WAWANCARA DENGAN PASTOR PAROKI MATARAM ROMO LAURENS MARYONO,PR
Pewawancara: Agustinus G
Thuru/Seksi Dokumentasi & Publikasi Panitia Sinode IV Keuskupan Denpasar
HASIL WAWANCARA
A.
TENTANG
KBG
1. Bagaimana
romo sendiri melihat KBG-KBG di Paroki
romo dalam hal jumlah, keaktifan, kedekatan dan kegiatan yang dijalanan?
Jawab:
KBG
idealnya terdiri dari beberapa KK, antara 10 sampai 15 keluarga. Namun secara fakta
KBG di Paroki Mataram dan Praya tidak
mencapai angka itu.Misalnya satu lingkungan hanya ada tujuh KK, mereka
membentuk Lingkungan, tetapi kegiatannya
adalah KBG. Wilayah teritorial tempat tinggal umat juga berjahan satu
sama lain. Walaupun secarateritorial
tempat tinggal mereka berjauhan, namun keaktifan mereka dalam melaksanakan berbagai kegiatan katekese berjalan. Partisipasi anggota KBG
cukup baik. Untuk yang tinggal di BTN
itu satu kompleks jadi tidak ada masalah. Yang di luar BTN itu berjauhan, berdiaspora, tetapi mereka
tetap berusaha untuk berkumpul. Mungkin karena tempat tinggal mereka
berjauhan, kedekatan emosional sangat akrab. saat bertemu mereka sangat akrab.
Kegiatan yang dijalankan di KBG itu jelas, sesuai dengann program yang mereka
sepakati bersama. Kegiatan-kegiatan
seperti APP, AAP, bulan Mei,
bulan kitab suci, bulan Oktober semuanya
mereka jalankan. Di sela-sela itu ada kegiatan rutin yakni doa lingkungan.
2. Penilaian
romo tentang praktek hidup menggereja melalui KBG?
Jawab:
Praktek
hidup menggerja di paroki, mereka betul-betul adalah umat yang berdiaspora,
kawanan kecil, menjadi saksi yang memancarkan wajah Kristus. Umat katolik
melakukan ini di lingkungan hidup mereka. Sebab mereka sadar tinggal dan beraktifitas di tengah
orang-orang yang beragama lain. Mereka dituntut untuk bisa membaur di antara umat
beragama lain.
3. Apa
yang telah dilakukan oleh romo selama ini
untuk membuat anggota KBG maki paham tentang KBG, makin aktif dan
fasilitator makin berkualitas?
Jawab:
Pertama,
terus menjelaskan kepada umat tentang pemahaman KBG berdasarkan teritorial
tinggal dimana mereka tinggal bertetangga antara 10 sampI 15 kepala keluarga. Mreka
disadarkan terus supaya mereka bisa ikut KBG dimana mereka tinggal. Untuk memberdayakan
KBG kami lakukan kunjunganuntuk doa
KBG/Lingkungan, kunjungan untuk misa KBG/Lingkungan. Mereka juga dilibatkan
untk mengikuti kegiatan suka dan duka di
lingkungan tempat tinggalnya. Umat juga aktif di gereja, menjalankan
tugas-tugas liturgi dan tugas lainnya yang telah diberikan pada mereka. Jadi
merek cukup aktif di Paroki meskipun
saya tahu mereka sangat sibuk dengan
pekerjaan mereka masing-masing.
4. Apa
saja yang menjadi kekuatan dan kelemahan yangdihadapi umat dan juga petugas
pastoral dalam membangun KBG yang ideal di paroki?
Jawab:
Kekuatannya,
gereja kita dan umat kita berada dan
tinggal dalam wilayah diaspora, kawanan
kecil. Karena itu benar-benar menjadi semakin tertantang. Maka harus membangun
komunitas kecil salah satunya KBG dan
juga keluarga. Dampak positifnya, sadar sebagaiumat diaspora maka KBG juga
menjadi solid dan kompak.Meski harus
diakui para fasilitator masih harus dibekali agar mereka semakin handal dalam membangun KBG.
