Seri Katekese SAKRAMEN TOBAT (3) 
BENTUK-BENTUK PERNYATAAN TOBAT

PADA DASARNYA dosa adalah pertama-tama sikap dan tindakan pribadi masing-masing individu terhadap Tuhan dan sesama, terhadap setiap anggota komunitas beriman dan terhadap seluruh komunitas (Gereja). Alasannya : suatu dosa yang dilakukan seseorang selalu dalam kaitan dengan pihak lain, entah pihak lain itu sendirian atau pun bersama-sama. Dan dosa selalu dilakukan dalam suatu lingkungan konkrit yang sekaligus pula bisa berperanan sebagai penyebab, pekerjasama atau penanggung akibat, saksi atau penyebar-luasannya. Oleh karena itu, dosa bisa semata-mata bersifat pribadi/privat, tapi bisa juga bersifat umum/publik; bisa bersifat individual, tetapi bisa juga bersifat komuniter yang asosial.
Oleh karena itu, tindakan-tindakan pernyataan tobat dapat dilakukan secara pribadi oleh orang yang bersangkutan (bentuk individual), tetapi juga bisa bersama-sama (bentuk komuniter).
Bila anggotanya berdosa, maka Gereja juga selalu turut ternoda olehnya. Maka bila anggotanya bertobat, Gereja turut bergembira atas itu. Oleh karena itu, sebagai suatu komunitas, Gereja juga turut merasa bertanggungjawab untuk menciptakan situasi yang mengantar orang kepada pertobatan.
Karena itu, berbeda dengan praktek lama, dewasa ini sebagaimana halnya dengan perayaan semua Sakramen yang lain   -seluruh komunitas Gereja turut terlibat dalam proses mengantar orang kepada pertobatan, mulai dari persiapan, sampai kepada pernyataan tobat bersama, sebelum orang secara pribadi mengakukan dosanya kepada imam/bapa pengakuan. Berikut ini pelbagai bentuk pernyataan tobat bersama.

1.IBADAT TOBAT
Ibadat tobat adalah sarana rohani yang bermanfaat menolong orang untuk memupuk pertobatan dan penyucian hati, sekaligus ia tidak bersifat sakramental. Karena tidak merupakan bagian dari sakramen, maka ia bisa dipimpin oleh orang tidak tertahbis (awam). Ibadat jenis ini pada umumnya dan dianjurkan diadakan bagi kelompok2 umat yang karena kondisi lokasi secara topografis tidak mungkin merayakan hari-hari raya Gereja tanpa imam. Tujuan ibadat tobat adalah : (a) Meningkatkan semangat tobat pada umat untuk dapat merayakan misteri penyelamatan secara lebih pantas. (b) Membantu umat beriman menyiapkan pengakuan yang akan dilaksanakan kemudian secara baik. (c) Secara khusus, berguna untuk anak-anak dan para katekumen, bila sudah boleh merayakan Sakramen Tobat dan melakukan pengakuan pribadi. 
Ibadat tobat biasanya dilakukan bersama-sama. Di dalamnya dilakukan pembacaan Kitab Suci, renungan bersama/kotbah, pemeriksaan batin bersama, pernyataan tobat bersama, dan menjalankan penitensi (silih dosa) bersama.
Dalam Ibadat tobat bersama tidak diberikan absolusi kolektif karena dia tidak bersifat sakramental. Ia hanya merupakan langkah persiapan untuk pengakuan sakramental, walaupun kegiatan itu sendiri, bila dilaksanakan dengan niat yang sungguh-sungguh, dapat menghapuskan dosa-dosa ringan secara non-sakramental. Oleh karena itu, bagi yang dalam keadaan dosa berat, ibadat tobat saja belum cukup baginya untuk memperoleh rahmat sakramental. Supaya bersifat sakramental yang efektif, ia masih berkewajiban berat untuk mengakui dosanya kepada imam / bapa pengakuan sesudahnya.

2.SELEBRASI SAKRAMEN TOBAT (Liturgi Sakramen Tobat). Judul ini mau menjelaskan tentang tobat yang dirayakan dalam suatu Ibadat Sabda, yang disebut Selebrasi Sakramen Tobat. Disebut demikian karena ia disatukan dan dilanjutkan dengan pengakuan dan absolusi. Selebrasi Tobat jenis ini, yang berakhir dengan tobat/pengakuan bersama dengan absolusi kolektif, serta penitensi bersama, dan / atau dengan pengakuan pribadi / individual dan absolusi pribadi (dan penitensi pribadi) bersifat sakramental. Karena itu dinamakan Selebrasi Sakramen Tobat. Imam adalah pelayan utamanya, sekurang-kurangnya pada waktu pengakuan pribadi. Akan tetapi bila ada pernyataan tobat / pengakuan bersama dan absolusi umum / kolektif, imam sendiri adalah pemimpin utama seluruh selebrasi Sakramen Tobat. Selebrasi Sakramen Tobat jenis ini, khususnya selebrasi dengan pernyataan tobat bersama, absolusi umum dan penitensi kolektif, asal dirayakan secara pantas, dewasa ini dapat menjadi solusi untuk mengatasi kekurangan tenaga imam/bapa pengakuan, terutama di paroki-paroki yang luas dan/atau sangat banyak jumlah umatnya. 
Sebagai catatan penting! Selebrasi Sakramen Tobat dengan absolusi kolektif (umum), efek sakramentalnya hanya berlaku bagi orang yang berdosa ringan saja. Tetapi bagi orang yang berdosa berat tidak membawa akibat sakramental yang efektif. Artinya selebrasi itu sama sekali tidak membawa rahmat pengampunan baginya. Karena persyaratan agar dosa berat seseorang dapat diampuni, harus diakuinya secara tuntas (dalam arti secara pribadi, langsung, terbuka dan jujur) kepada imam/bapa pengakuan. Karena itu, pengakuan pribadi wajib dilakukannya tersendiri lagi. Maka, sangat dianjurkan agar yang bersangkutan memanfaatkan selebrasi Sakramen Tobat sebagai langkah persiapan batin untuk pembalikan diri sepenuhnya kepada Allah, yang berpuncak paa pengakuan pribadi kepada imam/bapa pengakuan, dan menerima absolusi pribadi serta penitensi yang sesuai dengan bobot dosanya dari bapa pengakuan.

3.PENGAKUAN DOSA PRIBADI
Pengakuan pribadi dilakukan seseorang kepada seorang imam/bapa pengakuan. Itu terutama dijalankan apabila orang merasa diri tidak pantas lagi di hadapan Tuhan. Biar dosa ringan saja sekalipun, demi keamanan batinnya dan rasa damai dengan Allah, khususnya bila kekurangan yang sama itu sering dilakukannya, sangat dianjurkan untuk diakui secara pribadi kepada imam/bapa pengakuan.
Bila ditutup dengan absolusi dan penitensi, karena orang sungguh-sungguh menyesal dan bertobat, pengakuan tersebut bersifat sakramental yang efektif, yakni memberikan rahmat pengampunan kepada si peniten (orang yang mengaku).
Tetapi bagi yang berdosa berat, pengakuan pribadi yang jujur dan penuh penyesalan serta niat yang teguh untuk bertobat, adalah suatu syarat mutlak untuk pengampunan dosa.

4.TAPA, PUASA, MATIRAGA, PANTANG, AMAL. Ada pelbagai bentuk pernyataan tobat dan penyilihan dosa yang dilakukan entah dengan sukarela entah diberikan sebagai penitensi. Pada umumnya hampir tidak berbeda satu dari lainnya, malahan erat berkaitan satu sama lain. Berikut satu dua penjelasan. (a) Tapa, puasa, matiraga dan pantang : seperti berdoa lebih banyak; menjauhkan diri dari keramaian dan keingar-bingaran; dari kesenangan dan hidup berfoya-foya; mengurangi tidur dan istirahat; tahan terhadap kecendrungan2 yang memanjakan tubuh; terhadap hobby2 yang menguras waktu, tenaga dan keuangan; terhadap kebiasaan yang hanya untuk melayani selera dan kenikmatan tetapi tidak bermanfaat banyak bagi kesehatan, malah sebaliknya merugikan (kebiasaan merokok, nonton berlebihan, minum berlebihan….). Matiraga dari katanya, artinya mematikan tubuh, misalnya dengan mengenggani hal-hal yang membawa kenikmatan dan kemanjaan pada tubuh, seperti kemalasan, suka santai, tidak bisa tahan menderita, tidak mau berkorban; mengurangi hal-hal yang enak dan lezat yang memuaskan selera, khususnya kegemaran pribadi (minuman keras, daging atau jenis makanan kesukaan yang lezat-lezat). (b) Amal : dengan sukarela membagikan kebutuhan sendiri demi kebaikan orang lain atau kepentingan umum, misalnya memberikan sedekah, membantu orang miskin atau orang2 yang ditimpa bencana, secara sukarela melakukan jenis pekerjaan tertentu yang mendatangkan keuntungan bagi banyak orang tanpa menuntut upah.
Untuk penghapusan dosa-dosa ringan kegiatan-kegiatan tersebut, bila dijalankan dengan suatu intensi yang baik, akan sangat efektif. Bagi yang berdosa berat, kegiatan2  tersebut masih hanya merupakan langkah-langkah persiapan yang mendorong orang kepada pertobatan sejati. Apabila semua hal tersebut diberikan sebagai penitensi (hukuman/denda) oleh imam/bapa pengakuan, maka orang bersangkutan, yakni si peniten (orang yang mengaku dosa) berkewajiban berat untuk menjalankannya secara utuh.

5.EKARISTI
Pertobatan dan penebusan dosa setiap hari sumbernya adalah Ekaristi. Merayakan Ekaristi, dan menyantap tubuh dan darah Tuhan secara pantas, khususnya bagi yang hanya melakukan dosa ringan, juga turut mengantar orang kepada pertobatan dan menghasilkan buah pengampunan, bila : (a) Secara tetap dan teratur menghadiri perayaan Sakramen Ekaristi, di mana setiap kali Kristus senantiasa membarui kurban-Nya di kayu salib demi menghapus dosa-dosa dunia. (b) Mempersatukan diri dalam korban Kristus, dalam mana orang juga turut mempersembahkan sesal dan tobatnya, serta niat-niatnya. (c) Menimba kekuatan dari Sabda Tuhan dan dari tubuh dan darah Kristus dan memanfaatkannya untuk hidup rohaninya dan karya-karyanya sebagai orang Katolik.
Tetapi yang terakhir ini, terutama berkomuni, tentu saja bukan bagi orang yang melakukan dosa berat. Karena untuk mereka harus terlebih dahulu mengambil langkah perdamaian dengan Tuhan dan sesama dalam Sakramen Tobat.

……………….”Unsur-unsur Utama Sakramen Tobat dan Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan dan Diketahui” dalam Warta minggu depan….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Penyimpanan dan Penghormatan Ekaristi

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua