50 TAHUN IMAMAT P.SUBHAGA (7)



Menapak Jalan Panggilan Di Bukit Ledalero



Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero didirikan pada 20 Mei 1937 berkedudukan di Ledalero Kecamatan Nita, Keuskupan Maumere Kabupaten Sikka Flores Nusa Tenggara Timur. Ledalero mulanya adalah sebuah bukit yang dianggap angker oleh penduduk, dijauhi karena dipandang menjadi hunian roh-roh yang mudah tersinggung. Kini, bukit ini memiliki daya tarik yang mengundang perhatian banyak pihak, pemerintah dan masyarakat Indonesia, dan para anggota SVD dan sahabat-sahabat mereka di berbagai negara.



Pada tanggal 20 Mei 1937 Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero secara resmi atau secara kanonis didirikan. Pada hari itu  P. Wilhem Gier, pemimpin tertinggi Serikat Sabda Allah (SVD) saat itu, mengeluarkan keputusan untuk mendirikan sebuah rumah pendidikan para calon imam, biarawan misionaris SVD di Ledalero. Keputusan itu dibuat berdasarkan izin yang diberikan oleh Vatikan pada tanggal 5 Mei 1937. Keputusan mendirikan seminari tinggi Ledalero dimotivasi terutama oleh Ensiklik Maximum Illud dari Paus Benedictus XV pada tahun 1919. Ensiklik ini diterbitkan setahun setelah berakhirnya Perang Dunia I. Menurut P. Frans Cornelissen yang sangat berjasa dalam pendidikan para calon imam di Nusa Tenggara, aktor intelektual di balik ensiklik ini adalah pemimpin Kongregasi Propaganda Fide saat itu, Kardinal Willem van Rossum, CSSR.



Setelah menyelesaikan pendidikan di Seminari Petrus Canisius Mertoyudan, Servas semakin mantap menjawab panggilan menjadi imam. Ia pun kembali ke Batulumbung untuk berlibur beberapa saat. Setelah permohonan menjadi calon imam Serikat Sabda Allah  diterima  Servas pun pamit pada ibunya  untuk berangkat ke Seminari Santo Paulus Ledalero.



Menurut Theresia Ni Wayan Warti saat  kakaknya  pamit pada ibu tampak  tak  ada sedikit pun kesedihan di wajah ibunya.  Ibu sungguh merestui. Ibu mengatakan, kalau engkau  memang sungguh berniat menjadi imam, jalani  niat itu. Dukungan ibu terhadap panggilan  anaknya  sangat nyata. Dukungan  itu pula yang melapangkan perjalanan  pemuda Servas menuju tanah Flores yang meskipun pernah setahun  di Mataloko tetapi  tetap saja Flores  masih  asing baginya. Servas tiba di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere pada tahun 1961.

Menurut sejarah Seminari Tinggi Ledalero yang ditulis dalam rangka 75 Tahun Seminari Ledalero, saat itu rektor Seminari Tinggi Ledalero dipimpin oleh P. Niko Apeldorn, SVD yang menjabat dari tahun 1960-1963. Pada tahun 1962 antara Juni sampai Juli 1961 lima pemuda Bali tiba di Ledalero. Mereka akan menjalani tahun novisiat di Seminari SVD St. Paulus Ledalero. Untuk pertama kalinya Seminari Tinggi Ledalero menerima calon anggota SVD dari Bali. Pada 15 Agustus 1961 di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero dilaksanakan upacara meriah menyambut 23 novis. Lima di antaranya adalah putra Bali. Mereka menjadi putra asli Bali pertama yang datang ke Flores untuk memulai jalan hidup mereka menapaki panggilan hidup sebagai biarawan SVD.



Dalam catatan sejarah Seminari Ledalero yang ditulis dalam rangka 75 Tahun Seminari Ledalero, diketahui bahwa pada masa kepemimpinan rektor P. Joseph Boumans, secara internal komunitas SVD Ledalero ditandai oleh peralihan. Kehadiran semakin banyak konfrater pribumi dan semangat keterbukaan yang dihembuskan oleh Konsili Vatikan II memunculkan banyak perbedaan pendapat. Pater Servas yang waktu itu masih frater tentu merekam iklim perbedaan pendapat itu.

Menurut buku induk mahasiswa STFK St. Paulus Ledalero, angkatan 1963 lima putra Bali yang mengikuti kuliah filsafat adalah Servatius I Nyoman Ronsong, Jan I Wayan Tantra, Paulus I Made Tirtha, Alexius I Wayan Widiana dan Fidelis I Made Pondal Nirdjaja. Pater Servas menjadi penghuni Seminari Tinggi Ledalero mulai 1961 sampai 1969. Ia mengalami beberapa rektor yang memimpin Seminari SVD terbesar di Indonesia bahkan dunia. Pada 1963 rektor Seminari Ledalero diserahkan kepada Pater Joseph Boumans SVD . Dia juga dikenal sebagai pendiri Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Pater Servas juga mengalami kunjungan kerja Jenderal Ahmad Yani ke Ledalero pada tahun 1965. Kunjungan ini konon sangat mengesankan tentu termasuk Pater Servas. Setelah kunjungan itu, beberapa hari kemudian Jenderal Ahmad Yani dibunuh dan menjadi salah satu korban Petistiwa G 30 S /PKI. Pater Servas juga tentu mengalami peristiwa pasca G30 S /PKI dimana Pater Boumans sebagai rektor juga mendapat banyak sekali tekanan.



Para Frater Filosofin  yakni mereka yang belajar filsafat,  baik frater praja maupun frater SVD seangkatan dengan Pater Servatius pada tahun 1963 adalah: Fr. Simon Asten, Fr. Dominikus Balo, Fr. Bosco Beding, Fr. Agustinus Betmoi, Fr. Julius Bere, Fr. Eusebius Boleng, Fr. Theodor Demon Hajon, Fr. Mozes Hodehale Beding, Fr. Johanes Lobi, Fr. Philipus Loi Riwu, Fr. Paulus Meze Wolo, Fr. Marsel Miarsa, Fr. Edmundus Nahak, Fr. Jakobus Nahak, Fr. Nikolaus Ndale, Fr. Lukas Nong Baba, Fr. Cherubim Pareira, Fr. Alexius Sena, Fr. Simon Simpau, Fr. Jan I Wayan Tantra, Fr. Pulus I Made Tirtha, Fr. Joseph Uran (meninggal 17-11-1965) Fr. Mikael Wangku, dan Fr. Alexius I Wayan Widjana.



Pada tahun 1962 dirayakan 25 tahun Seminari Tinggi Ledalero. Waktu itu Fr. Servas sedang menjalani tahun kedua novisiat SVD. Karena frater-frater Novisiat SVD dan frater-frater skolastika  atau dikenal dengan istilah filosofin dan teologan masih bergabung di bukit Ledalero maka Fr. Servas termasuk yang mengalami pesta perak Seminari Ledalero. Fr. Servas juga mengalami kedatangan para dosen baru pada 7 Desember 1963. Mereka adalah Pater Lambert Paji atau yang dikenal juga dengan nama P.Lambert Lame Uran yang mengajar sejarah serikat dan sejarah hidup membiara, pater Th. Verhoeven yang mengajar bahasa latin, yunani dan patrologi dan Pater Clemens Pareira yang mengajar filsafat.

Setelah mereka menjalani novisiat selama tiga tahun, mereka diterima belajar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik St. Paulus Ledalero. Servas tercatat dalam buku induk tahun 1963 dengan nama asli yang ditulis mulai nama Bali yakni Ronsong Servatius I Nyoman dengan nomor daftar induk 36. Bersama Pater Servas, tercatat juga frater praja asli Bali yang tinggal di Seminari St. Petrus Ritapiret yakni Fr. Marsel Miarsa.



Pater Servas pada saat itu juga adalah frater yang mengalami peralihan kepemimpinan rektor Seminari Ledalero dari Misionaris ke tangan imam SVD pribumi. Jabatan rektor diserahkan kepada imam pribumi yakni P. Stefanus Ozias Fernandez, SVD yang berasal dari Sikka, tempat dimana agama katolik tumbuh pertama kali di Kabupaten Sikka. Ia adalah doctor filsafat. Pater Servas tentu mengalami peristiwa 19 Maret 1966 dimana untuk pertama kalinya dipersembahkan misa konselebrasi untuk merayakan pengangkatan P. Ozias Fernandez sebagai rektor pribumi pertama. Pater Ozias Fernandez dipercayakan sebagai rektor sedangkan P. Dr. Jan Riberu diangkat sebagai prefek dan P. Vitalis Djebarus menjadi magister novis. Pater Servas tentu mengalami semua peristiwa peralihan kepemimpinan dari misionaris ke tangan imam pribumi.



Pater Ozias Fernandez menjadi rektor sampai tahun 1969. Sampai dengan tahun 1969 itu mahasiwa yang belajar filsafat di Seminari Ledalero mendapat ijasah sarjana muda namun sifatnya lokal atau belum diakui pemerintah. Atas perjuangan Pater Ozias dan para pimpinan gereja pada 15 April 1969 diadakan sidang panitia seminari yang dihadiri oleh uskup se-Nusa Tenggara (Bali, NTB dan NTT) serta para Regional SVD seluruh Indonesia. Yang dibahas seputar status Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Disepakati untuk diusahakan Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero menjadi Sekolah Tinggi Filsafat Katolik St. Paulus Ledalero. Jadi Pater Servas adalah alumni terakhir Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Menurut Kepala Sekretariat STFK St. Paulus Ledalero P. Hendrikus Maku, SVD tahun 1969 dimulai era baru STFK Ledalero, sehingga angkatan pertama STFK St. Paulus Ledalero mulai lulusan angkatan masuk tahun 1969.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Penyimpanan dan Penghormatan Ekaristi

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua