Misionaris 3 M

P. Romy, SVD
Misionaris 3 M

MENJADI  misionaris  berarti menjadi KADER 3 M.  Apa lagi  kalau menjadi misionaris di wilayah penuh konflik akibat perang antar negara atau bahkan perang saudara. Kalau ada  orang tertahbis atau awam terbaptis  berani ke daerah konflik  dengan menyandang status  sebagai misionaris maka dialah KADER 3 M  itu.
     Tentu hanya misionaris yang benar-benar merasa terpanggil mau pergi ke tempat yang jauh, ke daerah penuh konflik  untuk merasul. Mereka  ini memiliki modal   MAU (kemauan), MAMPU (kemampuan) dan MAMPUS (siap-siap menjadi korban).  Yah, mereka  adalah kader 3 M  yang diberikan kepercayaan oleh pimpinan serikat atau atasannya untuk “pergi dan jadikan semua bangsa murid-Ku”.
       Salah satu KADER 3 M  itu adalah misionaris SVD Pater Romy,SVD yang sejak tahun 2014  berkarya di Sudan Selatan. Negara termuda di dunia itu terlibat perang saudara  yang mengakibatkan kehidupan masyarakatnya  dalam suasana mencekam. Suasana mencekam itu juga dirasakan oleh  Pater Romy. Tapi berkat iman dan kesetiaan pada panggilan, ia mengatakan siap mampus demi iman. 



Berpastoral di Negara Konflik

PERAYAAN Ekaristi Minggu sore 10 Desember 2017 lalu di Gereja Santo Yoseph Kepundung, umat diperkaya dengan shering pengalaman  dari seorang misionaris Serikat Sabda Allah (SVD/Societas Verbi Divini)  Pater Romy,SVD. Imam Serikat Sabda Allah kelahiran Palasari ini membagikan pengalamannya ketika menjadi misionaris di Sudan Selatan.

      Sudan Selatan  secara resmi bernama Republik Sudan Selatan dan merupakan  sebuah negara di Afrika Timur. Perang Saudara Sudan Selatan adalah konflik antara pasukan pemerintah melawan pasukan oposisi. Pada Desember 2013, terjadi perebutan kekuasaan politik antara Presiden Kiir melawan mantan wakilnya Riek Machar.

        Pertempuran meletus antara Gerakan Pembebasan Sudan Selatan melawan Gerakan Pembebasan Sudan Selatan Perjuangan dan memicu perang saudara. Pertempuran terus berlanjut dan kemudian perjanjian-perjanjian gencatan senjata lainnya disepakati. Tetapi tahun 2016 perang kembali pecah. Diperkirakan 300.000 orang tewas akibat perang ini, termasuk korban jiwa dalam kejahatan-kejahatan perang seperti pembantaian Bentiu 2014.

      Lebih dari 1.000.000 orang menjadi pengungsi internal di Sudan Selatan dan lebih dari 400.000 orang telah melarikan diri ke negara-negara tetangga terutama Kenya, Sudan, dan Uganda. 
     Di tengah situasi perang saudara  itulah Pater Romy,SVD dibenum menjadi misionaris  setelah ditahbiskan pada 2014. Ia ke Sudan Selatan  meskipun tahu bahwa negara itu  sedang dalam konflik.
Minggu 10 Desember 2017 lalu Pater Romy, SVD yang sementara ini diungsikan ke Indonesia menceriterakan berbagai pengalaman mencekam bagaimana mereka bermisi di tanah yang penuh konflik. Ia mengtakan banyak imam, suster dan umat menjadi korban, diculik atau disekap. 

     Pater Romy mengaku dirinya belum pernah diculik, tetapi sudah pernah disekap. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk kembali ke Sudan Selatan. Ia berpesan kepada umat, dimanapun bisa terjadi perang, dalam keluarga, dalam paroki, dalam lingkungan. “ Maka hati-hatilah dengan perang. Mari kita tingkatkan semangat tobat”, demikian pesannya.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua

Menjadi Gembala “Berbau” Domba