Membaharui Janji Perkawinan

Perayaan Ekaristi Minggu  pagi 31 Desember 2017  di Gereja Yesus Gembala Yang Baik Ubung  bertepatan dengan Pesta Keluarga Kudus  Nasaret Yesus, Maria dan Yoseph. Perayaan ekaristi dipimpin oleh Pastor Paroki Pater Yohanes Madya,SVD. Misa diiringi musik liturgis yang dibawakan oleh Orang Muda Katolik Paroki St. Yoseph Denpasar.
       Pada  perayaan ekaristi tersebut juga  hadir  sejumlah pasangan  suami istri  yang merayakan Hari Ulang Tahun Perkawinan pada bulan November dan Desember. Pada salah satu bagian dari perayaan ekaristi tersebut sesudah homili mereka membaharui janji perkawinan yang pernah mereka ucapkan di depan altar di hadapan imam dan umat saat menikah. Usia perkawinan mereka ada yang di atas 30 tahun  dan ada yang di atas 10  tahun sampai  25 tahun. 
        Dalam homilinya Pater Yan  mengatakan bahwa  Minggu Pesta Keluarga Kudus Nasaret merupakan  puncak dari minggu keluarga di Keuskupan Denpasar. Maka  suami dan istri agar membaharui lagi janji nperkawinan, suatu  janji yang luhur dan mulia yang pernah diucapkan di depan altar saat  saling menerimakan sakramen perkawinan. Pater Yan ingatkan bahwa suatu janji yang luhur  dan mulia tidak selalu mudah untuk  diwujudkan, Maka dibutuhkan pertolongan rahmat Tuhan  agar keluarga mampu dengan setia menghayati nilai-nilai sakramen perkawinan dalam hidup berkeluarga. 
          Pater Yan lebih lanjut katakan perkawinan adalah penyatuan dua keilahian dan yang ketiga mungkin akan terlahir di dunia. Itulah penyatuan dua jiwa dalam cinta yang agung untuk penghapusan perpisahan. Itulah penyatuan yang lebih mulia yang menyatukan kesatuan-kesatuan yang terpisah di antara dua jiwa. Itulah cincin emas yang berawal dari sebuah tatapan dan berakhir dalam Keabadian. Itulah tetes-tetes hujan suci yang memberi berkat bagi ladang-ladang Alam Keilahian.
     Dengan mengutip buah pikiran penyair Kahlil Gibran, Pater Yan  tegaskan, kasih hati manusia terbagi-bagi seperti cabang-cabang pohon cedar. Apabila pohon itu kehilangan salah satu cabangnya yang kokoh, ia akan menderita tapi tidak mati. Ia akan mencurahkan seluruh jiwanya ke dalam cabang baru sehingga cabang itu akan tumbuh dan mengisi ruang-ruang kosong. Kebijaksanaan tidak terletak dalam kata-kata. Kebijaksanaan adalah makna di balik kata-kata. 
      Manusia berusaha untuk menemukan kehidupan di luar dirinya, tanpa menyadari bahwa kehidupan yang ia cari sebenarnya berada di dalam dirinya sendiri.Manusia tidak menjadi mulia karena keturunan; berapa banyakkah bangsawan yang merupakan keturunan para pembunuh? Carilah nasehat dari orang-orang tua, sebab mata mereka sudah melihat wajah-wajah zaman dan telinga mereka sudah mendengar suara-suara Kehidupan. Bahkan jika nasehat-nasehat mereka tidak menyenangkan hatimu, tetaplah beri perhatian dan hormat padanya.
      Pater Yan minta agar  dalam hidup berkeluarga, hendaklah saling menghormati. Suami menghormati istri dan istri menghormati  suami. Anak-anak  menghormati orang tua dan orang tua  menghormati anak-anak. Tidak ada keluarga  yang sempurna tetapi dengan saling menghormati, saling memahami dan saling mengerti satu dengan yang lain, mahligai perkawinan  akan tetap utuh dalam ketidaksempurnaan sebagai manusia.  Pater Yan minta  agar keluarga-keluarga katolik meneladani cara hidup Keluarga Kudus Nasaret, Yesus, Maria dan Yusuf.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Penyimpanan dan Penghormatan Ekaristi

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua