WAWANCARA DENGAN PASTOR PAROKI MATARAM ROMO LAURENS MARYONO,PR


Pewawancara: Agustinus G Thuru/Seksi Dokumentasi & Publikasi Panitia Sinode IV Keuskupan Denpasar

Wawancara dengan Romo Laurensius Maryono,Pr dilakukan pada Jumat 9 Juni 2017 pukul 08.00 – 09.00 wita. Wawancara dilakukan di ruang kerjanya Pastoran Paroki Maria Immaculata Mataram. Romo  Laurensius Maryono,Pr  lahir di  Karang Anyar Jawa Tengah 12 Juni 1966. Menyelesaikan Pendidikan kateketik di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu pendidika (STKIP) Widya Yuwana Madiun dan dua tahun belajar teologi di STFK ledalero Maumere Flores NTT. Ditahbiskanmenjadi imam praja keuskupan Denpasar  pada 24 September 1997  di Paroki Tuka. Jabatan yang diemban saat ini adalah: Pastor Paroki  Mataram merangkap Pastor Paroki  Yohanes Pemandi Praya. Ia juga wakil Deken untuk urusan hubunga dengan pemerintah NTB. Ia jugatercatat sebagai anggota pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi NTB dan Moderator untuk ME Dekenat NTB.

HASIL WAWANCARA
A.    TENTANG KBG
1.     Bagaimana romo  sendiri melihat KBG-KBG di Paroki romo dalam hal jumlah, keaktifan, kedekatan dan kegiatan yang dijalanan?

Jawab:
KBG idealnya terdiri dari beberapa KK, antara 10 sampai 15 keluarga. Namun secara fakta KBG  di Paroki Mataram dan Praya tidak mencapai angka itu.Misalnya satu lingkungan hanya ada tujuh KK, mereka membentuk Lingkungan, tetapi kegiatannya  adalah KBG. Wilayah teritorial tempat tinggal umat juga berjahan satu sama lain. Walaupun  secarateritorial tempat tinggal mereka berjauhan, namun keaktifan mereka dalam  melaksanakan berbagai kegiatan katekese  berjalan. Partisipasi  anggota KBG  cukup baik. Untuk yang tinggal di BTN  itu satu kompleks jadi tidak ada masalah. Yang di luar BTN itu  berjauhan, berdiaspora, tetapi  mereka  tetap berusaha untuk berkumpul. Mungkin karena tempat tinggal mereka berjauhan, kedekatan emosional sangat akrab. saat bertemu mereka sangat akrab. Kegiatan yang dijalankan di KBG itu jelas, sesuai dengann program yang mereka sepakati bersama. Kegiatan-kegiatan  seperti  APP, AAP, bulan Mei, bulan kitab suci, bulan Oktober  semuanya mereka jalankan. Di sela-sela itu ada kegiatan rutin  yakni doa lingkungan.

2.     Penilaian romo tentang praktek hidup menggereja melalui KBG?

Jawab:
Praktek hidup menggerja di paroki, mereka betul-betul adalah umat yang berdiaspora, kawanan kecil, menjadi saksi yang memancarkan wajah Kristus. Umat katolik melakukan ini di lingkungan hidup mereka. Sebab mereka  sadar tinggal dan beraktifitas di tengah orang-orang yang beragama lain. Mereka dituntut untuk bisa membaur di antara umat beragama lain.

3.     Apa yang telah dilakukan oleh romo selama ini  untuk membuat anggota KBG maki paham tentang KBG, makin aktif dan fasilitator makin  berkualitas?

Jawab:
Pertama, terus menjelaskan kepada umat tentang pemahaman KBG berdasarkan teritorial tinggal dimana mereka tinggal bertetangga antara 10 sampI 15 kepala keluarga. Mreka disadarkan terus supaya mereka bisa ikut KBG dimana mereka tinggal. Untuk memberdayakan KBG kami lakukan  kunjunganuntuk doa KBG/Lingkungan, kunjungan untuk misa KBG/Lingkungan. Mereka juga dilibatkan untk mengikuti kegiatan  suka dan duka di lingkungan tempat tinggalnya. Umat juga aktif di gereja, menjalankan tugas-tugas liturgi dan tugas lainnya yang telah diberikan pada mereka. Jadi merek cukup aktif  di Paroki meskipun saya  tahu mereka sangat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.