5. Apa
peluang dan tantangan yang romo lihat dalam membangun KBG?
Jawab:
Keinginan
kita adalah KBG yang ideal. Ini bisa
tercapai karena ada peluang dimana umat tinggal di BTN (Perumnas) yang
penghuninya pluralis atau majemuk. Namun kenyataan umat kita bisa mudah
berkumpul. Banyak perumahan mejadi
tempat tinggal umat. Ada perumahan yang sampai lima KBG. JadiKBG di perumahan itu tumbuh dan berkembang. Tantangannya, kesadaran
orang untuk mau bergabung masih rendah. Mereka datang ke Lombok bukan untuk
cari KBG atau gereja tetapi untuk cari makan. Tak heran kalau mereka kurang aktif ke gereja. Maka mereka harus
dipacu agar dalam kesibukan mereka tetap ingat Tuhan.
6. Apa
usul dan saran dalam Sinode IV untuk membangun KBG?
Jawab:
KBG
yang dulu kami alami di Paroki mayoritas
katolik tidak ada tantangan. Tetapi KBG kami di Lombok ini hidup
diaspora, hidup diantara umat lain maka perlu dibangun kekuatan iman supaya
mampu bersaksi di tegah masyarakat majemuk. Iman mereka di sini teruji melalui
kerusuhan beberapa tahu lalu. Maka iman
mereka harus ditingkatkan, pembekalan fasiltator juga perlu ditingatkan.
Meskipun konteks wilayah berbeda
antara Lombok Barat, Lombok Tengah dan
Lombok Timur tetapi mereka harus dimotivasi untuk berani mengatakan diri
sebagai orang katolik.
B.
EVALUASI
PELAKSANAAN PROGRAM 2012-2016
A.
TAHUN
2012
TENTANG KATEKESE
1. Apakah
kegiatan katekese dll membuat kehidupan rohani umat semakin berkualitas?
Jawab:
Pertama
bahwa umat di sini keimananannya punya dasar
tidak semuanya sama bahkan ada yang iman napas (Natal dan paskah). Ada yang
ke gereja tidak rutin karena mereka
merantau cari makan sehingga tidak sempat. Mmotivasi mereka melalui media
mimbar altar rupaya tidak efektif. Maka kami ada peluang atau kesempatan di KBG
dan seluruh kalenderarium baik nasional maupun keuskupan diterapkan di KBG. Peluang untuk pendalaman iman bagi umat sangat
terbuka karena mereka umumnya hadir meskipun tidak semua. Kesempatan gereja untuk
memotivasi umatnya sangat terbuka luas. Lepas dari berapa yang hadir. Tapi
gereja membuka kesempatan seluasnya
untuk demi perkembangan umatnya.
2. Apa
tantangan dalam melaksaakan katekse di
paroki? Bagaimana dengan kemampuan tim fasilitator?
Jawab:
Tantangannya
jelas bahwa kegiatan yang ideal tadi dari respon umat minim untuk pendalaman
kitab suci. Umat yang 2000-an tidak mungkin ikut seratus persen. Alasannya
mereka ke Lompok untuk cari makan sehingga kesempatan itu tak terjangkau. Umat
hanya ke gereja pada hari minggu saja. Tim fasilitator berupaya untuk terus melakukan pendampaingan pada umat di
KBG. Para fasilitator juga mendapatkan
pendampingan.
3. Apa
usul saran room agar kegiatan katekese ke depan lebih berkualitas?
Jawab:
Kegiatan
pendalaman kitab suci itu tidak lain untuk membekali para fasilitator untuk
membangun iman agar mereka semakin terbuka
sehinga ini sangat terbuka. Sampai lima tahun berjalan, respon umat
sangat tinggi. Keuskupan memilih ini tentu berdasarkan tanggapan umat. Kami
para pastor juga terus diberdayakan supaya pahamkitan suci dan itu tercapai.
Kami membantu agar umat bisa mengenal kitab suci. Kitaharapkan umat bisa
melanjutkan.
TENTANG
LEMBAGA PENDIDIKKAN KATOLIK
1. Apakah
lembaga Pendidikan katolik masih menjadi pilihan utama uat di paroki?
Jawab:
Soal
pertanyaan itu di Mataram ini karya yang menonjol adalah Pendidikan dan itu
sudah berlangsung puluhan tahun lalu. Ada TK/PAUD, ada TPA, ada SD, SMP dan SMA. Itu muridnya ada ribuan. Dengan
sekolah katolik, keberadaan gereja semakin nyata. SMP bahkan menjadi pioner,
alumni menjadi tokoh, dulu sebelum muncul banyak sekolah negeri. Mataram ini
ada sekolah non katolik yang bermunculan, ada sekolan negeri, sekolah kristen.
Saya berharap orang katolik harus menyekolahkan
anak-anaknya di sekolah katolik. Sebab
pilihan umat katolik untuk pendidikan anaknya ke sekolah katolik
bukan pilihan utama. Saya mengharapkan umat katolik anaknya sekolah ke sekolah
katolik tetapi hak orang tua sekolahkan anaknya kemana saja, kita tak bisa
melarang.
2. Apa
tantangan dan permasalahan yangdihadapi oleh orangtua dalam ha Pendidikan anak?
Jawab:
Menurut
mereka orang tua, sekolah katolik bukan
menjadi pilihan utama karena sekolah katolik mahal dibandingkan dengan
sekolah non katolik. Mereka beranggapan bahwa
sekolah katolik kurang bermutu
dibandingkan dengan sekolah lainnya. Mereka menilai sekolah katolik masih standar biasa dari segi kualitas. Opini
bahwa sekolah katolik masih membayar dan bagi dia mahal, pada hal mahal
dalam yang dimaksud ia bandingkan dengan sekolah negeri yang gratis. Jadi
sekolah katolik mndapat tantangan dari masyarakat, dari umat katolik sendiri
dan juga dari pemerintah terutama dari
aegi pembiayaan. Maka dampaknya adalah jumlah murid terus menurun.
3. Apa
usul dan saran room bagi lembaga Pendidikan katolik agar mampu melaksanakan
karya Pendidikan lebih berkualitas?
Jawab:
Sekolahkatolik
harus meningkatkan kualitas, meningkatkan mutu agar bisa bersaing dengan
sekolah lain. Haruspunya nilai plus,
unggul, perlu peningkatan tenaga kependidikkan. Bagi sekolah katolik agar diberikan bea siswa kepada
anak-anak katolik yang mauke sekolah
katolik. Ini harus lebih serius.
B.
TAHUN
2013
TENTANG OMK
1. Apakah
romo mengetahi dan memahami program kerja Komkep Keuskupan Denpasar?
Jawab:
Kalau
program dari keuskupan selamaini kita ikut terus. Kita jalankann mulai dari
tingkat paroki sampai dekenat. Kita ikut
IYD tingkat dekenat, keuskupan dan lain-lain. Bahkan kita
juga ikut IYD nasional.
2. Bagaimana
implementasi program kerja Kokep di Paroki?
Jawab:
Semua
kegiatan selalu berdampak positif punya nilai dan efek positif untuk
membangkitkan minat orang muda katolik. Untuk Mataram dan Praya kami serahkan
kepada Romo Ely sebagai moderatornya.
3. Apa
saja kegiatan OMK di paroki yang menonjol?
Jawab:
Yang
menonjol selama ini adalah koor. Mereka
termasuk salah satu yang melayani
liturgi di gereja secara rutin sesuai dengan jadwal tugas. Mereka juga terlibat
di kegiatan gereja pada hari-hari besar seperti natal dan Paskah.
4. Apakah
OMK berpartisipasi dalam kegiatan Bersama kelompok masyarakat lain?
Jawab:
OMK
pernah mengadakan pentas lintas agama merespon setiap ada undangan dari luar
misalnya dari Nusantara Center. Kegiatan lintas agama mereka ikuti.Jugaterlibat
dalam MTQ nasional sebagai dirigen dan organis
serta ikut koor di lapangan.
5. Apa
rekomendasi romo sebagai saran untuk berkembangnya OMK di keuskupan?
Jawab:
Pelatihan
kewirausahaan untuk OMK supaya difolowup, sampai dimana, dan perlu
ditindaklanjuti dan dibantu. Kaderisasi kaum muda perlu ditingkatkan supaya Gerej
punya kader-kader orang muda. Jangan
terbatas pada internal gereja melulu. Pembinaan sudah berjalan.
PELUANG DAN HAMBATAN
1.
Kekuatan
dan kelemahan apa yang dihadapi OMK?
Jawab:
Kekuatan
kita adalah kita punyadata mudika yang
jelas dan tiggal di lingkungan. Mereka juga aktif di kelompok kategorial.
Mataram ini menjadi pusat mahasiswa yang datang dari luar NBT untuk kuliah.
Mtaram ini menjadi tempat berkumpulnya
para pendatang yang merantau untuk
kuliah. Maka di siniada mudika, adapemuda katolik ada PMKRI. Kesulitan, tidak
semua yang teribat terwakili.
2.
Peluang
dan tantangan apa yang dihadapi Paroki terkait pendampingan OMK?
Jawab:
Kita
kerja sama dengan dosen agama katolik agar mereka mau terlibat aktif di lingkungan, mau terlibat di OMK, pemuda
katolik atau PMKRI. Tapi kenyataan setelah dapat nilai mereka biasanya
menghilanh.
3.
Apakahadausul
saran dari room untuk pengembangan OMK?
Jawab:
Program
kerja Komisi Kepemudaan Keuskupan agar lebih realistis. Sebaiknya ada kegiatan
tingkat paroki dan dekenat yang
ditangani oleh Komis Kepemudaan.
C.
TAHUN
2014
TENTANG KBG DAN KEPEMIMPINAN
PASTORAL
1. Bagaimana
kepemimpinan pastoral dalam diri ketua KBG dan DPP?
Jawab:
KBG
itunpemberdayaan umat, pemimpin KBG bukan pastor yang pilih tetapi mereka yang
pilih sendiri. Mereka juga yang menyusun
program. Mereka menjadi penggeraknya.
2. Apa
kekuatan dan kelemahan, peluang dan tantangan di tingkat KBG dan paroki?
Jawab:
Pimpinan
di tingkat KBG atau paroki memiliki kekuatan
bahwa mereka mmenentukan pimpinan sendri. Namun kelemahannya kalau sudah
ada yang mau menerima tugas sebagai ketua maka biasanya akan terpilihterus
sampai yangbersangkutan matiatau pindah. Jadi taka da kaderisasinya.
3. Apa
usul dan saran romoagar kepemimpinan
pastoral dapat memberi pelayanan dan pemberdayaan umat sesuai teladan Yesus?
Jawab:
Diberikan
pembekalan, pembinaan, rekoleksi agar rela untuk mengabdi. Tanamkan
spiritualitas melayni baik internal gereja maupun eksternal gereja, di
masyarakat. Kita diutus untuk
memberdayakan mereka agar
memimpin komunitas. Kalau mereka kuat maka
gereja akan kuat.
D.
TAHUN
2015
KBG DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI
UMAT
1. Bagaimana
upaya yangdilakukan sehubungan dengan pemberdayaan ekonomi umat di KBG?
Jawab:
Pemberdayaan
ekonomiumat menurut saya, umat itu selamat bukan hanya dengan berdoa tetapi
juga secara jasmani, Jadi di sana juga dalam KBG ada paguyuban suka duka, ada
KBG insani, ada gotong-royon, ada suka-duka, ada bea siswa, ada koperasi. Juga ada aksi penanaman tanaman organik
meskipun tak berhasil tetapi sudah dijalankan. Koperasi sudah berjalan, dan
nyata memberikan modal kerja.
2. Apa
kekuatn dan kelemahan yangdihadapi dalam upaya pemberdayaan ekonomi umat?
Jawab:
Pemberdayaan
ekonomi umat bahwa umatdiisuport dana
melalui koperasi, ada dana sosial. Jadi
ada dana dari koperasi. Kelemahannya pemberdayaan
ekonomi kurang tenaga pendamping.
Akibatnya anggotapinjam, tetapi
kemudian mengalami kemacetan saat
mengembalikan. Pada hal koperasi itu adalah usaha untuk simpan dan pinjam, saling menolong, berbagi.
3. Apa
peluang dan tantangannya?
Jawab:
Peluangnya anggotaterus bertambah dari tahun ke tahun. Aset juga bertambah.
Tantangannya para pengurus harus
terus mendapat pendampingan
terutama dari Komisi PSE.
4. Apa
usul dan sarannya?
Jawab:
Umat
agar disadaran supaya menjauhi
renternir. Mereka juga prlu
memahami seluk beluk koperasi
melalui Pendidikan dasar perkoperasian.
Anggota baru agar mengikuti Pendidikan dasar, demikian pengirus perlu mengikuti
pelatihan, bekerja sama dengan koperasi
di Bali yang sudah lebih mapan.
CU/KOPERASI
1.
Bagaimanaupaya
memberdayakan ekonomi umat melalui CU/Koperasi?
Jawab:
Kami punya
koperasi Karya Mandiri yang berjalan
sehat. Koperasi ini tumbuh di paroki namun sekarang pidah ke tengah msyarakatdan
kenggotaan terbuka untuk semua lapisan
masyarakat. Ternyata setelah tidak di kompleks gereja koperasi ini lebih maju, anggotanya bertambah dan masyarakat mengenal karya
Gereja Katolikyang tidak eksklusif.
2.
Apa
kekuatan dan kelemahan yang dihadapi dalam mengumatkan CU?
Jawab:
Untuk
kesadaran mengikkuti sebagai anggota ok.
Namun mentalitasnya perlu dibina
sebab banyak yang pinjam lalu bermasalah, tak mengembalikan, bisa pinjam
tapi tak mau mengembalikan atau tak bisa mengembalikan.
3.
Apa
peluang dan tantangannya?
Jawab:
Peluangnya
sangat terbuka, berjasama dengan pemerintah, karena koperasi kitaterpercaya.
Kita dari gereja (DPP) juga menabung, uang kelompok kategoral dan KBG juga disimpan di koperasi. Tantangannya,
kesadaran untuk mengembalikan oleh
anggota sangat minim.
4.
Apa
usul dan saran untuk menumbuhkembangkan koperasi?
Jawab:
Saya
mintaPSEKeuskupan agar selalu melakukan pendampingan kepada kepengurusan
melalui Pendidikan. Untuk tingkat NTB,
KSP Karya Mandiri menjadi pendamping bagi koperasi lainnya di seluruh Kevikepan
NTB. Bahkan juga koperasi di bawah binaan Dinas Koperasi dan UKM.
DASOPEN
1.
Bagaimana
keterlibatan umat terkait dengan gerakan Dasopen?
Jawab:
Kami
lasakanakan Dasopen. Kami kirim kolekte
dan sebarkan amplop dan segera akan dikumpulkan. Kami sangat respon karena
dirasakan langsung oleh umat
2.
Apa
kekuatan dan kelemahan dalam gerakan Dasopn?
Jawab:
Umat mau memberi, umat mau menyumpang, umat mau terlibat untuk berbagi.
Dana terkumpul dan dikirim ke keuskupan dan
akhirnya kembali lagi ke umat di paroki. Kami juga memberikan bantuan bagi anak-anak sekolah negeri. Kelemahannya, belum
ada orang tua asuh yang rutin
setiap bulan. Jadiperlu data lagi orang tua asuh.
3.
Apa
peluang dan tantangannya?
Jawab:
Untuk
umat di paroki, tidak cukup dengan kolekte bulan Mei dan amplopinsidental,
tetapi harus benar-benar terprogram.
4.
Apa
usul dan sarannya?
Jawab:
Saya
berharap agar program Dasopen terus dilanjutkan dan sosialisasi kepada
umat semakin sering. Bila perlu majalah Agape menyediakan satu halaman setiap
terbut untuk sosialisasi Dasopen.
PARIWISATA, PERTANIAN & KELAUTAN
1.
Bagaimana
keterlibatan umat memberdayakan ekonomi
di bidang pariwisata, pertanian dan kelautan?
Jawab:
Umat
kami tak ada yang petani. Tetapi umat kami ada yang nelayan dan bekerja di
pariwisata. Mataram Lombok menjadi
destinasi pariwisata. Banyak umat katolik yang bekerja di sektor pariwisata.
Dampaknya kunjungan wisata meningkat dari berbagai negara. Ada tourism yang katolik dari luar Indonesia,
luar NTB menngunjungi gereja-gereja di NTB. Jadi keberadaan gereja juga berdampak untuk menjadi kunjungan wisata. Event
nasional di sini, gereja juga menjadi tempat kunjungan
2.
Apa
kekuatan dan kelemahan yang dihadapi?
Jawab:
Ada
umat yang sudah bekerja di pariwisata sebagai profesi, terlibat dalam
pariwisata dan terlibatdi Gereja. Bahkanmenjadi penyumbang bagi gereja. Jadi
kita menangkap peluang dengan memberikan pelatihan ketrampilan. Kelemahannya, kepentingan wisatawan kalah dengan kebutuhan ke gereja. Hal lain
adalah ada pergaulan bebs dimana orang
muda kita terjerumus dalam seks bebas
dan narkoba.
3.
Apa
peluang dan tantanannya?
Jawab:
Peluang
parwisata Bali dan NTB sudah sangat maju. Maka
Keuskupan perlu menghidupkan kembali
Komisi Pariwisata.
4.
Apa
usul dan sarannya?
Jawab:
Perlu
dipikirkan agar pembinaan para guide
katolik dan pekerja pariwisata
katolik agar iman mereka kuat
sehingga tak mudah terjerumus dalam
godaan tawaran penghasilan yang tidak
halal.
E. TAHUN 2016
1.
Bagaimaa
pelaksanaan pendampingan keluarga? Apakah sudah ditangani tim. Apa yang menjadi
permasalahannya?
Jawab:
Pendampingan sudah dijalankan sedangkan apakah hasilnya baik itu sangat relative. Namun di Mataram melalui tahun keluarga, kami sudah
follow up ke komisi keluarga dan mereka turun mendamping umat, bekerja sama dengan
ME. Pastor bersama komisi keluarga melaksanakan kegiatan untuk keluarga.
2.
Apa
yang menjadi kekuatan dan kelemahan keluarga?
Jawab:
Problem rumah tangga malah kini semakin menjadi-jadi,
mungkin karenatantangan modernisasi. Sekarang angka perceraian (dalam gereja
katolik) itu ada dan bertambah, pada hal di katolik tidakboleh cerai tetapi ternyata ada. Maka pembinaan
keluarga ditingkatkan agar tidak terjadi perceraian.
3.
Apa
yang menjadi peluang dan tantangannya?
Jawab:
Peluangnya,
gereja itu gereja kecil, gereja mini,
masih ada peluang menggarap gereja besar melalui gereja kecil. Keluarga
sejahtera, gereja Pasti kuat, tetapi keluarga carut marut, gereja pasti hancur.
Tantangannya, muslim boleh poligami, boleh cerai, maka berdampak juga pada gereja katolik.
4.
Apa
usul dan sarannya?
Jawab:
Saya
terlibat langsung dalam tim. Kami mendampingi tim kami.
Komentar
Posting Komentar