Yesus Setelah 12 Tahun

Pertanyaan : Setelah peristiwa penemuan kembali Yesus di Kenisah di Yerusalem, mengapa tak ada kisah kelanjutan tentang Yesus sampai Dia tampil di hadapan umum? Apakah bisa dibenarkan jika dikatakan bahwa pada masa itu, Yesus belajar tentang Budhisme di India? 

Jawaban dari Romo Maria Handoko CM :
1.  Perlu diingat bahwa kitab-kitab Injil tidak ditulis sebagai biografi, tetapi sebagai kesaksian iman tentang Yesus sebagai Penyelamat atau Mesias (Kristus), atau Yesus Kristus adalah Anak Allah. Itulah Kabar Gembira yang diwartakan para murid Yesus. Tujuan ini nampak jelas pada awal Injil yang tertua, Injil Markus : “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah”. Karena itu, hanya bagian-bagian riwayat Yesus yang penting dan terkait dengan karya penyelamatan itu yang disajikan dalam kitab-kitab Injil. Kitab-kitab Injil tidak ditulis untuk menjawab keingin-tahuan tentang Yesus Kristus, tapi untuk mewartakan karya penyelamatan Yesus Kristus.
2.  Dalam ke-4 Injil yang diakui resmi, memang tidak ditemukan data tentang apa yang dilakukan Yesus di antara umur 12 – 30 tahun. Ada beberapa komentar insidentil atas hidup Yesus. Fakta ini bisa ditafsirkan, bahwa hidup Yesus pada masa itu biasa-biasa saja, sehingga tidak ada yang perlu dicatat. Memang sangat mungkin, bahwa Yesus tetap tinggal di Nazaret dan bekerja sebagai tukang kayu, melanjutkan pekerjaan bapak-Nya.
              Hal ini bisa disimpulkan dari Injil tertua, Markus, yang menyebut Yesus sebagai “tukang kayu” (Mrk 6:3) dan bukan “anak tukang kayu” seperti yang ditulis Matius (Mat 13:55). Ini berarti, bahwa Yesus sudah mempraktekkan profesi-Nya, sehingga orang-orang sekampung menyebut-Nya sebagai “tukang kayu”. Dalam pengajaran, Yesus menunjukkan pengenalan-Nya yang sangat baik tentang hidup seorang tukang kayu.
3.   Seperti anak-anak Yahudi pada umumnya, sangat mungkin Yesus juga dididik untuk mengenal dan menguasai Kitab Suci, sehingga secara sangat tangkas dan spontan Yesus bisa berdiskusi dan merujuk pada teks-teks Kitab Suci. Hal ini pasti dilakukan pada tahun-tahun tersembunyi di Nazaret.
4.  Ketika Yesus mengajar dan membuat banyak mukjizat, orang-orang sekampung Yesus terheran-heran dan mempertanyakan asal-usul ajaran Yesus. “Darimana diperoleh-Nya semuanya itu. Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan, mukjizat-mukjizat yang demikian, bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya!” (Mrk 6:2). Seandainya Yesus benar pergi ke India atau tempat lain, pasti komentar itu tidak akan muncul. Reaksi orang-orang sekampung Yesus menunjukkan bahwa Yesus dikenal sebagai seorang yang biasa dan normal.
5.  Yesus dikenal sungguh-sungguh bukan hanya sebagai seorang pribadi, tapi juga dikenal melalui saudara-saudari sepupu-Nya. “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas, dan Simon? Dan, bukankah saudara-saudara laki maupun perempuan ada bersama kita? Lalu, mereka kecewa dan menolak Dia” (Mrk 6:3; bdk Mat 13:53-58; Luk 4:23-30). Saudara-saudara laki maupun perempuan Yesus mereka kenal dengan baik, maka pasti tak ada keterangan yang terluputkan. Sekali lagi, hal ini menunjukkan Yesus tinggal di Nazaret dan menjalankan pekerjaan secara biasa dan pada umumnya, serta menjadi bagian dari Nazaret sehingga cukup dikenal oleh orang-orang sekampung.
6.  Memang ada Injil Yakobus dari abad kedua Masehi yang melukiskan banyak hal tentang Yesus dan keluarga-Nya, tapi injil ini tidak diakui sebagai resmi dan diilhami oleh Roh Kudus. Ada gambaran yang bisa dibenarkan, tapi banyak juga yang patut dipertanyakan. Diamnya Kitab Suci tentang data ini menunjukkan bahwa Allah Putra sungguh-sungguh menjadi manusia seperti kita, sehingga manusia tak lagi mengenali kehadiran atau pribadi Allah. Yesus melewati seluruh proses untuk menjadi manusia***



(oleh Romo Maria Handoko CM : Imam Konggregasi Misi, doctor Teologi Dogmatik Universitas Gregoriana Roma dalam “Konsultasi Iman” - Majalah HIDUP 7 Januari 2018, hal 18)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua

Menjadi Gembala “Berbau” Domba