Di Hikmat-Mu Kami Taubat
Pada perjalanan waktu
Tanah basah licin
Jiwa jatuh tersungkur
Pada liang-liang bumi
Berselimut kafan hitam
Berseru: Oh kemalangan!
Bulan menangis pedih
Matahari memandang perih
Bintang-bintang hilang senyum
Saat anak bumi berkhianat
Bercinta dengan darah kekejaman
Membakar kisah cinta hingga punah
Pada perjalanan ziarah
Tanah terjal menyapu kerapuhan
Tubuh bermain di pesta kedengkian
Bertarung pada liang-liang perseteruan
Membiarkan api duka nestapa
Membakar keagungan persaudaraan
Oh Dewa di langit kudus
Turunkan embun Roh atas wajah bumi
Agar bersahaja dalam persaudaraan
Dan membiarkan litani metanoia
Mengalir ke muara penuh kasih
Agar dalam hikmat-Mu ada tobat sempurna
Hempasan gelombang dengki makin liar
Suara panah saling menusuk jiwa raga
Darah di tanah anak bangsa
Sudah jadi minuman memabukkan
Selera merajut asmara di tanah warisan
Semakin pudar meski telah ditancap perjanjian
Untuk setia selamanya tanpa takaran
Tuhan berdiri di antara kita
Menikmati aroma keanekaragaman
Ia tak pernah merasa berdosa
Ketika menyapa hamba-Nya
Dalam banyak ungkapan kata
Membiarkan diri-Nya
Menjadi hikmat bagi semua orang
Seharusnya ujung tahun ini
Bukan musim mengaum geram
Melepaskan panah pertikaian
Dengan luapan asap dendam
Sambil berteriak: Ayo perang!
Seharusnya bukan waktunya
Untuk mengasah lidah
Melahirkan kata-kata laknat
Menulis jejak hari demi hari
Dengan darah sesama hamba
Seharusnya mata batin
Telah menemukan jalan pembebasan
Untuk melangkah bersama
Mendirikan mesbah persembahan
Tempat menahtakan damai sejati
Seharusnya saat ini paling indah
Untuk merekatkan mata cinta
Menjadi kekuatan yang tak layu
Membiarkan Sang Maha Keadaban
Dan pada hikmat-Nya mengalir taubat sempurna
Bulan taubat telah dilalui
Telah tiba di ujung Desember
Jiwa pun sujud di kaki salib
Menimba butir hujan rahmat
Tercurah dari gerbang langit
Yang telah terbuka seluas buana
Tangan-Mu yang kuat perkasa
Terentang siap merangkul
Luka-luka jiwa tersembuhkan
Oleh belaskasih tiada tara
Suara-Mu menabur harapan
Butir-butir tobat Engkau tanamkan
Bulan metanoia telah terlakoni
Meski tak sempurna bebaskan jiwa
Dari ikatan hawa nafsu duniawi
Tapi Engkau mahatahu tentang isi hati
Yang berjuang mendekat ke kemah-Mu
Untuk berdiam dalam kasih-Mu
Tuhanku, ini sujud pertobatan
Untuk sembuhkan segala luka
Ini taubat melilit jiwa raga
Agar hujan rahmat tercurahkan
Pada-Mu kami ikat tali iman
Karena Engkau hikmat bagi semua anak bangsa
Denpasar, Natal 2018
Tanah basah licin
Jiwa jatuh tersungkur
Pada liang-liang bumi
Berselimut kafan hitam
Berseru: Oh kemalangan!
Bulan menangis pedih
Matahari memandang perih
Bintang-bintang hilang senyum
Saat anak bumi berkhianat
Bercinta dengan darah kekejaman
Membakar kisah cinta hingga punah
Pada perjalanan ziarah
Tanah terjal menyapu kerapuhan
Tubuh bermain di pesta kedengkian
Bertarung pada liang-liang perseteruan
Membiarkan api duka nestapa
Membakar keagungan persaudaraan
Oh Dewa di langit kudus
Turunkan embun Roh atas wajah bumi
Agar bersahaja dalam persaudaraan
Dan membiarkan litani metanoia
Mengalir ke muara penuh kasih
Agar dalam hikmat-Mu ada tobat sempurna
Hempasan gelombang dengki makin liar
Suara panah saling menusuk jiwa raga
Darah di tanah anak bangsa
Sudah jadi minuman memabukkan
Selera merajut asmara di tanah warisan
Semakin pudar meski telah ditancap perjanjian
Untuk setia selamanya tanpa takaran
Tuhan berdiri di antara kita
Menikmati aroma keanekaragaman
Ia tak pernah merasa berdosa
Ketika menyapa hamba-Nya
Dalam banyak ungkapan kata
Membiarkan diri-Nya
Menjadi hikmat bagi semua orang
Seharusnya ujung tahun ini
Bukan musim mengaum geram
Melepaskan panah pertikaian
Dengan luapan asap dendam
Sambil berteriak: Ayo perang!
Seharusnya bukan waktunya
Untuk mengasah lidah
Melahirkan kata-kata laknat
Menulis jejak hari demi hari
Dengan darah sesama hamba
Seharusnya mata batin
Telah menemukan jalan pembebasan
Untuk melangkah bersama
Mendirikan mesbah persembahan
Tempat menahtakan damai sejati
Seharusnya saat ini paling indah
Untuk merekatkan mata cinta
Menjadi kekuatan yang tak layu
Membiarkan Sang Maha Keadaban
Dan pada hikmat-Nya mengalir taubat sempurna
Bulan taubat telah dilalui
Telah tiba di ujung Desember
Jiwa pun sujud di kaki salib
Menimba butir hujan rahmat
Tercurah dari gerbang langit
Yang telah terbuka seluas buana
Tangan-Mu yang kuat perkasa
Terentang siap merangkul
Luka-luka jiwa tersembuhkan
Oleh belaskasih tiada tara
Suara-Mu menabur harapan
Butir-butir tobat Engkau tanamkan
Bulan metanoia telah terlakoni
Meski tak sempurna bebaskan jiwa
Dari ikatan hawa nafsu duniawi
Tapi Engkau mahatahu tentang isi hati
Yang berjuang mendekat ke kemah-Mu
Untuk berdiam dalam kasih-Mu
Tuhanku, ini sujud pertobatan
Untuk sembuhkan segala luka
Ini taubat melilit jiwa raga
Agar hujan rahmat tercurahkan
Pada-Mu kami ikat tali iman
Karena Engkau hikmat bagi semua anak bangsa
Denpasar, Natal 2018
Komentar
Posting Komentar