Berjaga-Jagalah
Berjaga-Jagalah
Engkau menelusup masuk ke relung jiwa
Melintas pada seluruh sumsum belulang
Mengarungi lautan darah pada nadi
Memijakki daging tubuh
Ya Tuhanku lihatlah kami hamba-Mu
Mengapa Engkau masih juga mau melawat
Pada
anak manusia yang lemah ini
Yang mudah mengingkari cinta-Mu?
Kami ini
pecundang dan pengkhianat
Yang selalu dengan setengah hati
Mendengar nasihat-Mu
Tuhan, kami rasakan getar suara-Mu
“Berjaga-jagalah”
Tetapi kami
buta hati
Menutup pintu
kasih-Mu
Membiarkan diri terbang
Ke bukit-bukit gersang
Dan melangkah ke padang tandus
Tawaran dunia menggempur kami
Yang tertawa dalam pesta pora
Membiarkan
jiwa terus terbakar
Dalam kobaran api ketamakan
Firman-Mu
kami biarkan mengalir
Biar tak menyinggah lagi di kemah kami
Karena telah
kami tahtakan diri sendiri
Dalam keangkuhan kemanusiaan
Tapak-tapak jalan yang kami lalui
Penuh onak dan duri
Kerikil-kerikil tajam merobek sukma
Keringat dosa menetes ke debu kering
Ya Tuhanku, adakah Engkau peduli?
Kami yang
semakin jauh dari-Mu
Dalam luka batin yang kian menganga?
Kami tahu
firman-Mu dasyat
Engkau menuntun tidak dengan gada
Juga bukan dengan tongkat besi
Engkau membimbing tidak dengan rotan
Juga bukan dengan cemetih
Tetapi mengapa kami menjauh dari-Mu
Memisahkan cinta-Mu dari tubuh kami
Dan melemparkan kasih-Mu
Ke mulut harimau yang mengaum?
Tuhanku, tambahkan iman kami
Agar firman-Mu menjadi hiasan hati
Ajar kami untuk berjaga-jaga selalu
Menjaga
diri kami
Menjaga keluarga kami
Menjaga negara kami
Menjaga gereja kami
Menjaga martabat kealahan-Mu
Agar Engkau menjadi pujian
Selaksa anak manusia di jagat raya
Sadarkan kami ya Tuhan
Bahwa dosa adalah muntahan peluru
Yang mematikan kami setiap waktu
Dan merusak kehidupan
Mampukan kami untuk berjaga-jaga
Di tengah
kehidupan yang majemuk
Biarkan kami menjadi lilin-lilin kecil
Yang bermanfaat di tengah kegelapan
Pada-Mu kami taruhkan jiwa dan raga.***
Denpasar, 3 Desember 2017
Renungkan
AAP Minggu I
Komentar
Posting Komentar