50 TAHUN IMAMAT P.SUBHAGA (7)
Menapak Jalan Panggilan Di Bukit Ledalero
Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero didirikan pada 20 Mei
1937 berkedudukan di Ledalero Kecamatan Nita, Keuskupan Maumere Kabupaten Sikka
Flores Nusa Tenggara Timur. Ledalero mulanya adalah sebuah bukit yang dianggap
angker oleh penduduk, dijauhi karena dipandang menjadi hunian roh-roh yang
mudah tersinggung. Kini, bukit ini memiliki daya tarik yang mengundang
perhatian banyak pihak, pemerintah dan masyarakat Indonesia, dan para anggota
SVD dan sahabat-sahabat mereka di berbagai negara.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Seminari Petrus
Canisius Mertoyudan, Servas semakin mantap menjawab panggilan menjadi imam. Ia
pun kembali ke Batulumbung untuk berlibur beberapa saat. Setelah permohonan
menjadi calon imam Serikat Sabda Allah
diterima Servas pun pamit pada
ibunya untuk berangkat ke Seminari Santo
Paulus Ledalero.
Menurut Theresia Ni Wayan Warti saat kakaknya
pamit pada ibu tampak tak ada sedikit pun kesedihan di wajah
ibunya. Ibu sungguh merestui. Ibu
mengatakan, kalau engkau memang sungguh
berniat menjadi imam, jalani niat itu.
Dukungan ibu terhadap panggilan
anaknya sangat nyata.
Dukungan itu pula yang melapangkan
perjalanan pemuda Servas menuju tanah
Flores yang meskipun pernah setahun di
Mataloko tetapi tetap saja Flores masih
asing baginya. Servas tiba di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero
Maumere pada tahun 1961.
Menurut sejarah Seminari Tinggi Ledalero yang ditulis
dalam rangka 75 Tahun Seminari Ledalero, saat itu rektor Seminari Tinggi
Ledalero dipimpin oleh P. Niko Apeldorn, SVD yang menjabat dari tahun
1960-1963. Pada tahun 1962 antara Juni sampai Juli 1961 lima pemuda Bali tiba
di Ledalero. Mereka akan menjalani tahun novisiat di Seminari SVD St. Paulus
Ledalero. Untuk pertama kalinya Seminari Tinggi Ledalero menerima calon anggota
SVD dari Bali. Pada 15 Agustus 1961 di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero
dilaksanakan upacara meriah menyambut 23 novis. Lima di antaranya adalah putra
Bali. Mereka menjadi putra asli Bali pertama yang datang ke Flores untuk
memulai jalan hidup mereka menapaki panggilan hidup sebagai biarawan SVD.
Dalam catatan sejarah Seminari Ledalero yang ditulis
dalam rangka 75 Tahun Seminari Ledalero, diketahui bahwa pada masa kepemimpinan
rektor P. Joseph Boumans, secara internal komunitas SVD Ledalero ditandai oleh peralihan.
Kehadiran semakin banyak konfrater pribumi dan semangat keterbukaan yang
dihembuskan oleh Konsili Vatikan II memunculkan banyak perbedaan pendapat.
Pater Servas yang waktu itu masih frater tentu merekam iklim perbedaan pendapat
itu.
Menurut buku induk mahasiswa STFK St. Paulus Ledalero,
angkatan 1963 lima putra Bali yang mengikuti kuliah filsafat adalah Servatius I
Nyoman Ronsong, Jan I Wayan Tantra, Paulus I Made Tirtha, Alexius I Wayan
Widiana dan Fidelis I Made Pondal Nirdjaja. Pater Servas menjadi penghuni
Seminari Tinggi Ledalero mulai 1961 sampai 1969. Ia mengalami beberapa rektor
yang memimpin Seminari SVD terbesar di Indonesia bahkan dunia. Pada 1963 rektor
Seminari Ledalero diserahkan kepada Pater Joseph Boumans SVD . Dia juga dikenal
sebagai pendiri Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Pater
Servas juga mengalami kunjungan kerja Jenderal Ahmad Yani ke Ledalero pada
tahun 1965. Kunjungan ini konon sangat mengesankan tentu termasuk Pater Servas.
Setelah kunjungan itu, beberapa hari kemudian Jenderal Ahmad Yani dibunuh dan
menjadi salah satu korban Petistiwa G 30 S /PKI. Pater Servas juga tentu
mengalami peristiwa pasca G30 S /PKI dimana Pater Boumans sebagai rektor juga
mendapat banyak sekali tekanan.
Para Frater Filosofin
yakni mereka yang belajar filsafat,
baik frater praja maupun frater SVD seangkatan dengan Pater Servatius
pada tahun 1963 adalah: Fr. Simon Asten, Fr. Dominikus Balo, Fr. Bosco Beding,
Fr. Agustinus Betmoi, Fr. Julius Bere, Fr. Eusebius Boleng, Fr. Theodor Demon
Hajon, Fr. Mozes Hodehale Beding, Fr. Johanes Lobi, Fr. Philipus Loi Riwu, Fr.
Paulus Meze Wolo, Fr. Marsel Miarsa, Fr. Edmundus Nahak, Fr. Jakobus Nahak, Fr.
Nikolaus Ndale, Fr. Lukas Nong Baba, Fr. Cherubim Pareira, Fr. Alexius Sena,
Fr. Simon Simpau, Fr. Jan I Wayan Tantra, Fr. Pulus I Made Tirtha, Fr. Joseph
Uran (meninggal 17-11-1965) Fr. Mikael Wangku, dan Fr. Alexius I Wayan Widjana.
Pada tahun 1962 dirayakan 25 tahun Seminari Tinggi
Ledalero. Waktu itu Fr. Servas sedang menjalani tahun kedua novisiat SVD.
Karena frater-frater Novisiat SVD dan frater-frater skolastika atau dikenal dengan istilah filosofin dan
teologan masih bergabung di bukit Ledalero maka Fr. Servas termasuk yang
mengalami pesta perak Seminari Ledalero. Fr. Servas juga mengalami kedatangan
para dosen baru pada 7 Desember 1963. Mereka adalah Pater Lambert Paji atau
yang dikenal juga dengan nama P.Lambert Lame Uran yang mengajar sejarah serikat
dan sejarah hidup membiara, pater Th. Verhoeven yang mengajar bahasa latin,
yunani dan patrologi dan Pater Clemens Pareira yang mengajar filsafat.
Setelah mereka menjalani novisiat selama tiga tahun,
mereka diterima belajar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik St. Paulus
Ledalero. Servas tercatat dalam buku induk tahun 1963 dengan nama asli yang
ditulis mulai nama Bali yakni Ronsong Servatius I Nyoman dengan nomor daftar
induk 36. Bersama Pater Servas, tercatat juga frater praja asli Bali yang
tinggal di Seminari St. Petrus Ritapiret yakni Fr. Marsel Miarsa.
Pater Servas pada saat itu juga adalah frater yang
mengalami peralihan kepemimpinan rektor Seminari Ledalero dari Misionaris ke
tangan imam SVD pribumi. Jabatan rektor diserahkan kepada imam pribumi yakni P.
Stefanus Ozias Fernandez, SVD yang berasal dari Sikka, tempat dimana agama
katolik tumbuh pertama kali di Kabupaten Sikka. Ia adalah doctor filsafat.
Pater Servas tentu mengalami peristiwa 19 Maret 1966 dimana untuk pertama
kalinya dipersembahkan misa konselebrasi untuk merayakan pengangkatan P. Ozias
Fernandez sebagai rektor pribumi pertama. Pater Ozias Fernandez dipercayakan
sebagai rektor sedangkan P. Dr. Jan Riberu diangkat sebagai prefek dan P.
Vitalis Djebarus menjadi magister novis. Pater Servas tentu mengalami semua
peristiwa peralihan kepemimpinan dari misionaris ke tangan imam pribumi.
Pater Ozias Fernandez menjadi rektor sampai tahun 1969.
Sampai dengan tahun 1969 itu mahasiwa yang belajar filsafat di Seminari
Ledalero mendapat ijasah sarjana muda namun sifatnya lokal atau belum diakui
pemerintah. Atas perjuangan Pater Ozias dan para pimpinan gereja pada 15 April
1969 diadakan sidang panitia seminari yang dihadiri oleh uskup se-Nusa Tenggara
(Bali, NTB dan NTT) serta para Regional SVD seluruh Indonesia. Yang dibahas
seputar status Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Disepakati untuk diusahakan
Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero menjadi Sekolah Tinggi Filsafat Katolik St.
Paulus Ledalero. Jadi Pater Servas adalah alumni terakhir Seminari Tinggi St.
Paulus Ledalero. Menurut Kepala Sekretariat STFK St. Paulus Ledalero P.
Hendrikus Maku, SVD tahun 1969 dimulai era baru STFK Ledalero, sehingga
angkatan pertama STFK St. Paulus Ledalero mulai lulusan angkatan masuk tahun
1969.
Komentar
Posting Komentar