50 TAHUN IMAMAT P.SUBHAGA (10)


Karya  Pastoral Yang Menumbuhkan

Saya menjadi Pastor Paroki St. Yoseph Denpasar sejak 20 Mei 1976. Keadaan gereja secara fisik rusak berat, pastoran juga  mengalami kebocoran. Persatuan antara umat juga kurang kompak. Lalu saya membentuk Dewan Paroki. Yang ikut dalam Dewan Paroki  antara lain bapak Rames Iswara sebagai ketua, bapak  Sarwoto dan  bapak Yusuf Sukeri. Dewan Paroki itu untuk konsolidasi. Waktu itu sector-sektor juga beberapa ada yang  tidak berfungsi  seperti Sektor St. Agustinus mati sama sekali. Tetapi masih ada yang bergerak seperti Sektor Renya Rosari, Maria Asumpta, Maria Fatima yang kini masuk Paroki Katedral.



Sebelum ada paroki di tempat lain di wilayah Denpasar dan sekitarnya, wilayah pelayanan paroki ini  cukup luas antara lain ke Tuban, Tanjung Benoa sampai Gianyar. Di Gianyar kita ibadat di Tangsi tentara kemudian dilarang. Lalu mengontrak dua rumah, satu untuk tempat ibadat sekaligus pastoran dan satunya lagi untukk TK. Setelah itu baru membeli tanah di lokasi Gereja sekarang ini. Sebelum Pater Moris tiba di Gianyar dan Pater Girsong tiba di Karangasem saya  yang memberikan pelayanan di Gianyar, Bangli, Klungkung sampai Karangasem. Khusus wilayah Bangli, Klungkung dan Karangasem pelayanan dari rumah ke rumah.



Kesulitan utama yang dirasakan adalah  kurangnya tenaga imam. Di Denpasar belum banyak tenaga imam saat itu. Karena luasnya wilayah dan untuk memudahkan koordinasi kita membagi sector-sektor dalam beberapa coordinator wilayah. Wilayah selatan koordinatornya bapak Wayan Griya membawahi sector  Maria Fatima, Maria Asumpta dan Maria Immaculata. Wilayah Timur koordinatornya  bapak Sugiri membawahi sector Renya Rosari, Hati Maria Tak Bernoda, St. Yoseph, Sta. Bernadette, Sta. Theresia. Wilayah Barat  koordinatornya bapak  Yandhi membawahi Sektor  Paulus Ronchali,  St. Petrus, St. Agustinus dan St. Yohanes Pembaptis. Di Tuban  menjadi Sektor St. Fransiskus Xaverius. Ketika Pater Smith melayani  di Tuban  menjadi Stasi. Gianyar, Klungkung, Bangli dan Karangasem masih berstatus  gereja diaspora.



Kelompok-kelompok kategorial di Paroki Santo Yoseph antara lain Pemuda Katolik, PMKRI, WKRI. Lalu ada Legio Maria sudah lama sebelum  saya di Paroki Santo Yoseph. Sekolah Minggu berjalan sejak tahun 1982. Pada waktu itu semuanya sangat mendukung karya gereja  sesuai dengan perannya masing-masing.



Pater Servas juga terlibat dalam rencana pembangunan Katedral Denpasar. Pembelian tanah untuk katedral sudah sejak  masa kepemimpinan Mgr. Paulus Sani Kleden. Bersama Dewan Paroki St. Yoseph  saat itu bapak Frans Diaz dan bapak Sukijo  membeli tanah  di Jalan Sudirman, sebelah selatan Kampus Unud. Di masa kepemimpinan Uskup  Antonius Hubertus Tijssen,SVD tahun 1973-1982 dan Mgr. Vitalis Djebarus SVD  tahun 1981 – 1998 P.S.Subhaga,SVD menjabat sebagai Vikaris  Jenderal (Vikjen) Keuskupan Denpasar. Ada rencana supaya katedral dibangun di atas tanah gedung paroki eks Komsos yang masih satu kompleks dengan TK St. Yoseph sekarang tetapi karena tanahnya terlalu kecil maka ditunda. 



Tanah di Jalan Sudirman kemudian ditukar guling dengan alasan untuk pengembangan kampus Unud. Maka  didapatlah tanah di Renon tetapi bukan  di lokasi katedral sekarang.  Tanah  yang direncanakan untuk  bangun katedral adalah tanah sawah dan banyak pohon pisang. Saat dibuka jalan pemerintah melarang dengan alasan tanah kenal LC sehingga tanah dikapling menjadi tiga. Jarak antara  satu  dan lainnya berjauhan. Lalu saya  ke Kantor Pertanahan bersama bapak Johanes Supardi  yang bekerja di kantor itu meminta supaya jangan dikapling tiga karena tidak bisa membangun. Namun tetap tidak bisa. Untung ada seorang muslim yang memiliki tanah di lokasi katedral sekarang yang bersedia ditukar dengan dua kaplingan tanah. Dari orang itu mendapat 53 are untuk pembangunan katedral dan 15 are untuk pembangunan keuskupan. Tanah sekarang dibangun pastorang  sedangkan keuskupan dibangun di Jalan Tukad Balian  yang menurut rencana untuk membangun rumah sakit.



Pembangunan Gereja Katedral  menghadapi tantangan. Di awal pembangunan  keluar SK pemerintah yang menghentikan pembangunan  dan meminta  panitia agar pindah ke Padang Galak. Kalau pindah ke Padang Galak, IMB langsung diterbitkan.  Namun saat Korem dipimpin  bapak Agus Wirahadikusumah, ia mendukung pembangunan katedral jalan terus. Di masa Gubernur Dewa Made Beratha  mengeluarkan surat pernyataan  bahwa gereja katedral adalah asset Pemda karena itu jangan diganggu gugat pembangunannya.



Sebelum ada Pusat Pastoral Keuskupan, seluruh kegiatan  komisi-komisi di Gedung Komsos  yang merupakan gedung paroki St. Yoseph. Beberapa ruangan dipakai untuk kegiatan komisi kitab suci, liturgy, katekese dan komisi komunikasi social. Komsos lebih dikenal karena  ada sanggar wacana yang melayani siaran TVRI, radio dan  berfungsi sebagai studio rekaman. Dibangun aula untuk kegiatan latihan seni, sandiwara, vocal group, gitar, angklung.



Pater Servatius menggagas pembangunan  gereja  di sekitar Denpasar pada empat  penjuru mata angina. Konsep itu bernama Nyatur Desa. PendiriaN GEREJA DI Denpasar seharusnya mengikuti  nyatur desa. Secara budaya ada pusat yang secara historis adalah gereja di Kepundung yang dulu berfungsi sebagai katedral. Lalu ada di timur, barat, utara dan selatan, maka  di Denpasar sekurang-kurangnya ada lima paroki. Sampai sekarang realisasinya, di selatan ada katedral, di barat ada St. Petrus Monang Maning. Di utara belum ada,  rencananya di Penatih. Di timur  dikonsepkan  di Batubulan atau Padang Galak, belum direalisasikan. Gereja YGYB Ubung letaknya di barat. Selain konsep nyatur desa di Denpasar, Mgr. Tijssen memutuskan  supaya gereja katolik hadir di setiap kabupatenm di Bali.



Pater Servas juga melakukan renovasi  Gereja St,. Yoseph Kepundung. Renovasi pertama tahun 1978, luasnya seperti sekarang tetapi belum ada garasi. Patung Bunda Maria di depan belum ada.  Renovasi kedua tahun 1980-an  dan renovasi ketiga tahun 1990-an. Renovasi ketiga ini pemborongnya seorang muslim dari  Yogyakarta bernama  bapak Haryanto yang dibantu bapak Dedy Lianggono. Konsep gereja St. Yoseph menyatu dengan alam, ada angina yang masuk, ada air, ada ikan dan pohon-pohon.