4.     Apa saja yang menjadi kekuatan dan kelemahan yangdihadapi umat dan juga petugas pastoral dalam membangun KBG yang ideal di paroki?

Jawab:
Kekuatannya, gereja kita dan umat kita  berada dan tinggal  dalam wilayah diaspora, kawanan kecil. Karena itu benar-benar menjadi semakin tertantang. Maka harus membangun komunitas kecil salah satunya KBG  dan juga keluarga. Dampak positifnya, sadar sebagaiumat diaspora maka KBG juga menjadi solid dan kompak.Meski  harus diakui para fasilitator masih harus dibekali agar mereka semakin handal  dalam membangun KBG.

5.     Apa peluang dan tantangan yang romo lihat dalam membangun KBG?

Jawab:
Keinginan kita adalah KBG yang ideal. Ini  bisa tercapai  karena ada peluang  dimana umat tinggal di BTN (Perumnas) yang penghuninya pluralis atau majemuk. Namun kenyataan umat kita bisa mudah berkumpul. Banyak perumahan  mejadi tempat tinggal umat. Ada perumahan yang sampai lima KBG. JadiKBG  di perumahan itu  tumbuh dan berkembang. Tantangannya, kesadaran orang untuk mau bergabung masih rendah. Mereka datang ke Lombok bukan untuk cari KBG atau gereja tetapi untuk cari makan. Tak heran kalau mereka  kurang aktif ke gereja. Maka mereka harus dipacu agar dalam kesibukan mereka tetap ingat Tuhan.

6.     Apa usul dan saran dalam Sinode IV untuk membangun KBG?

Jawab:
KBG yang dulu kami alami di Paroki mayoritas  katolik tidak ada tantangan. Tetapi KBG kami di Lombok ini hidup diaspora, hidup diantara umat lain maka perlu dibangun kekuatan iman supaya mampu bersaksi di tegah masyarakat majemuk. Iman mereka di sini teruji melalui kerusuhan beberapa tahu lalu. Maka  iman mereka harus ditingkatkan, pembekalan fasiltator juga perlu ditingatkan. Meskipun konteks  wilayah berbeda antara  Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur tetapi mereka harus dimotivasi untuk berani mengatakan diri sebagai orang katolik.

B.    EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM 2012-2016
A.    TAHUN 2012

TENTANG KATEKESE
1.     Apakah kegiatan katekese dll membuat kehidupan rohani umat semakin berkualitas?

Jawab:
Pertama bahwa umat di sini keimananannya punya dasar  tidak semuanya sama bahkan ada yang iman napas (Natal dan paskah). Ada yang ke  gereja tidak rutin karena mereka merantau cari makan sehingga tidak sempat. Mmotivasi mereka melalui media mimbar altar rupaya tidak efektif. Maka kami ada peluang atau kesempatan di KBG dan seluruh kalenderarium baik nasional maupun keuskupan diterapkan di KBG. Peluang  untuk pendalaman iman bagi umat sangat terbuka karena  mereka  umumnya hadir meskipun  tidak semua. Kesempatan gereja untuk memotivasi umatnya sangat terbuka luas. Lepas dari berapa yang hadir. Tapi gereja membuka  kesempatan seluasnya untuk demi perkembangan umatnya.
2.     Apa tantangan dalam melaksaakan katekse  di paroki? Bagaimana dengan kemampuan tim fasilitator?

Jawab:
Tantangannya jelas bahwa kegiatan yang ideal tadi dari respon umat minim untuk pendalaman kitab suci. Umat yang 2000-an tidak mungkin ikut seratus persen. Alasannya mereka ke Lompok untuk cari makan sehingga kesempatan itu tak terjangkau. Umat hanya ke gereja pada hari minggu saja. Tim fasilitator berupaya untuk  terus melakukan pendampaingan pada umat di KBG. Para fasilitator juga mendapatkan  pendampingan.

3.     Apa usul saran room agar kegiatan katekese ke depan lebih berkualitas?

Jawab:
Kegiatan pendalaman kitab suci itu tidak lain untuk membekali para fasilitator untuk membangun iman agar mereka semakin terbuka  sehinga ini sangat terbuka. Sampai lima tahun berjalan, respon umat sangat tinggi. Keuskupan memilih ini tentu berdasarkan tanggapan umat. Kami para pastor juga terus diberdayakan supaya pahamkitan suci dan itu tercapai. Kami membantu agar umat bisa mengenal kitab suci. Kitaharapkan umat bisa melanjutkan.

TENTANG LEMBAGA PENDIDIKKAN KATOLIK
1.     Apakah lembaga Pendidikan katolik masih menjadi pilihan utama uat di paroki?

Jawab:
Soal pertanyaan itu di Mataram ini karya yang menonjol adalah Pendidikan dan itu sudah berlangsung puluhan tahun lalu. Ada TK/PAUD, ada TPA, ada  SD, SMP dan SMA. Itu muridnya ada ribuan. Dengan sekolah katolik, keberadaan gereja semakin nyata. SMP bahkan menjadi pioner, alumni menjadi tokoh, dulu sebelum muncul banyak sekolah negeri. Mataram ini ada sekolah non katolik yang bermunculan, ada sekolan negeri, sekolah kristen. Saya berharap orang katolik harus menyekolahkan  anak-anaknya di sekolah katolik. Sebab  pilihan  umat katolik  untuk pendidikan anaknya ke sekolah katolik bukan pilihan utama. Saya mengharapkan umat katolik anaknya sekolah ke sekolah katolik tetapi hak orang tua sekolahkan anaknya kemana saja, kita tak bisa melarang.

2.     Apa tantangan dan permasalahan yangdihadapi oleh orangtua dalam ha Pendidikan anak?

Jawab:
Menurut mereka orang tua,  sekolah katolik bukan menjadi  pilihan utama karena  sekolah katolik mahal dibandingkan dengan sekolah non katolik. Mereka beranggapan bahwa  sekolah katolik kurang bermutu  dibandingkan dengan sekolah lainnya. Mereka menilai sekolah katolik  masih standar biasa dari segi kualitas. Opini bahwa sekolah katolik  masih  membayar dan bagi dia mahal, pada hal mahal dalam yang dimaksud ia bandingkan dengan sekolah negeri yang  gratis. Jadi  sekolah katolik mndapat tantangan dari masyarakat, dari umat katolik sendiri dan juga dari pemerintah terutama  dari aegi pembiayaan. Maka dampaknya adalah jumlah murid terus menurun.
3.     Apa usul dan saran room bagi lembaga Pendidikan katolik agar mampu melaksanakan karya Pendidikan lebih berkualitas?

Jawab:
Sekolahkatolik harus meningkatkan kualitas, meningkatkan mutu agar bisa bersaing dengan sekolah lain. Haruspunya  nilai plus, unggul, perlu peningkatan tenaga kependidikkan. Bagi  sekolah katolik  agar diberikan bea siswa kepada anak-anak  katolik yang mauke sekolah katolik. Ini harus lebih serius.

B.    TAHUN 2013
TENTANG OMK
1.     Apakah romo mengetahi dan memahami program kerja Komkep Keuskupan Denpasar?

Jawab:
Kalau program dari keuskupan selamaini kita ikut terus. Kita jalankann mulai dari tingkat paroki  sampai dekenat. Kita ikut IYD  tingkat  dekenat, keuskupan dan lain-lain. Bahkan kita juga ikut IYD nasional.

2.     Bagaimana implementasi program kerja Kokep di Paroki?

Jawab:
Semua kegiatan selalu berdampak positif punya nilai dan efek positif untuk membangkitkan minat orang muda katolik. Untuk Mataram dan Praya kami serahkan kepada Romo Ely sebagai moderatornya.

3.     Apa saja kegiatan OMK di paroki yang  menonjol?

Jawab:
Yang menonjol selama ini adalah  koor. Mereka termasuk  salah satu yang melayani liturgi di gereja secara rutin sesuai dengan jadwal tugas. Mereka juga  terlibat  di kegiatan gereja pada hari-hari besar seperti natal dan Paskah.

4.     Apakah OMK berpartisipasi dalam kegiatan Bersama kelompok masyarakat lain?

Jawab:
OMK pernah mengadakan pentas lintas agama merespon setiap ada undangan dari luar misalnya dari Nusantara Center. Kegiatan lintas agama mereka ikuti.Jugaterlibat dalam MTQ  nasional sebagai dirigen  dan organis  serta ikut koor di lapangan.

5.     Apa rekomendasi romo sebagai saran untuk berkembangnya OMK di keuskupan?

Jawab:
Pelatihan kewirausahaan untuk OMK supaya difolowup, sampai dimana, dan perlu ditindaklanjuti dan dibantu. Kaderisasi kaum muda perlu ditingkatkan supaya Gerej punya  kader-kader orang muda. Jangan terbatas pada  internal  gereja melulu. Pembinaan  sudah berjalan.

PELUANG DAN HAMBATAN
1.     Kekuatan dan kelemahan apa yang dihadapi OMK?

Jawab:
Kekuatan kita adalah kita  punyadata mudika yang jelas dan tiggal di lingkungan. Mereka juga aktif di kelompok kategorial. Mataram ini menjadi pusat mahasiswa yang datang dari luar NBT untuk kuliah. Mtaram ini menjadi tempat  berkumpulnya para pendatang yang  merantau untuk kuliah. Maka di siniada mudika, adapemuda katolik ada PMKRI. Kesulitan, tidak semua yang teribat terwakili.

2.     Peluang dan tantangan apa yang dihadapi Paroki terkait pendampingan OMK?

Jawab:
Kita kerja sama dengan dosen agama katolik agar mereka mau terlibat aktif  di lingkungan, mau terlibat di OMK, pemuda katolik atau PMKRI. Tapi kenyataan setelah dapat nilai mereka biasanya menghilanh.

3.     Apakahadausul saran dari room untuk pengembangan OMK?

Jawab:
Program kerja  Komisi Kepemudaan  Keuskupan agar lebih  realistis. Sebaiknya  ada kegiatan  tingkat paroki  dan dekenat yang ditangani oleh Komis Kepemudaan.


C.    TAHUN 2014
TENTANG KBG DAN KEPEMIMPINAN PASTORAL
1.     Bagaimana kepemimpinan pastoral dalam diri ketua KBG dan DPP?

Jawab:
KBG itunpemberdayaan umat, pemimpin KBG bukan pastor yang pilih tetapi mereka yang pilih sendiri. Mereka juga  yang menyusun program. Mereka menjadi penggeraknya.

2.     Apa kekuatan dan kelemahan, peluang dan tantangan di tingkat KBG dan paroki?

Jawab:
Pimpinan di tingkat KBG atau paroki memiliki kekuatan  bahwa mereka mmenentukan pimpinan sendri. Namun kelemahannya kalau sudah ada yang mau menerima tugas sebagai ketua maka biasanya akan terpilihterus sampai yangbersangkutan matiatau pindah. Jadi taka da kaderisasinya.

3.     Apa usul dan saran romoagar  kepemimpinan pastoral dapat memberi pelayanan dan pemberdayaan umat sesuai teladan Yesus?

Jawab:
Diberikan pembekalan, pembinaan, rekoleksi agar rela untuk mengabdi. Tanamkan spiritualitas melayni baik internal gereja maupun eksternal gereja, di masyarakat. Kita diutus untuk  memberdayakan mereka  agar memimpin komunitas. Kalau mereka kuat maka  gereja akan kuat.

D.    TAHUN 2015
KBG DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT
1.     Bagaimana upaya yangdilakukan sehubungan dengan pemberdayaan ekonomi umat di KBG?

Jawab:
Pemberdayaan ekonomiumat menurut saya, umat itu selamat bukan hanya dengan berdoa tetapi juga secara jasmani, Jadi di sana juga dalam KBG ada paguyuban suka duka, ada KBG insani, ada gotong-royon, ada suka-duka, ada bea siswa, ada koperasi.  Juga ada aksi penanaman tanaman organik meskipun tak berhasil tetapi sudah dijalankan. Koperasi  sudah berjalan,  dan  nyata memberikan modal kerja.

2.     Apa kekuatn dan kelemahan yangdihadapi dalam upaya pemberdayaan ekonomi umat?

Jawab:
Pemberdayaan ekonomi umat  bahwa umatdiisuport dana melalui koperasi, ada dana  sosial. Jadi ada dana  dari koperasi. Kelemahannya pemberdayaan ekonomi  kurang tenaga pendamping. Akibatnya  anggotapinjam, tetapi kemudian  mengalami kemacetan saat mengembalikan. Pada hal koperasi  itu  adalah usaha untuk  simpan dan pinjam, saling menolong, berbagi.

3.     Apa peluang dan tantangannya?
Jawab:
Peluangnya  anggotaterus bertambah  dari tahun ke tahun. Aset juga bertambah. Tantangannya   para pengurus  harus  terus mendapat pendampingan  terutama dari Komisi PSE.

4.     Apa usul dan sarannya?

Jawab:
Umat agar disadaran supaya menjauhi  renternir. Mereka juga prlu  memahami  seluk beluk koperasi melalui Pendidikan  dasar perkoperasian. Anggota baru agar mengikuti Pendidikan dasar, demikian pengirus perlu mengikuti pelatihan, bekerja sama dengan  koperasi di Bali  yang sudah lebih mapan.

CU/KOPERASI
1.     Bagaimanaupaya memberdayakan ekonomi umat melalui CU/Koperasi?

Jawab:
Kami  punya  koperasi  Karya Mandiri yang berjalan sehat. Koperasi ini tumbuh di paroki  namun  sekarang pidah ke tengah msyarakatdan kenggotaan terbuka untuk  semua lapisan masyarakat. Ternyata setelah tidak di kompleks gereja  koperasi ini lebih maju, anggotanya  bertambah dan masyarakat mengenal karya Gereja Katolikyang tidak eksklusif.

2.     Apa kekuatan dan kelemahan yang dihadapi dalam mengumatkan CU?

Jawab:
Untuk kesadaran mengikkuti  sebagai anggota ok. Namun mentalitasnya  perlu dibina sebab  banyak yang pinjam lalu  bermasalah, tak mengembalikan, bisa pinjam tapi tak mau mengembalikan atau tak bisa mengembalikan.

3.     Apa peluang dan tantangannya?

Jawab:
Peluangnya sangat terbuka, berjasama dengan pemerintah, karena koperasi kitaterpercaya. Kita dari gereja (DPP) juga menabung, uang kelompok kategoral dan KBG  juga disimpan di koperasi. Tantangannya, kesadaran untuk mengembalikan  oleh anggota sangat minim.

4.     Apa usul dan saran untuk menumbuhkembangkan koperasi?

Jawab:
Saya mintaPSEKeuskupan agar selalu melakukan pendampingan kepada kepengurusan melalui Pendidikan. Untuk  tingkat NTB, KSP Karya Mandiri menjadi pendamping bagi koperasi lainnya di seluruh Kevikepan NTB. Bahkan juga koperasi di bawah binaan Dinas Koperasi dan UKM.



DASOPEN
1.     Bagaimana keterlibatan umat terkait dengan gerakan Dasopen?

Jawab:
Kami lasakanakan Dasopen. Kami kirim  kolekte dan sebarkan amplop dan segera akan dikumpulkan. Kami sangat respon karena dirasakan langsung oleh umat

2.     Apa kekuatan dan kelemahan dalam gerakan Dasopn?

Jawab:
Umat mau memberi, umat mau  menyumpang, umat mau terlibat untuk berbagi. Dana terkumpul dan dikirim ke keuskupan dan  akhirnya kembali lagi ke umat di paroki. Kami juga  memberikan bantuan bagi  anak-anak sekolah negeri. Kelemahannya, belum ada  orang tua asuh yang rutin setiap  bulan. Jadiperlu data lagi  orang tua asuh.

