Arah Dasar Keuskupan Denpasar
Gereja Katolik Keuskupan Denpasar merupakan kawanan kecil yang sedang berziarah di tengah dunia. Ini adalah realitas menyejarah yang sekaligus melampaui sejarah (bdk. Lumen Gentium). Kita menyadari bahwa Gereja Katolik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat dunia yang terus menerus berubah dengan cepat (speed), mengejutkan (surprise) dan tiba-tiba (sudden shift), sesuai dinamika global dengan ciri perubahan yang dinamis, tidak jelas, kompleks (complexity) dan kemenduaan (ambiguity) (bdk GS 1). Gereja diharapkan ikut membarui diri dan terlibat menentukan masyarakat dunia dengan memberi kesaksian iman yang tangguh, mandiri dan berkualitas.
“Arah Dasar” kita pahami sebagai pedoman/panduan dalam hidup menggereja yang disepakati dan dilaksanakan secara bersama seluruh umat Katolik Keuskupan Denpasar. Arah Dasar terdiri dari 4 unsur yaitu : cita-cita; perutusan; sasaran prioritas pelayanan dan ungkapan harapan.
Setelah melalui diskusi yang panjang dan permenungan yang mendalam, Arah Dasar Keuskupan Denpasar 2018 – 2022 dirumuskan sbb. : MENUJU GEREJA YANG BERIMAN TANGGUH, MANDIRI DAN BERANI BERSAKSI DALAM MASYARAKAT MAJEMUK”. Pokok-pokok pikiran rumusan arah dasar Keuskupan Denpasar (2018 – 2022) yang harus menjadi perhatian kita bersama adalah :
1. GEREJA
Kata “Gereja” berasal dari bahasa Portugis, “igreja” yang diambil dari bahasa Yunani ekklesia, berarti “kumpulan”, “pertemuan”, “rapat”. Paus Fransiskus menjelaskan ekklesia sebagai “pertemuan akbar orang-orang yang dipanggil” : Allah memanggil kita semua untuk menjadi keluarga-Nya. Gereja adalah kasih Allah yang diaktualisasikan dalam mencintai diri-Nya (ke dalam), semua orang, tanpa membeda-bedakan (ke luar). Gereja menjadi nyata ketika karunia Roh Kudus memenuhi hati para Rasul dan membakar semangat mereka untuk pergi ke luar dan memulai perjalanan mereka untuk mewartakan Injil, menyebarkan kasih Allah (bdk. Mrk 3:13-19; Mrk 16:16).
Gereja Katolik yang bericirikan satu, kudus, katolik dan apostolik, hadir dan terlibat mengambil bagian dalam suka dan duka dunia. Gereja Katolik adalah Gereja Universal. Secara manusiawi Gereja universal adalah persekutuan Gereja-Gereja lokal, tetapi secara ilahi, adalah Gereja Kristus, yang hadir dalam Gereja-Gereja lokal tersebut. Gereja itu adalah misteri rahmat Allah yang tak kelihatan, sakramen (atau tanda) dan sarana yang membuat rahmat ilahi itu menjadi nyata bagi manusia. Oleh karena itu, bila semua Gereja lokal berkomunio, maka tidak akan terjadi banyak Gereja Kristus, melainkan Gereja Kristus yang satu. Gereja universal dipimpin oleh Paus (Bapa Suci). Sedangkan Gereja Lokal dipimpin oleh Bapa Uskup. Keuskupan merupakan kesatuan Gereja Lokal dengan Gereja Universal yang menampakkan secara nyata, keduanya tak terpisahkan.
Gereja, baik lokal maupun universal berada di tengah dunia yang terus berubah di era digital dengan generasi millenialnya. Generasi itu disebut juga generasi Y, adalah sekelompok orang yang lahir pada kisaran tahun 1980-2000-an. Generasi Millenial sendiri dianggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, terutama dalam hal yang berkaitan dengan teknologi.
2.GEREJA BERIMAN TANGGUH
Iman merupakan hubungan essensial-aktual antara Allah yang memanggil dan manusia yang menjawab. Suatu perjumpaan yang selalu menantang. Iman adalah pemberian atau karunia yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita melalui Roh Kudus. Gereja yang beriman tangguh membutuhkan rahmat Allah yang mendahului dan menolong serta bantuan Roh Kudus yang menggerakkan kita. Orang yang beriman tangguh hidupnya berpusat pada Kristus serta mempunyai hubungan intim dan personal dengan-Nya. “Dia mengutamakan Allah dalam segala hal dan tanpa Allah dia tidak dapat melakukan apa-apa” (Yoh 15:5). Gereja yang beriman tangguh berarti memiliki iman yang sungguh kuat, tidak terpengaruh oleh apapun dan siapapun, sampai kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun. Ketangguhan iman diuji melalui ketaatan kepada Yesus Tuhan dan misi-Nya di dunia. Dalam ketaatan iman tersebut manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah dengan segenap akal budi dan kehendak yang penuh kepada Allah pewahyu….(Dei Verbum 5). Sinode IV menegaskan dan mengajak kita semua umat beriman meneladani iman para tokoh KS sebagai orang yang beriman tangguh seperti Abraham dan Ayub (Perjanjian Lama), Bunda Maria dan Rasul Paulus (Perjanjian Baru). Umat beriman Katolik diharapkan menjadi orang yang percaya dengan teguh dan mengakui dengan jujur bahwa hanya ada satu Allah yang benar, kekal, tidak terbatas, dan tidak berubah, tidak dapat dimengerti, maha kuasa dan tidak terkatakan yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus….” (Katekismus Gereja Katolik 202)
3.GEREJA YANG MANDIRI
Mandiri dimengerti sebagai “berdikari”; tanda kedewasaan dan kematangan. Gereja mandiri berarti menjadi Gereja yang telah dewasa dan matang (sudah teruji karena mampu mengurus diri sendiri), tidak bergantung pada pihak luar dan bisa menghidupi diri sendiri secara material dan spiritual. Kemandirian Gereja dimaksud mandiri dalam bidang spiritual, finansial, sarana-prasarana, sumber daya manusia tertahbis maupun terbaptis.
Gereja dapat disebut mandiri karena matang dan dewasa. Semangat yang hendaknya menjadi inspirasi Gereja adalah corak hidup Gereja perdana (Kis 2:42-47), Gereja diutus untuk semua bangsa (Missio ad Gentes AG 19; RM 48). Gereja mandiri sudah dimulai pada masa Paulus di mana dia berkeliling mewartakan Injil dari kota ke kota, melayani umat Allah, mengunjungi mereka. Dalam perjalanan tersebut Paulus mewartakan Sabda Allah. Untuk membangun Gereja mandiri, Paulus memilih para tokoh dari tempat atau wilayah itu. Kemandirian mendorong semangat solidaritas.
4.GEREJA YANG BERSAKSI
Gereja bersaksi dengan menjadi “Garam dan Terang dunia” (bdk Mat 5:13-16). Seperti para murid kita diminta agar melakukan perbuatan yang mengantarkan orang-orang untuk memuliakan Allah Bapa. Maksudnya ialah agar perbuatan dan tingkah laku kita menjadi bentuk kehadiran Allah dan Gereja-Nya di dunia. Kita tidak bisa tinggal hanya di dalam kelompok sendiri, tetapi harus ikut berperan di berbagai bidang kehidupan (tata dunia). Di zaman globalisasi panggilan untuk bersaksi sebagai garam dan terang bagi dunia semakin besar. Siapa saja murid-murid Tuhan yang tidak bersaksi akan menjadi hambar dan padam. Gereja hendaknya tetap menampilkan jati diri yang sesungguhnya, berani keluar dari kenyamanan untuk bersaksi. Gereja tidak menjadi ghetto (kelompok besar orang per orang yang anonym), tetapi sebagai ikatan kesatuan manusiawi yang mengantar setiap orang untuk memberikan kesaksian tentang Yesus dan seluruh visi, misi perutusan-Nya ke tengah dunia. Gereja yang bersaksi harus dimulai dari dalam (membangun identitas, karakter) dan bergerak ke luar (mewartakan-evangelisasi). Gereja menjadi signifikan karena memiliki identitas, karakter melalui pembentukan iman sepanjang hayat (total community catechesi Thomas Groome). KBG sebagai sel kecil Gereja hendaknya dievangelisasi oleh Sabda Allah dan menjadi pelaku Evangelisasi. Tujuannya agar menjadi murid-murid Kristus dan kemudian keluar memberi kesaksian hidup sebagai garam dan terang dunia. Gereja harus bergerak dari Sabda kepada Kehidupan, dari Mimbar Altar ke Pasar.
VISI DAN MISI KEUSKUPAN DENPASAR 2018 – 2022
•VISI : “Persekutuan umat Katolik Keuskupan Denpasar yang beriman tangguh, mandiri, dan berani bersaksi dalam Masyarakat majemuk”
•MISI :
1.Melakukan formasi iman umat sepanjang hidup (Katekese dan Liturgi)
2.Meningkatkan kualitas kepemimpinan pastoral
3.Melaksanakan kaderisasi dan pembinaan OMK
4.Menumbuhkembangkan Gereja yang mandiri dan berbelarasa
5.Mendorong umat untuk bersaksi dalam masyarakat majemuk
6. Membangun semangat Evangelisasi dan Perutusan dalam KBG
7.Mengembangkan Program Pastoral kontekstual yang berbasis data
8. Meningkatkan sinergitas pelayanan pastoral mulai dari para pemimpin
9. Meningkatkan kualitas Pendidikan Katolik
10.Membina keluarga Katolik sebagai Ecclesia Domestica yang sejahtera
11.Menghimbau dan mendorong umat untuk tertib ber-KBG
12.Menghadirkan Gereja dalam wajah budaya lokal
13.Meningkatkan kesejahteraan umat melalui pemberdayaan ekonomi
14.Mendorong kaum awam untuk terlibat aktif dalam bidang politik
15.Membangun Gereja yang terlibat aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (Empat Pilar : Pancasila, NKRI, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika)
SPIRITUALITAS KEUSKUPAN DENPASAR
Peziarahan hidup Gereja Lokal Keuskupan Denpasar membutuhkan daya ilahi yang menjadi motor penggeraknya. Setelah mengadakan discernment dan diskusi Sinode menyepakati Spiritualitas hidup dan pelayanan pastoral Keuskupan Denpasar adalah : “Akulah Gembala Yang Baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh 10:10-11)
Spiritualitas model Yesus Gembala yang baik merupakan kristalisasi dari Gereja yang beriman tangguh, mandiri dan berbelarasa serta bersaksi dalam masyarakat majemuk. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus menjadi “roh”, “spirit”, untuk menjalankan hasil Sinode IV antara lain : kepemimpinan yang melayani dengan murah hati, mau berkorban, mengarahkan, memberi semangat, bekerja keras, memberdayakan, visioner dan inovatif-kreatif
Catatan :
“Arah Dasar Keuskupan Denpasar, Visi & Misi, serta Spiritualitas” dengan sengaja kami muat dalam Warta kita ini untuk diketahui dan dilaksanakan oleh semua kita, umat Allah di Keuskupan Denpasar 5 tahun ke depan. Berita lengkap seputar Sinode IV, silakan baca Majalan Bulanan AGAPE “Sinode IV Tuntas” Edisi Desember 2017 – Januari 2018.***

Komentar
Posting Komentar