Tentang pembangunan Gereja Yesus Gembala Yang Baik Ubung, Pater Servas katakan, gereja di Ubung itu jelas adalah  Griya Bhakti Pastoral Paroki St. Yoseph Denpasar. Di Griya Bhakti Pastoral itu kita jadikan  pusat pembinaan umat mulai anak-anak, kaum muda dan orang dewasa. Juga untuk kursus kitab suci, kegiatan pastoral dan secretariat. Bahwa di kemudian hari menjadi paroki sendiri dan di Jalan Kepundung juga menjadi paroki sendiri, itu soal nanti.



Pembangunan Gereja Yesus Gembala Yang Baik Ubung menganut konsep kita naik ke gunung Tuhan (surge). Di sana kita akan mendapatkan air hidup, Firman Tuhan dan Roh Hidup. Air hidup simbolnya adalah kolam di depan gereja. Firman hidup dibangun sumur Yakob. Untuk  masuk ke ruang umat ada 12 tangga sebagai symbol 12 rasul. Di candi bentar ada lima tangga menunjukkan negara Pancasila. Memasuki kori (pintu) agung ada tiga tangga yang berarti mengalami kasih Allah Tritunggal. Dari kori agung  kita masuk ada  12 tangga lagi yang berarti 12 suku Israel. Ruang umat dibuat sengaja dibuat melingkar supaya umat saling berhadapan sebagai symbol kurbnan dan perjamuan. Altar sebagai meja perjamuan juga tempat  kurban, mewartakan Yesus yang mati dan bangkit, lalu Roh Kudus turun untuk memberikan kehidupan melalui Hosti sebagai Roti Hidup. Di sana juga Maria hadir.



Patung Pieta itu hendak menegaskan bahwa Maria hadir dalam seluruh karya penyelamatan. Kalau ingin menghormati Maria sebagai bagian dari seluruh karya penyelamatan Yesus maka tempatnya di sana. Pada saat Yesus mati di salib, lalu diturunkan, di sana Maria juga hadir.



Yang menjadi arsitek Gereja YGYB Ubung  awalnya ada 6 orang  yang memberikan gambar. Lalu kita cocokkan denan style Bali dan konsep tadi. Kemdian kita memilih gambar tata ruang yang dibuat Elly dan Kiam dari Jakarta. Waktu Mgr. Benyamin Bria diajak ke sana, beliau setuju dan serahkan kepada saya untuk model gerejanya.



Tentang ijin pembangunan, orang-orang kita mempunyai relasi yang baik dengan Desa Adat seperti bapak Pit Puriatma. Juga komunikasi dengan pemerintah kota. Desa adat sangat mendukung sebagai dampak positif hubungan baik itu.



Gereja YGYB Ubung  hadir sebagai desa kala patra. Selain itu kita harus bisa berbuat sesuatu untuk kita persembahkan sebagai semangat misionaris. Dan  yang terpenting  gereja itu betul-betul menyatu dengan Bali baik seni, budaya maupun adatnya. Di sisi yang lain juga sebagai warisan untuk umat bahwa ini yang bisa kita buat , yang patut kita syukuri. Semua ini terjadi tidak lepas dari rahasia dan kehendak Allah sendiri.



Di usia tidak muda lagi, Pater Servas  masih terus membangun. Ia membangun Grya Bhakti Pastoral  yang saat ini secara fisik  sudah rampung 80 persen. Benar pemikiran Pater Servas, Griya Bhakti Pastyoral juga  sebagai warisan untuk umat bahwa ini yang bisa kita buat , yang patut kita syukuri. Semua ini terjadi tidak lepas dari rahasia dan kehendak Allah sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paroki St. Antonius Padua Ampenan

Penyimpanan dan Penghormatan Ekaristi

Paroki Maria Bunda segala Bangsa Nusa Dua