Pada Panah Mata-Mu
Pada panah mata-Mu
Aku menjerit-jerit
Gemetar seluruh tubuhku
Nadi-nadiku terasa ngilu
Dan pembuluh darahku hilang rasa
Betapa tajamnya kilatan sorot mata-Mu
Menembus pada kedalaman jiwaku
Aku tidak takut pada sorot mata serdadu
Meski di tangannya menggenggam bedil
Dan mengarahkan moncongnya di dadaku
Aku tidak takut pada algojo-algojo
Yang menyeringai seperti harimau kelaparan
Menggertak dengan kertakan giginya
Dan menghunuskan pedang ke arahku
Sambil berteriak: Kubunuh kau!
Aku siap menghadangnya
Karena baik mati maupun hidup
Telah kupercayakan pada-Mu
Sebab Engkau bentengku
Aku tak akan jatuh ke tangan kaum durjana
Sebab Engkau tak pernah melepasku
Biarpun hanya satu detik saja
Aku bahkan tidak takut
Pada seribu binatang buas
Yang dengan taringnya yang tajam
Bisa meremukkan daging tulangku
Melahap daraku sampai kering
Dan menelanku sampai tak tersisa
Aku tidak takut pada kekuatan gaib
Karena imanku hanya pada-Mu
Tetapi Engkau tahu ya Tuhan
Betapa rapuh jiwaku
Betapa lemah daging tulangku
Betapa kerdilnya imanku
Aku sering mengkhianati-Mu
Bukan sekali atau dua kali
Meski dari bibirku sering kudaras tobat
Dengan luluran keringat dan lelehan air mata
Tuhan, mengapa malam ini
Sorot mata-Mu menikamku
Dan aku gemetar dalam dekap-Mu?
Mengapa mata-Mu tajam menembus jiwaku
Dan aku rebah di hadapan-Mu?
Tuhan, ini tobat mesti kurajut lagi
Meski aku tahu belum sempurna.***
Denpasar, dini hari 20 Januari 2018
Aku menjerit-jerit
Gemetar seluruh tubuhku
Nadi-nadiku terasa ngilu
Dan pembuluh darahku hilang rasa
Betapa tajamnya kilatan sorot mata-Mu
Menembus pada kedalaman jiwaku
Aku tidak takut pada sorot mata serdadu
Meski di tangannya menggenggam bedil
Dan mengarahkan moncongnya di dadaku
Aku tidak takut pada algojo-algojo
Yang menyeringai seperti harimau kelaparan
Menggertak dengan kertakan giginya
Dan menghunuskan pedang ke arahku
Sambil berteriak: Kubunuh kau!
Aku siap menghadangnya
Karena baik mati maupun hidup
Telah kupercayakan pada-Mu
Sebab Engkau bentengku
Aku tak akan jatuh ke tangan kaum durjana
Sebab Engkau tak pernah melepasku
Biarpun hanya satu detik saja
Aku bahkan tidak takut
Pada seribu binatang buas
Yang dengan taringnya yang tajam
Bisa meremukkan daging tulangku
Melahap daraku sampai kering
Dan menelanku sampai tak tersisa
Aku tidak takut pada kekuatan gaib
Karena imanku hanya pada-Mu
Tetapi Engkau tahu ya Tuhan
Betapa rapuh jiwaku
Betapa lemah daging tulangku
Betapa kerdilnya imanku
Aku sering mengkhianati-Mu
Bukan sekali atau dua kali
Meski dari bibirku sering kudaras tobat
Dengan luluran keringat dan lelehan air mata
Tuhan, mengapa malam ini
Sorot mata-Mu menikamku
Dan aku gemetar dalam dekap-Mu?
Mengapa mata-Mu tajam menembus jiwaku
Dan aku rebah di hadapan-Mu?
Tuhan, ini tobat mesti kurajut lagi
Meski aku tahu belum sempurna.***
Denpasar, dini hari 20 Januari 2018
Komentar
Posting Komentar