3.     Apa peluang dan tantangannya?

Jawab:
Untuk umat di paroki, tidak cukup dengan kolekte bulan Mei dan amplopinsidental, tetapi harus benar-benar terprogram.

4.     Apa usul dan sarannya?

Jawab:
Saya berharap agar program Dasopen terus dilanjutkan dan sosialisasi kepada umat  semakin  sering. Bila perlu  majalah Agape menyediakan satu halaman setiap terbut untuk sosialisasi Dasopen.


PARIWISATA, PERTANIAN & KELAUTAN
1.     Bagaimana keterlibatan umat memberdayakan  ekonomi di bidang pariwisata, pertanian dan kelautan?

Jawab:
Umat kami tak ada yang petani. Tetapi umat kami ada yang nelayan dan bekerja di pariwisata. Mataram Lombok  menjadi destinasi pariwisata. Banyak umat katolik yang bekerja di sektor pariwisata. Dampaknya kunjungan wisata meningkat dari berbagai negara.  Ada tourism yang katolik dari luar Indonesia, luar NTB menngunjungi gereja-gereja di NTB. Jadi keberadaan gereja  juga berdampak  untuk menjadi kunjungan wisata. Event nasional di sini, gereja juga menjadi tempat kunjungan

2.     Apa kekuatan dan kelemahan yang dihadapi?

Jawab:
Ada umat yang sudah bekerja di pariwisata sebagai profesi, terlibat dalam pariwisata dan terlibatdi Gereja. Bahkanmenjadi penyumbang bagi gereja. Jadi kita menangkap peluang dengan memberikan pelatihan ketrampilan.  Kelemahannya, kepentingan wisatawan  kalah dengan kebutuhan ke gereja. Hal lain adalah ada pergaulan bebs dimana  orang muda kita terjerumus dalam  seks bebas dan narkoba.

3.     Apa peluang dan tantanannya?

Jawab:
Peluang parwisata Bali dan NTB  sudah sangat  maju. Maka  Keuskupan perlu menghidupkan kembali  Komisi Pariwisata.

4.     Apa usul dan sarannya?

Jawab:
Perlu dipikirkan  agar pembinaan para guide katolik dan pekerja pariwisata  katolik  agar iman mereka kuat sehingga  tak mudah terjerumus dalam godaan  tawaran penghasilan yang tidak halal.


E.    TAHUN 2016
1.     Bagaimaa pelaksanaan pendampingan keluarga? Apakah sudah ditangani tim. Apa yang menjadi permasalahannya?

Jawab:
Pendampingan  sudah dijalankan  sedangkan apakah hasilnya baik itu  sangat relative. Namun di  Mataram melalui tahun keluarga, kami sudah follow up ke komisi keluarga dan mereka turun mendamping umat, bekerja sama dengan ME. Pastor bersama komisi keluarga melaksanakan kegiatan  untuk keluarga.

2.     Apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan keluarga?

Jawab:
Problem  rumah tangga malah kini semakin menjadi-jadi, mungkin karenatantangan modernisasi. Sekarang angka perceraian (dalam gereja katolik) itu ada dan bertambah, pada hal di katolik tidakboleh  cerai tetapi ternyata ada. Maka pembinaan keluarga ditingkatkan  agar  tidak terjadi perceraian.

3.     Apa yang menjadi peluang dan tantangannya?

Jawab:
Peluangnya, gereja  itu gereja kecil, gereja mini, masih ada peluang menggarap gereja besar melalui gereja kecil. Keluarga sejahtera, gereja Pasti kuat, tetapi keluarga carut marut, gereja pasti hancur. Tantangannya, muslim boleh poligami, boleh cerai, maka berdampak juga  pada gereja katolik.

4.     Apa usul dan sarannya?

Jawab:

Saya terlibat langsung dalam tim. Kami mendampingi tim kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Penyimpanan dan Penghormatan Ekaristi

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua