orang dalam mengelola setiap persoalan yang singgah dalam kehidupannya.
Sebab saya yakin, untuk meraih predikat pancawindu, Romo berjuang dengan
susah payah. Dan usia imamat yang relative matang ini akan menjadi teladan yang
amat bernilai bagi rekan-rekan imam khususnya serta umat pada umumnya. Sebab
siapa saja, dipanggil untuk tekun, taat dan setia atas pilihan hidupnya”.***
Komentar
Posting Komentar