Berhala Zaman NOW
DALAM HIDUP edisi No 50, 10 Desember 2017 ada satu tulisan dengan judul “Ekaristi dan Handphone”. Fredy Ndalung selaku penulis menyatakan bahwa HP dalam Ekaristi dilarang oleh Gereja. Sebab yang ditekankan dalam Ekaristi adalah hati yang terarah kepada Tuhan yang hadir. Berikut adalah tanggapan seorang siswa Seminari Menengah Mertoyudan.
Saya sendiri ikut menyadari bahwa kemajuan teknologi tanpa disertai penggunaan yang tepat dapat menjadikan penghayatan kita terhadap Ekaristi mengalami kemunduran. Berdasarkan pengalaman saya pribadi sebagai orang muda Katolik, mengakui bahwa orang-orang yang amat tergila-gila pada ilmu dan teknologi adalah salah satu bentuk penyembahan berhala. Sebab secara rasional saya sendiri berpikir, ketika seseorang mulai memuja-muja teknologi dalam artian seluruh pikiran dan tenaga habis untuknya, maka tanpa disadari kehadiran Tuhan semakin tersingkirkan dalam hidupnya. Adapun gejala itu dapat disebut sebagai bentuk pankosisme. Istilah pankonisme itu sendiri berasal dari kata Yunani pan yang berarti segala, semua, seluruhnya, dan kosmos, yang berarti alam yang teratur. Pankosisme merupakan pandangan yang berpendapat bahwa alam raya dengan segala isinya termasuk HP itu adalah satu-satunya realitas. Tidak ada realitas lain di luarnya. Akibatnya, Tuhan tidak ada tempat di dunia. Bahayanya, gejala demikian berujung pada penyangkalan terhadap Tuhan.
Sedikit berbagi pengalaman. Tahun ini adalah tahun kedua saya berproses di Seminari Menengah Mertoyudan. Awalnya, saya merasa tidak ada hal yang begitu berbeda dengan kaum-kaum sebaya saya di luar sana, sebab sejak pertama kali saya berproses di seminari, saya sudah dapat mengakses layanan internet yang mana sungguh membantu saya, juga para seminaris lainnya, dalam proses belajar. Namun, karena sifat alami manusia yang terkadang tidak puas akan hal yang telah dimilikinya, membuat saya sendiri merasa seperti ada batasan-batasan tertentu dalam kehidupan formasi saya di seminari ini. Konkritnya, pihak seminari hanya menyediakan empat komputer berbasis internet yang dibagi ke dalam empat angkatan. Itu artinya layanan internet begitu terbatas. Meskipun demikian, saya senantiasa diajak untuk berpikir cerdas dan kreatif, di samping adanya pembatasan dalam mengakses internet. Sehingga, jangan sampai saya sendiri menganggap internet adalah hal yang utama dan pantas dipuja-puja.
Dalam pengamatan saya, perlu asuhan yang benar akan penggunaan internet dan media teknologi lainnya. Tidak ada yang melarang asalkan semuanya itu sesuai dengan koridor masing-masing. Dengan demikian, hati, budi, pikiran, dan tenaga tidak terjebak pada pusaran arus globalisasi yang amat duniawi ini, tetapi hanya kepada Allah. Oleh karena itu, marilah bangun diri kita untuk senantiasa memberi diri secara total dan tulus hanya kepada-Nya. Bukan pada HP, si pemberi kenyamanan semata. Kita memang diberi kebebasan, tetapi bagaimana kita bertanggung jajwab atas kebebasan itu dalam rangka perutusan hidup kita masing-masing di dunia .***
(oleh Beda Holy Septianno dalam Majalah HIDUP No 02, 14 Januari 2018, hal 6-7)
Komentar
Posting Komentar