Misionaris 3 M
P. Romy, SVD
Misionaris 3 M
MENJADI misionaris berarti menjadi KADER 3 M. Apa lagi kalau menjadi misionaris di wilayah penuh konflik akibat perang antar negara atau bahkan perang saudara. Kalau ada orang tertahbis atau awam terbaptis berani ke daerah konflik dengan menyandang status sebagai misionaris maka dialah KADER 3 M itu.
Tentu hanya misionaris yang benar-benar merasa terpanggil mau pergi ke tempat yang jauh, ke daerah penuh konflik untuk merasul. Mereka ini memiliki modal MAU (kemauan), MAMPU (kemampuan) dan MAMPUS (siap-siap menjadi korban). Yah, mereka adalah kader 3 M yang diberikan kepercayaan oleh pimpinan serikat atau atasannya untuk “pergi dan jadikan semua bangsa murid-Ku”.
Salah satu KADER 3 M itu adalah misionaris SVD Pater Romy,SVD yang sejak tahun 2014 berkarya di Sudan Selatan. Negara termuda di dunia itu terlibat perang saudara yang mengakibatkan kehidupan masyarakatnya dalam suasana mencekam. Suasana mencekam itu juga dirasakan oleh Pater Romy. Tapi berkat iman dan kesetiaan pada panggilan, ia mengatakan siap mampus demi iman.
Misionaris 3 M
Tentu hanya misionaris yang benar-benar merasa terpanggil mau pergi ke tempat yang jauh, ke daerah penuh konflik untuk merasul. Mereka ini memiliki modal MAU (kemauan), MAMPU (kemampuan) dan MAMPUS (siap-siap menjadi korban). Yah, mereka adalah kader 3 M yang diberikan kepercayaan oleh pimpinan serikat atau atasannya untuk “pergi dan jadikan semua bangsa murid-Ku”.
Salah satu KADER 3 M itu adalah misionaris SVD Pater Romy,SVD yang sejak tahun 2014 berkarya di Sudan Selatan. Negara termuda di dunia itu terlibat perang saudara yang mengakibatkan kehidupan masyarakatnya dalam suasana mencekam. Suasana mencekam itu juga dirasakan oleh Pater Romy. Tapi berkat iman dan kesetiaan pada panggilan, ia mengatakan siap mampus demi iman.
Berpastoral di Negara Konflik
PERAYAAN Ekaristi Minggu sore 10 Desember 2017 lalu di Gereja Santo Yoseph Kepundung, umat diperkaya dengan shering pengalaman dari seorang misionaris Serikat Sabda Allah (SVD/Societas Verbi Divini) Pater Romy,SVD. Imam Serikat Sabda Allah kelahiran Palasari ini membagikan pengalamannya ketika menjadi misionaris di Sudan Selatan.
Sudan Selatan secara resmi bernama Republik Sudan Selatan dan merupakan sebuah negara di Afrika Timur. Perang Saudara Sudan Selatan adalah konflik antara pasukan pemerintah melawan pasukan oposisi. Pada Desember 2013, terjadi perebutan kekuasaan politik antara Presiden Kiir melawan mantan wakilnya Riek Machar.
Pertempuran meletus antara Gerakan Pembebasan Sudan Selatan melawan Gerakan Pembebasan Sudan Selatan Perjuangan dan memicu perang saudara. Pertempuran terus berlanjut dan kemudian perjanjian-perjanjian gencatan senjata lainnya disepakati. Tetapi tahun 2016 perang kembali pecah. Diperkirakan 300.000 orang tewas akibat perang ini, termasuk korban jiwa dalam kejahatan-kejahatan perang seperti pembantaian Bentiu 2014.
Lebih dari 1.000.000 orang menjadi pengungsi internal di Sudan Selatan dan lebih dari 400.000 orang telah melarikan diri ke negara-negara tetangga terutama Kenya, Sudan, dan Uganda.
Di tengah situasi perang saudara itulah Pater Romy,SVD dibenum menjadi misionaris setelah ditahbiskan pada 2014. Ia ke Sudan Selatan meskipun tahu bahwa negara itu sedang dalam konflik.
Minggu 10 Desember 2017 lalu Pater Romy, SVD yang sementara ini diungsikan ke Indonesia menceriterakan berbagai pengalaman mencekam bagaimana mereka bermisi di tanah yang penuh konflik. Ia mengtakan banyak imam, suster dan umat menjadi korban, diculik atau disekap.
Pater Romy mengaku dirinya belum pernah diculik, tetapi sudah pernah disekap. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk kembali ke Sudan Selatan. Ia berpesan kepada umat, dimanapun bisa terjadi perang, dalam keluarga, dalam paroki, dalam lingkungan. “ Maka hati-hatilah dengan perang. Mari kita tingkatkan semangat tobat”, demikian pesannya.***
Komentar
Posting Komentar